
“Jadi siapa tadi?”
Wine melirik kearah mas Akhtar yang tersenyum di balik kemudi. Jika ada pria yang mendekatinya maka mas Akhtar akan menjadi orang paling heboh di keluarga ibu. Pacar mbak Alin ini memang biang rusuhnya.
“ Siapa?” Wine memilih untuk pura-pura tak tahu.
“ Yang tadi?”
“ Yang mana?”
“Yang barusan”
Saat lampu lalu lintas berwana merah, mas Akhtar kini menatapnya dengan senyuman jahilnya. Kepribadian dirinya dan Akhtar memang tak kalah jauh.
“ Itu anak buah baba”
“ Yakali mas ngga tahu kalau udah jelas bisa lihat seragam yang dipake”
Wine menahan senyumnya “Ya kalau udah tahu ngapain nanya? Udah hijau noh, jalan”
Seharusnya dirrnya tak perlu malu untuk menjelaskan semua hal tentang Arka pada Akhtar. Pria ini pasti akan mendengarkannya dengan seksama, mungkin sesekali memberi masukan meski Wine tahu sebelum hal itu terjadi Wine pasti akan di goda habis-habisan oleh pacar dari mbak Alin ini.
Merasa sejak tadi berulang kali dilirik oleh Akhtar lengkap dengan cengiran yang tak bisa terbaca. Wine kini memposisikan tubuhnya agar menghadap langsung kearah Akhtar yang kini malah tergelak tawa melihatnya.
“ Ketawa aja terus mas sampe puas. Ngapain ngeliatin Wine mulu?”
“ Siapa yang ngeliatin kamu?”
Wine menghela napasnya lelah. Setelah keluar dari rumah sakit dan terbebas dari aksi bertemu malaikat Izrail. Wine malah menjadi bahan tawaan Akhtar.
“ Mas barusan ngeliatin aku. Ngelirik-ngelirik ngga jelas”
“ Kapan?”
Dari sini Wine bisa dengan jelas melihat Akhtar yang menahan tawanya. Sepertinya pacar mbak Alin ini tengah balas dendam dengannya barusan.
“ Mas mau nanya siapa tadi kan? Dia namanya bang Arka, umurnya 27 tahun, dia wakilnya baba, dia yang bantu aku keluar dari kantor polisi, dia juga yang bantu aku saat ada masalah sama pak Kais. Mas mau nanya apa lagi?”
“ Kamu suka sama dia?”
Wine mengerjapkan matanya berulang kali. Kaget dengan pertanyaan yang baru saja terlontar begitu mudah dari mulut mas Akhtar barusan. Jatuh cinta? Jelas. Wine menyukai Arka sejak pertama kali bertemu. Namun jatuh cinta belum tentu harus bersama bukan?.
“ Ngga tahu”
“Ngga tahu?”
__ADS_1
Seolah ini adalah pembicaraan yang amat serius. Mas Akhtar memilih untuk menepikan mobilnya kemudian duduk sambil menatap Wine lekat.
“ Iya ngga tahu. Mas tahu kan, nikah sama angkatan udara itu adalah hal yang paling Wine hindari. Big no untuk nikah sama angkatan udara”
“Jadi dia udah ngajakin kamu nikah?”
Wine memukul mulutnya sendiri. Sejak kemarin sebisa mungkin Wine tak menceritakan apapun mengenai ajakan bang Arka tempo hari. Dan hari ini, dengan mulutnya sendiri Wine malah keceplosan membukanya didepan mas Akhtar. Ya mas Akhtar yang jelas setelah ini akan menyebar ke mbak Alin.
“ Ah ternyata ini yang buat kamu masih pasang seatbelt padahal udah niat banget dari rumah buat nabrakin mobil?”
Tanpa. perlu ditanya ulang, Wine membenarkan semua ucapan Akhtar. Sebelum melajukan mobilnya semalam Wine bahkan masih sempat untuk berpikir untuk menggunakan seatbelt demi agar tetap terlihat cantik saat Arka melayat nanti, drinya juga masih sempat memikirkan Arka sebelum matanya tertutup rapat.
“ Ah, jadi mas ngarepin Wine mati beneran?”
Lagi Wine melihat Akhtar tertawa. Habis ini dia harus minta bayaran karena sudah membuat pria ini tertawa gembira di sore hari.
“ Ya ngga gitu dek. Cuman mas sama Alin ngerasa aneh aja. Kalau kamu udah niat mau mati buat apa pake seatbelt segala”
Wine bertepuk tangan takjub. Takjub dengan ucapan Arka yang begitu ringan keluar dari mulut pria itu “ Wah. Jadi mas sama mbak Alin ngarepin aku mati beneren”
Akhtar mengacak rambut Wine gemas “ Kamu tahu sendiri, mas sama mbak Alin udah kenal dan paham betul kamu seperti apa. Kalau udah niat maka kamu ngga bakal berpikir ulang. Dan melihat kamu yang masih mengutamakan keselamatan, mas pikir pasti ada alasan dibaliknya. Dan ternyata karena pria tadi”
“ Jadi gimana menurut mas gimana bang Arka” mari lupakan malu-malu kucing karena ketahuan suka sama orang lain. Wine perlu mendengar pendapat Akhtar tentang pria itu.
“ Ngga tahu, mas baru ketemu pertama kali tadi kan. Jadi ngga bisa ngasih pendapat. Cuman yang perlu mas kasih tahu ke kamu adalah. Ikutin hati kamu”
“ Ngga jadi ke ibu mas”
Akthar mengerutkan dahinya bingung “ Terus?”
“Skadron” Jawab Wine enteng. Dirinya akan mengikuti hatinya sekarang. Untuk saat ini biarkan Wine bertemu dengan Arka untuk memperjelas bagaimana dan kemana arah hatinya sekarang.
Akthtar mengangguk “ Oke Cantik. Cus berangkatttt”
Mobil yang sebelumya menepi kini kembali berjalan, memutar arah menuju skadron tempat tujuan Wine kali ini.
Wine merogoh ponsel yang ada di kantong jaket. Mencari nomor Arka kemudian mengetikan pesan kemudian mengirimkannya pada pria itu. Dirinya harus memastikan jika Arka kembali ke skadron dari rumah sakit tadi.
^^^Wine:^^^
^^^dimana bang? Di skadron ngga?.^^^
Cukup lama taka da balasan dari Arka. Wine mengetukkan jarinya ke jendela sambil berhitung mengikuti detik yang terus bergerak sambil menunggu balasan dari pria disebrang sana. Saat hitungan ke 72, satu pesan masuk ke ponsel Wine.
Arka:
__ADS_1
Iya.
Jawaban singkat namun sama sekali tak menyinggung hati Wine. Biasanya Wine paling benci jika ada orang yang menjawab pesannya sesingkat itu. Namun kali ini berbeda, dirinya tak masalah sama sekali.
Hanya butuh sekitar 30 menit, mobil Akthar sudah sampai didepan skadron, menurunkan Wine kemudian kembali pergi setelah memberikan semangat kepadanya. Mas Akhtar itu memang luar biasa.
Tak butuh waktu lama juga bagi Wine melihat Arka yang kini sudah menggunakan pakaian biasa berlari kearahnya. Arka menatapnya dengan dahi berkerut, seolah bingung dengan Wine yang tiba-tiba berada di skadron padahal tadi pergi dengan pria yang tak ia kenali.
“ Wine ngga bisa nguncir rambut sendiri. Jadi bisa minta tolong kuncirin?”
Meski masih bingung, Arka menurut. Mengambil ikat kuncir Wine dan mulai menguncir rambut panjang Wine menjadi ekor kuda. Arka juga merapihkan poni Wine agar tak menghalangi mata gadis ini.
“Kenapa bisa tiba-tiba disini?”
Wine memiringkan kepalanya. “Ketemu abang tua”
“Tadikan udah ketemu di rumah sakit?”
Wine berpura-pura memasang wajah kecewa “ Ah, Jadi abang tua ngga mau ketemu Wine lagi?”
“ Bukan begitu. Abang seneng bisa lihat kamu lagi. setidaknya untuk hari ini setelah dibuat khawatir satu hari penuh. Abang pengin ngeliat kamu”
Senyum merekah jelas tercetak diwajah Wine sekarang. Sejak kapan Arka berubah menjadi semanis ini?. kejadian langka, Wine harus memanfaatkannya sebaik mungkin.
“ Wine laper. Makan dong bang, tapi yang enak ya”
“ Oke. Tunggu disini. Abang ambil mobil dulu”
Wine mengangguk semangat. Makanan gratis kali ini ia dapatkan dengan sangat mudah. Selang 15 menit, Arka sudah kembali lengkap dengan mobilnya. Pria itu membantu Wine masuk kedalam mobil, meletakan tongkat pembantu jalan Wine dikursi belakang kemudian duduk dikursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menjauhi skadron.
“ Kemarikan tangan kamu”
“Untuk?”
“Kemari saja”
Meski masih heran, Wine menuruti ucapan Arka. Mengulurkan tangan kanannya yang kemudian langsung digenggam erat oleh pria ini.
“ Ini maksudnya gimana ya abang tua?” Wine mengangkat tangannya yang digenggam oleh Arka membuat tangan pria itu juga ikut terangkat.
“ Abang harus pegangin tangan kamu, biar kamu ngga pergi kemana-mana”
***
yang nulis ikut kesemsen ini.. hehe
__ADS_1
Bekasi
3 Desember 2021