Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 6 : Ikat Rambut (2)


__ADS_3

“ Ko tumben rambutmu diikat dek”


Jika saja tak ingat dengan perjanjian ke dua antara dirinya dan bang Arka tadi dilapangan, ingin rasanya Wine bersorak gembira dan memamerkannya kepada mbak Wine jika ada kemajuan antara dirinya dan bang Arka. Setidaknya pria itu tidak lagi sedingin kemarin lusa.


perjanjian keduanya simple Wine hanya perlu menutup mulutnya dengan syarat bang Arka akan menjemputnya sekali jika Wine sangat membutuhkannya.


“ Gerah mbak. Terus biar namabah cantik aja, biar ada yang naksir”


Wine tersenyum saat melihat Arka yang duduk cukup jauh tersedak minuman karena mendengar ucapannya barusan. Semakin dekat, semakin menyenangkan untuk membuat rollercoaster pada jantung pria itu.


“ Cantik? Bukanya kamu ngga suka kalo rambutmu dikuncir. Bentuk kepala bagian belakangmu bisa keliatan sama orang”


Bentuk kepala Wine memang tak seindah bentuk kepala Anya dan Ocha. Dirinya yang dulu lahir dengan cara di vakum membuat bentuknya agak sedikit pajang dan tak sebulat yang lain. Itulah alasan kenapa Wine sangat tidak suka rambutnya yang dikuncir.


Setelah mbak Anya yang duduk disebelahnya berkata demikian. Bang Jaka dan bang Kenzo yang paling semangat bangkit dari kursi dan melihat bagian belakang kepala Wine yang sudah berusaha sebaik mungkin gadis ini tutupi. Wine masih malu, namun saat matanya sengaja melirik kearah bang Arka, pria itu langsung mengalihkan pandangannya. Seolah tak boleh digerai rambutnya selama ada bang Arka disini.


“ Ngapain sih bang, malu tau. Udah sana balik ah” ucap Wine kesal. Pasalnya bukan hanya bang Jaka dan bang Kenzo, abang tentara lain juga ikut penasaran bagaimana bentuk bagian kepala dari gadis yang sangat jelita dilihat dari sisi depan.


“Ehem.. gosong noh Jak” ucapan Arka lantas membuat Jaka dan Kenzo yang kalah dalam permainan dan disulap menjadi tukang daging itu kembali ke tempatnya.


Meski sudah dibantu, Wine masih saja kesal. Apalagi saat kerutan dahinya hanya dibalas dengan bahu yang diangkat dibalik pria itu yang berpura-pura meregangkan badannya.


Kalah? Oh tentu tidak. Bukan Wine namanya jika ia langsung kalah begitu saja.


“ Biarin aja mbak. Ada yang seneng soalnya kalau liat rambut aku dikuncir ekor kuda”


“Siapa?”


“Setan mbak. Tadi di lapangan Wine ketemu setan. Terus bilang ‘ikat rambut kamu selama ketemu saya’, kayanya setannya sudah mulai tertarik sama saya mbak” Wine tak peduli dengan bang Arka yang kini tengah melotot kearahnya.


“ Kamu itu ngomong apa sih dek? Ngga jelas tahu”


“ Ih sih mbak ngga percaya”


Bang Jaka meletakan sepiring daging yang sudah matang. Hanya hitungan detik, piring yang sebelumnya penuh dengan daging kini kembali bersih.


“Buset dah, gue kaya makanin anak monyet yang kelaparan. Gue doang ini yang ngadain pesta, yang bayar daging, yang nyiapin tempat, yang masak pula”


Wine mencomot satu potong daging terakhir, kemudian memasukannya kedalam mulut “ Yang sabar bang. Ikhlas”


Bang Jaka mengangguk “ Ya udahlah dek, abang ikhlas udah. Ya setidaknya dengan abang ngadain acara ini, abang bisa ngeliat sesuatu di lapangan tadi”


Wine berhenti mengunyah, begitu juga bang Arka yang kini mendongak menatap tajam kearah bang Jaka.

__ADS_1


“ E.. emang abang lihat apa?” tanya Wine ragu.


“ Ngeliat setan yang kamu omongin barusan” jawab Jaka santai tanpa ekspresi apapun.


Setelah kalimat barusan, bang Jaka tak mengatakan apapun dan kembali memasak. Bahkan saat bang Kenzo dan bang Alan yang kadar keponya meningkat drastis, bang Jaka tetap menutup mulutnya tak berkata apapun.


Sedangkan bang Arka yang duduk disana, tatapannya tak pernah lepas menatap tajam kemanapun gerak-gerik bang Jaka. Ini juga yang membuat bang Jaka tak akan berani membuka mulutnya.


Dretttt.


Wine merogoh ponsel di jaketnya saat satu notifikasi masuk. Satu pesan baba yang menyuruhnya pulang sudah berada di layar. Tanpa sadar jam memang sudah hampir menunjukkan pukul 11 malam. Besok ada pelajaran Biologi, Wine tak boleh datang terlambat.


“ Siapa? Komandan?”


Wine mengangguk menjawab pertanyaan bang Jaka. Memasukan ponselnya kemudian bangkit dari duduk bersamaan dengan suara bang Jaka yang kembali bersuara.


“ Bang Arka, bisa minta tolong anterin Wine nggak? Rumahnya berjarak 5 gang, lumayan. Udah jam 11 kasihan sendiri”


Bukan hanya bang Arka yang membeo. Wine juga membeo dan mengerjapakan matanya berulang kali, tak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh bang Jaka. Jika bisa sejauh ini, maka bang Jaka pasti melihat dan mendengar semua yang terjadi di lapangan barusan.


“ Ngga usah bang deket, bisa sendiri”


“Udah dianterin aja dek” Alin menarik Wine mendekat, kemudian membisikan sesuatu “


Lumayan dek, kalau berhasil kepincut kamu bisa dapat dua. Dapet cogan sama dapet makan gratis dari mbak”


“ Ayo bang ganteng, anterin adek yang cantik ini ya”


Mari Wine, kembali ke mode gendeng seperti biasa.


Dengan cengiran lebar, Wine langsung mengalungkan tangannya di lengan bang Arka yang langsung mendapat sorakan dari abang tentara yang lain.


“ Ke Bali beli oleh-oleh, jangan lupa mampir ke Medan. Wine cantik pulang dulu deh, kali aja besok ke pelaminan”


Pantun gila yang juga mendapat sorakan dari orang-orang gila.


***


Sepertinya Arka perlu menarik Jaka dan berbicara dua mata dengan pria itu besok. Tidak tahu pasti apa yang Jaka lihat dan dengar, namun jika sudah sejauh itu, Arka yakin bukan hanya satu atau dua kalimat yang pria itu dengar.


“ Bang diem aja kaya patung”


Terlalu larut dengan tebakan sejauh apa Jaka melihat mereka, Arka sampai tak sadar sudah berjalan keluar dengan tangan Wine yang melingkar di lengannya. Gadis ini benar-benar luar biasa.

__ADS_1


Dilepasnya tangan Wine yang masih melingkar di lengan, kemudian Arka berjalan mundur tiga langkah untuk melihat bagian belakang kepala Wine yang sempat heboh tadi.


“ Kenapa bang?”


“Ngga kenapa-kenapa” jawab Arka acuh sambil kembali melangkahkan kakinya menuju rumah sang komandan.


“ Jelekkan? Makanya jangan suruh aku ikat rambut”


Arka melambatkan sedikit langkahnya saat melihat Wine kerepotan mensejajarkan posisi mereka “ Kamu kalah, dan saya menang”


“ Iya udahlah” ucap Wine pasrah.


Gadis yang ia lihat pertama kali di kantor polisi ini cenderung diam, mungkin karena jam sudah hampir pukul 11 malam, baterai ditubuh gadis itu mungkin sudah berkurang. Gila di siang hari, dan pendiam di malam hari.


“ Kenapa malu sama bentuk kepala kamu? Semua itu pemberian Allah, patut untuk di syukuri”


“ Siapa juga yang bilang aku ngga bersyukur bang. Bersyukur ko, cuman kalau punya kekurangan tidak salah juga kalau berusaha untuk disembunyikan, karena kalau kekurangan kita di buka semua. Cuman bikin kita terlihat lemah di mata orang”


“Seperti jus itu?”


Arka ikut mengehentikan langkahnya saat Wine berhenti melangkah, menatapnya dengan dahi berkerut, seolah bertanya ‘ Apa lagi yang abang tahu?’.


Tak langsung menjawab, Arka kembali berjalan disusul oleh Wine yang berusaha menyamakan langkah mereka.


“Saya lihat kamu lepehin jus dan buang jus hari itu padahal masih sangat banyak, mubadzir”


“ Ah..” Wine mengangguk paham.


“ Jadi gossip yang saya dengar tentang kamu ternyata benar semua”


“ Yup bener, bener semua bang. Yang ngomong Wine gila juga bener bang. Mau dibuktikan?”


Dahi Arka berkerut tak paham “ Apanya?”


“ Poin gilanya”


“ Maksudnya?”


“ Seperti ini”


Wine mencium pipi Arka singkat, kemudian langsung berlari menjauh dari pria itu yang masih mengerjapkan matanya saking terkejut dengan tindakan Wine tiba-tiba itu. Oke, untuk kedua kalinya, Arka terperangkap ke alur gila gadis itu.


***

__ADS_1


Bekasi,


27 November 2021


__ADS_2