
Tak seperti biasanya, Wine bangun karena suara alaram dari ponselnya yang bergetar. Biasanya Arka yang akan membangunkannya untuk Sholat subuh sebelum pria itu berangkat ke masjid, namun sepertinya pagi ini memang ada yang berbeda.
Mas Arka nggak pulang semalaman kah?. curiga Wine ditambah tidak ada kasur lipat yang tergeletak di lantai.
Turun dari kasur pelan-pelan agar tak membangunkan kedua putranya yang masih tertidur lelap, Wine keluar dari kamar dan menuju kamar utama.
Mas Arka tidak ada disana.
Berjalan menuju ruang kerja Arka berharap suaminya ada disana, namun Wine hanya menemukan ruangan gelap seakan semalam tidak ada yang mengunjungi ruangan ini sama sekali.
"Ke Masjid kali ya" ucap Wine sendiri.
Selama menikah dengan Arka, suaminya itu tidak pernah tidak pulang ke rumah sama sekali kecuali dinas ke luar kota. Sekalipun pulang larut malam, Wine akan menemukan Arka berbaring di sampingnya.
Setelah menuruni anak tangga, Wine melirik sebentar ke arah jam yang berada di ruang keluarga. 05.00, khotbah subuh masih terdengar di mushola. Mungkin mas Arka memang masih berada di masjid.
Berjalan menuju dapur, Wine bertemu dengan mbak Laksmi yang tengah menyiapkan sarapan. "Bapak pulang kan semalam mbak?"
Yang ditanya mengangguk mengiyakan "Pulang bu, cuman saya juga nggak tahu pulang jam berapa. Tadi ketemu waktu bapak mau ke masjid"
Mendengar itu Wine menghela napasnya lega. Setidaknya jika Arka pulang, maka tidak ada hal serius yang terjadi di skuadron sekarang.
"Cuman tadi saya liat bapak udah pakai seragam bu. Kayanya habis dari musholah langsung berangkat bu" lanjut Laksmi.
"Udah pakai seragam mbak?" tanya Wine memastikan dia tak salah mendengar.
"Iya bu, udah pakai seragam. Tadi pesen ibu disuruh nelfon bapak nanti"
Wine mengangguk " Oke mbak. Ya udah, saya mau sholat dulu baru nelfon bapak"
"Baik bu"
Wine kembali naik ke lantai 2, perasaan tak enak sekaligus khawatir menghantuinya sekarang, tidak biasanya Arka berangkat tanpa izin dahulu. Semendesak itu kah keadaan hingga tak bisa menunggu Wine bangun?.
Setelah selesai menunaikan Sholat, Wine langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Nama Mas Arka lah yang langsung ia cari dan hubungi.
Dering pertama.
Dering ke dua.
Dering ke tiga.
Hingga dering ke lima Arka belum juga mengangkatnya. Khotbah subuh sudah selesai dan digantikan oleh suara ngaji, Arka seharusnya sudah keluar dari musholah.
Setelah suara operator yang terdengar, Wine mematikan sambungan kemudian kembali menelfon suaminya.
"Mas angkat dong. Jangan bikin aku khawatir deh" gerutu Wine.
Wine membetulkan posisi selimut Arsya, kemudian duduk di pinggir ranjang. Ponselnya masih menempel di telinga menunggu jawaban dari sebrang sana.
Begitu telfon tersambung, suara batuk Arkalah yang Wine dengar pertama kalinya. Batuk suaminya kini terdengar jauh lebih sering ketimbang malam tadi, sakit Arka sepertinya bertambah parah.
"Uhuk, uhuk. Assalamualaikum dek"
"Wassalamu'alaikum. Dimana mas?" tanya Wine berpura-pura tak tahu. Merawat Arka yang sakit dengan kembar yang sakit, itu jauh lebih mudah merawat kembar yang sakit. Alasannya setidaknya si kembar akan menurut untuk istirahat di rumah, tapi kalau Arka susahnya minta ampun.
__ADS_1
"Ini sudah sampai skuadron dek"
"Skuadron? jam segini?" Jika saja Wiene benar-benar punya ilmu dalam, Wine pasti sudah menghilang ke skadorn untuk memaksa suaminya itu pulang dan istirahat.
Lagi suara batuk Arka terdengar. Wine yang mendengarnya memejamkan matanya sebentar guna menghalau emosi. kalau begini nggak bisa marah, malah jadi kasihan.
"Kamu udah minum obat mas?" tanya Wine dengan nada pelan.
"Uhuk Uhuk. heheh mas kira kamu bakal marah dek"
"Penginnya. Cuman kasihan dengerin kamu batuk"
Suara tawa Arka terdengar lagi dari sebrang telfon.
"Tadi sebelum berangkat sudah minum obat mas?" Tanya Wine lagi.
"Sudah dek"
"Emang nggak bisa izin mas? izin sakit"
"Nggak bisa dek. Ada yang mau mas omongin sama kamu. Niatnya tadi mau ngomong sebelum berangkat, tapi mas kasihan kalau ngebangunin kamu"
"Kalau ngebangunin lebih bagus mas. Aku bisa liat kamu berangkat"
"Oke. maaf ya"
Meski tahu jika Arka tak mungkin melihatnya karena mereka sedang melakukan telfon biasa, Wine mengangguk sebagai jawaban.
"Kemarin sore ada pesawat F-16 yang datang ke Halim dek. Cuman mampir sebentar, dan malamnya terbang lagi ke Iswahyudi. Ayub yang bawa pesawatnya"
Jika mendengar serangkaian kalimat seperti itu, jantung Wine berdetak semakin cepat seolah tahu jika ada cerita menyedihkan setelahnya. Jika posisinya Arka yang membawa pesawatnya, Wine biasanya sudah terduduk lemas. Menunggu kabar dari suaminya yang memberi info sudah sampai dengan selamat di tempat tujuan lebih mendebarkan dari pada ketilang polisi.
Wine memejamkan matanya sejenak. Tubuhnya gemetar seolah baru saja tersengat listrik tegangan rendah.
"Dek?"
"Gimana kabarnya kapt. Ayub mas?"
Terdengar suara helaan napas di sebrang yang di susul dengan suara batuk Arka.
"Masih dalam pencarian"
"Ya Allah."
"Mas mau minta tolong, Sebelum berangkat ke rumah sakit mampir ke rumah kapt. Ayub dulu ya dek. Ayu belum tahu kabar ini"
Membayangkan jika dirinya berada di posisi Ayu membuat air mata Wine lolos seketika. Mau setegar apapun seorang istri TNI, Wine juga tidak akan mampu mendengar jika pesawat yang dikendarai oleh sang suami jatuh. Rasanya seperti ada petir yang menyambar hingga membuat dunia seakan berputar seketika.
"Dek?"
Wine mengusap air matanya sendiri " Nanti aku mampir ke rumah Ayu ya mas"
"Oke. Sama mas mau izin sama kamu. Mas mau ke Iswahyudi buat bantu cari Ayub"
Wine menarik napasnya dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Mau bagaimana pun itu ada hal yang memang harus Arka lakukan meski dalam kondisi sakit sekalipun "Memang kalau Wine nggak ngizinin mas bakal nurut?"
__ADS_1
Cukup lama Arka terdiam sebelum akhirnya terdengar lagi suaranya "Dek"
"Nggak perlu minta izin sama aku mas. Aku pasti izinin, asal kamu kembali lagi ke aku dan anak-anak dalam kondisi yang sehat"
"Maaf ya dek."
Permintaan maaf yang nyatanya sangat sulit untuk Wine kabulkan "Jam berapa kamu terbang mas?"
"Sebentar lagi"
"Telfon aku kalau sudah sampai ya mas"
"Maaf dek, Sepertinya nggak bisa dek, karena mas langsung ke titik pesawat Ayub jatuh, kemungkinan nggak akan ada sinyal"
"Besoknya kalau gitu"
"Kami bakal bangun tenda di hutan, maaf ya dek. Mas janji bakal coba kirim sms ke kamu, biar kalau ada sinyal bisa langsung terkirim"
Lagi Wine menghapus air matanya yang meluncur. Rasanya begitu berat melepas kepergian Arka kali ini. Jika saja suaminya ini sehat, mungkin Wine tak akan merasa seberat ini. "Jangan lupa minum obat mas"
"Iya. mas tutup dulu ya. Ini udah mau terbang, Assalamualaikum"
"Hati-hati ya mas, Waalaikumsalam"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mengetuk pintu rumah Ayu hanya untuk membawa kabar buruk bukanlah suatu hal yang biasa saja. Bagaimana cara dia menyampaikannya? Melihatnya datang sepagi ini saja pasti sudah membuat tanda tanya besar bagi Ayu.
"Eh Ibu Arka, Pagi bu, Izin"
Wine tersenyum begitu melihat Ayu membukakan pintu dengan senyuman ramah seperti biasa.
"Izin bu, silahkan duduk"
Wine mengangguk, duduk disalah satu sofa ruang tamu sambil menunggu Ayu yang langsung masuk ke dalam rumah guna mengambil air minum untuk Wine.
Wine meremas tangannya gugup. Mulutnya terasa kaku dengan tangan yang mulai dingin, perasaan yang sama saat Wine keluar dari ruang operasi dengan status operasi yang tidak berhasil.
"Izin bu, silahkan di minum. Kalau boleh tahu ada apa ya bu?"
Tak langsung menjawab, Wine mengambil gelas yang berisi air minum dan meneguknya sedikit " Kapt. Ayub semalam terbang ke Iswahyudi ya mbak?" tanya Wine memulai pembicaraan.
"Iya bu. Ini barusan saya juga coba telfon buat nanya sudah sampai atau belum, eh nggak diangkat sama mas Ayub bu"
Wine meremas tangannya sendiri. Ini sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberitahukan hal ini pada Ayu " Jangan kaget dulu ya mbak. Dengarkan saya baik-baik"
Wine bisa melihat perubahan raut wajah Ayu sekarang. "Pesawat tempur F-16 jatuh mbak"
"Ya?"
"Pesawat yang di bawa kapt. Ayub malam tadi jatuh di area hutan mbak" lanjut Wine.
Bukan hanya dunia Wine yang terasa berputar saat mendengar kabar ini, dunia Ayu juga pasti kini terasa berputar ditambah dengan tornado yang amat dahsyat. Wanita itu mencengkram pinggiran kursi dengan erat.
"Ibu bercanda kan bu?" tanya Ayu dengan air mata yang sudah mulai turun tanpa permisi.
__ADS_1
"Saya dengar kabar ini dari mas Arka tadi pagi mbak. Dia dan yang lainnya dalam misi pencarian kapt. Ayub"
"Nggak lucu bu, ibu bercanda kan?! Nggak mungkin. NGGAK MUNGKIN!!"