
niatnya mau up ini besok aja, cuman kayanya terlalu ngebosenin bagi yang udah pernah baca di lapak sebelumnya, so bakal di percepat. ***jadi besok up bab baru ya.
LIKE, VOTE dan KOMENTAR***..
...***...
Hal yang membuat Wine merasa gelisah selama berada di kampus tadi adalah karena hujan turun cukup deras. Aaras sangat tergila-gila dengan air dan itu berarti jika Arka kehilangan control pada Aaras, bocah kecil itu pasti hujan-hujanan padahal batu sembuh dari flu 2 hari yang lalu.
Dengan tergesa-gesa, Wine mengambil payung dari kursi belakang mobil dan segera keluar setelah memarkirkan mobilnya ditempat semula. Karena hujan Skadron Nampak sepi dari depan, namun tidak ada yang tahu jika ada kemungkinan sosok bocah laki-laki berumur 3 tahun tengah tertawa riang diguyur hujan saat matahari mulai enggan menampakan wujudnya.
Sebuah mobil stasiun televisi swasta membuat Wine semakin uring-uringan tak jelas. Jika mobil itu masih terparkir dengan cantik maka ada kemungkinan wawancara Arka juga masih berlangsung didalam sana. dengan langkah seribu Wine berjalan cepat menuju ruangan suaminya, namun belum juga sampai dirinya malah menginjak genangan air hingga celana yang ia pakai nyaris basah semua di bagian bawahnya.
Sebelum menuju ruangan suaminya, Wine berbelok sebentar ke arah toilet guna membilasnya dengan air bersih. Pikirannya yang terlalu fokus memikirkan kedua anak kembarnya terutama Aaras, Wine sampai tidak sengaja menabrak wanita yang baru saja keluar dari toilet. tas wanita itu jatuh bersamaan dengan isinya. Jika dilihat dari nametag dan baju yang wanita ini gunakan, sepertinya ia adalah salah satu staf televisi yang meliput wawancara suaminya hari ini.
“Maaf mbak, saya nggak liat mbak” Wine buru-buru jongkok dan membantu merapihkan tas wanita itu.
“Ngga apa-apa mba, saya juga buru-buru karena dipanggil sama temen saya”
Mata Wine mengikuti kearah yang wanita itu tunjuk. Di sana, tepatnya didepan ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat, sosok wanita yang menggunakan seragam yang sama terlihat berdiri menatap temannya ini.
Untuk sejenak, Wine seperti mengenali wajah wanita itu. namun karena jarak yang terlalu jauh ditambah hujan tengah turun deras, Wine tidak begitu yakin dengan tebakannya kali ini.
“Makasih mba sudah bantu beresin”
Ucapan wanita didepannya ini yang jelas sarat akan sindiran karena dari tadi Wine hanya fokus pada wanita yang lainya, membuat Wine menoleh seketika. Bedak yang ada ditangannya, Wine kembalikan dengan senyuman tak enak.
Ya. dirinya tak membantu apapun. Dan ucapan makasih barusan jelas hanya sindiran belaka.
Setelah kepergian wanita itu, Wine buru-buru masuk ke kamar mandi lalu membersihkan celananya. Saat dirinya keluar dari kamar mandi, suara tawa khas Aaras terdengar samar-sama dibalik derasnya suara hujan.
Tak lagi berjalan cepat karena sudah bisa menebak apa yang tengah putranya itu lakukan, Wine berjalan santai sambil terus beristighfar didalam hati. Aaras pasti tengah berlarian kecil sambil hujan-hujanan.
Namun sepertinya Aaras itu memang ingin membangun istana indah untuk ibunnya di surga nanti. Mata Wine melotot lebar dan langsung berlari menuju lapangan dimana Aaras berada yang kini bukan sedang berlarian kecil melainkan tengah berguling ria ditengah lapang seorang diri.
Melihat kondisi baju dan seluruh tubuh Aaras yang kotor, Wine berdiri diam setelah sampai didekat Aaras tanpa berkata apapun. Alih-alih takut karena sang ibun sudah memasang wajah marah, Aaras malah tersenyum kemudian berguling dua kali sebelum akhirnya berdiri tegak didepan Wine.
Aaras tahu jika Wine tengah marah sekarang.
Tidak melihat Arka di lapangan, Wine malah melihat Ayub berlari kocar-kacir kearahnya. Dilihat dari ekspresi kapten, Wine tahu pasti Arka menitipkan Aaras pada pria ini.
“Maaf mbak. Tadi saya ke toilet belakang sebentar, dan..” Ayub menatap nanar kearah Aaras yang rupanya sudah tak karuan.
Rambut bocah itu sudah basah lepek lengkap dengan baju koko putih yang kini berubah menjadi coklat.
“Ibun, abang boleh hujan-hujanan lagi kan ya?”
Ayub melongo mendengarnya. Anak usia 3 tahun ini benar-benar polos.
“Jangan keluar dari payung Aaras” ucap Wine tegas. Tak peduli jika bajunya akan ikut basah, Wine menggendong Aaras dan meminta Ayub agar memayungi mereka berdua hingga sampai di sisi lapangan. Tepatnya di keran air yang biasanya digunakan untuk cuci tangan.
Menolak dilarang. Aaras mulai nangis kencang sambil menendang-nendang udara agar Wine menurunkannya. Setelah sampai di dekat keran air, Wine memiringkan badan Aaras dan mulai membilas kepala putranya dengan air yang mengalir. Sama sekali tak menghiraukan Aaras yang semakin menangis kencang.
“Kamukan baru sembuh bang. Kenapa hujan-hujanan?! Kenapa ngga sama ayah aja!”
“Komandan lagi di ruang rapat mbak” jawab Ayub meski tak ditanya.
__ADS_1
Suara derap langkah kaki yang terdengar mengerem disampingnya membuat Wine menoleh. Arka berdiri disampingnya dengan tangan yang disatukan didepan. Kondisi Arka yang basah kuyup tak jauh berbeda dengan Aaras membuat Wine menghela napasnya sebal.
“Bagus banget mas. Anakmu guling-guling di lapangan dan kamu hujan-hujanan” omel Wine.
“Dek, Abang…”
“Pasti cantik banget reporternya ya mas. Sampai kamu lupa anakmu!”
Perlahan tapi pasti, Ayub terlihat mundur perlahan setelah memberi hormat kepada Arka. Meninggalkan mereka bertiga di lapangan dengan Aaras yang masih menangis.
“Kalau kamu ngga bisa jagain anak-anak karena repot kerjaan, toh ya kamu harusnya ngomong dari awal. Kalau gini anak-anak bisa aku titipin di Anya tadi”
Merasa jika memberi alasan juga tak akan ada gunanya, Arka memilih untuk diam tak bicara apapun. Lagi pula sekarang istrinya ini juga memilih untuk diam setelah sadar tengah berada di tempat umum.
“Maaf ya dek” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Arka sekarang.
“Arsya dimana?”
“Di kantor, tidur. Mas ambil dulu ya, terus kita langsung pulang”
“Kerjaan kamu?”
“Sudah selesai”
Wine mengangguk. Lebih baik mereka pulang dan bicara di rumah, sangat tidak pantas ribut di tempat umum dan menjadi tontonan orang lain. Meski kepala Wine rasanya hampir pecah dengan banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya.
***
“Anak-anak sudah tidur?”
“Gimana tadi di kampus. Ketemu prof. Yola?”
Lagi Wine hanya mengangguk sebagai jawaban. Banyak sekali bagian di tesisnya yang perlu di revisi. Menjadi spesialis bedah anak adalah cita-cita Wine sejak dulu.
“Ke kampus sendirian?”
“Nggak bareng Jihan”
“Oh, terus gimana hasilnya? Bisa dilanjut kan?”
“Masih banyak yang direvisi” jawab Wine singkat. Besok dirinya harus kembali ke rumah sakit. Selagi ada waktu Wine ingin merevisinya sekarang. Tumpukan buku yang sesuai dengan spesialis yang ia ambil, sudah tertumpuk dengan rapih di meja rias siap untuk dibuka satu persatu.
“Oh ya dek. Kamu bilang nggak ke Anya kalau mas pengin culik Arum?”
“Udah"
“Terus?”
“Nggak boleh” Wine menjawabnya tanpa menoleh ke Arka sama sekali.
“Kamu masih marah ya dek?”
Tepat saat pertanyaan itu terlontar, jari-jari Wine yang tengah membuka lembaran buku terhenti seketika. Kepalanya menoleh ke arah Arka yang kini sudah duduk dengan posisi berlutut di atas Kasur.
Ini suami siapa sih? Gemesin banget?.
__ADS_1
“Mas diam dulu sebentar. Jangan berubah posisinya” pinta Wine.
Arka mengerutkan dahinya bingung “Kenapa?”
“Mau aku foto terus kirim ke mbak Alin”
“Alin buat apa?”
Wine mengambil ponsel kemudian memotret Arka. Suaminya ini benar-benar kooperatif karena memasang ekspresi menyedihkan.
“Lumayan mas. Anak-anak bisa dapat mainan gratis dari mbak Alin"
Arka memutar bola matanya kesal. Dengan cepat ia segera turun dari kasur, memutar tubuh Wine agar menghadap kearahnya.
“Boleh dikirim. Tapi ada yang harus kamu bayar ke mas”
“Maksudnya?”
“Begini"
Arka langsung merengkuh pinggang istrinya erat. Tanpa menunggu Wine siap, Arka langsung mencium Wine dalam namun masih bermain halus. Tadi pagi dirinya tak bisa mencium puas istrinya karena kalah dengan anaknya sendiri. Maka malam ini Arka tak akan melepaskan Wine sama sekali.
“Mas banyak banget tugasku” Wine mendorong pundak Arka pelan. Tangan suaminya masih melingkar di pinggangnya menolak untuk melepaskannya.
“Pasal 3 dek. Tadi pagi kamu udah ingkar loh”
“I love you, mas. Cukupkan?”
Arka menggeleng “Udah jadi suami istri, udah halal dan cuman ngomong begitu doang. Ya nggak cukup lah”
Wine tertawa “ Terus mas maunya gimana?”
“Kaya tadi”
“Kaya gini?” kali ini Wine yang memperkikis jarak diantara keduanya.
Arka yang jelas sangat senang, menyambut Wine dengan langsung mencium istrinya itu. merubah posisi, Arka kini yang duduk di atas ranjang dan membiarkan Wine duduk dipangkuannya.
Merasa jika Wine membutuhkan oksigen, Arka kini beralih menjelajah leher putih istrinya. Bau sabun Wine itu benar-benar sangat memabukkan. Arka menyukainya sejak dulu. Harum dan segar secara bersamaan. Setelah yakin jika istrinya sudah cukup mendapat pasokan oksigen, Arka kembali mencium istrinya dan kali ini menjelajah bagian dalam mulut Wine. Rasanya begitu manis mengingat sebelum ke kamar mereka sempat makan kue rasa coklat tadi.
“Mas”
“Hmm?”jawab Arka disela ciumannya.
“Tadi” ucapan Wine terputus saat Arka kembali mencium bibirnya.
“Jangan dulu bicara dek. Abang kangen banget sama kamu”
Wine mengangguk lalu balik mencium Arka. Segala hal yang mengganggu kepalanya sejak berada di skadron tadi berusaha ia kesampingkan terlebih dahulu.
Tugasnya malam ini adalah melayani suaminya. Namun sekuat tenaga berusaha untuk menikmati apa yang dilakukan Arka, pikiran itu semakin membuat kepala Wine terasa akan pecah. Wine tak bisa menikmati sentuhan suaminya. Maka dari itu, saat Arka kembali mencium lehernya, disela-sela napas yang tersengal, Wine mengatakan apa yang mengganggunya selama ini.
“Aku kaya liat Anggi di skadron tadi mas”
Ucapan Wine barusan sontak membuat Arka menghentikan aktifitasnya. Mata suaminya itu kini balik menatap matanya dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
Sepertinya tebakan Wine memang benar adanya.