Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
SDW 6 : Aku nggak mau mandi ayah!


__ADS_3

“Jadi itu alasan kamu dingin banget sama mas sejak tadi?”


Wine mengangguk. Kini mereka tengah duduk di balkon kamar merasakan udara malam yang kini terasa lebih dingin dari biasanya. Setelah mengambil dua cangkir kopi, Arka mengajak Wine duduk di balkon guna membantu istrinya agar jauh lebih tenang.


“Bener, dia Anggi. Mas juga baru tahu pas di ruang wawancara tadi.”


Melihat raut wajah istrinya yang belum berubah, Arka menarik Wine mendekat dan membiarkan istrinya ini bersandar di bahunya. “Kamu percaya sama mas kan dek?”


“Gimana responnya saat melihat mas lagi?”


Arka tersenyum, meski tak secara gamblang berkata jika Wine percaya padanya, namun Arka yakin jika istrinya ini jelas mempercayainnya. “Dia ngeliat Arsya dan nanya ini anak mas bukan?”


“Terus?”


“Mas jawab iya dan dia ngga nanya apa-apa lagi”


Wine mengangguk. Meski mendapat anggukan kepala dari Wine, Arka yakin masih ada yang menganggangu isi kepala istrinya ini.


“Kamu ketemu dimana?” Arka menautkan jari-jari mereka. Wine sangat suka pendekatan jika melakukan kontak fisik secara langsung. Membawa tangan istrinya ke bibir dan mencium punggung tangan Wine dalam. Luka yang sebenarnya sebelum sepenuhnya sembuh di hati Wine, Arka tidak ingin membukanya kembali.


“Nggak bener-benar ketemu sebenarnya. Aku cuman ngeliat dari jauh”


“Ngeliat dari jauh tapi masih yakin kalau itu Anggi?”


“Mas tahu kehebatan seorang perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki?” bukanya menjawab Wine malah balik bertanya.


“Nggak”


“Kalau sudah menyangkut wanita lain yang bisa saja jadi pelakor rumah tangga. kita itu mau jaraknya jauh, mau gambarnya samar-samar, kita pasti tahu mas. Soalnya mukanya keinginget terus dikepala”


Arka tertawa mendengarnya. Sebelum menikah mereka berdua berkomitmen jika memiliki masalah maka harus dibahas di hari itu juga. Jika masalahnya riangan seperti ini, dirinya dan Wine akan duduk di balkon seperti sekarang. “Berarti mas istimewa ya dek”


Wine menyesap kopinya “ Maksudnya?”


“Mas dulu soalnya begitu. Dari jauhpun mas tahu kalau itu Akhtar, jangankan orangnya, mobilnya aja mas udah tahu”


Kali ini Wine yang tertawa. Perihal mas Akhtar, dulu sebelum mbak Alin menikah ,Wine dan mbak Alin memang sepakat untuk tidak memberitahu identitas Akhtar yang sesungguhnya kepada Arka. Bahkan saat mereka sempat bertengkar sebelum hari H pernikahan, Wine sengaja meminta mas Akhtar untuk menjemputnya yang membuat Arka langsung mendatangi rumahnya malam hari dan bahkan bersedia untuk menginap karena Wine tak kunjung keluar dari kamar. Saat hari pernikahan tiba dan Akhtar datang sebagai tamu undangan, Wine bahkan masih ingat suaminya ini menatap Akhtar dengan pandangan yang amat tak suka.


Maka saat mbak Alin menyebar undangan pernikahan dan nama mas Akhtar tercantum disana, Arka benar-benar merasa dibodohi. Wine dan mbak Alin tertawa puas melihatnya. Mbak Alin mendapat hadiah jitakan di kepala, sedangkan Wine mendapatkan hadiah hingga berakhir terciptanya Aaras dan Arsya.


“Kamu nggak tahu aja dek. Bahkan sampai kita udah nikah 2 tahun, mas masih nggak suka ngeliat Akhtar masih mondar-mandir di kehidupan kita. Mas masih ingat sebelnya kaya apa pas Akhtar nongol diacara nikahan kita”


“Waktu itu Wine juga sampe lemes gara-gara nahan tawa mas. Mbak Alin udah cekikikan di pojok”


Ketika pembicaraan mereka sudah terasa mengalir penuh canda tawa seperti biasanya, maka Arka tahu jika permasalahan mereka juga sudah selesai. Arka hanya perlu berusaha agar tak mengungkit nama Anggi lagi.


Arka ikut menyesap kopinya “Lebih nyebelinnya lagi. udah 4 tahun kita menikah mas baru tahu Akhtar itu pacarnya Alin. Itu pun gara-gara kalian nggak punya pilihan lain karena harus bagi undangankan?”


Wine mengangguk. Memang agak keterlaluan karena Wine menyembunyikan Arkha hingga 4 tahun lamanya. Wine dan Arkha jarang bertemu karena berbeda provinsi, jadi Wine pikir semuanya masih aman.


“Itu idenya mbak Alin mas”

__ADS_1


“Kompak bener sama Alin”


“Iya dong. Kan kakak adek, harus kompak”


“Kalau mas inget-inget lagi, dulu waktu kamu masih muda—“


“Lah emang aku udah tua sekarang mah?” potong Wine cepat “Mas tuh yang dari dulu udah tua”


“Iya udah, mas dulu tua dan sekarang semakin tua”


Wine tertawa geli. Jangan berpikir jika Wine tidak menghormati Arka karena mengatakan suaminya ini tua. Namun memang beginilah cara mereka bercanda.


“Dulu waktu kamu masih zaman SMA, banyak banget ya yang deketin kamu. Jaka aja kalau telfon mas, pasti nanyain kabar kamu dulu” lanjut Arka sambil meralat kembali kata-katanya.


Mengingat bang Jaka, pria itu juga kini sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan berusia 11 bulan, sedangkan bang Kenzo masih setia untuk menjadi peraka.


“Waktu kamu kuliah juga ada kan? Siapa yah namanya? Mas pernah ketemu sekali waktu di kafe dulu”


“Ainan?”


“Iya. Gimana dia?”


“Kerja satu rumah sakit sama Wine mas”


“Oh” Arka mengangguk. “Ngomongin zaman SMA kamu, mas jadi penasaran sama pak Bondan. Kira-kira telinganya nggak kenapa-kenapa kan ya?”


Mendengar nama pak Bondan— polisi yang dulu menilang Anya, Ocha dan dirinya lagi-lagi membuat Wine tertawa geli. Bahkan kali ini, Wine menyeka air mata yang keluar disudut matanya. Mengingat masalah lalu memang selalu menyenangkan.


“Sama Wine juga penasaran mas. Kira-kira ada lagi nggak yah yang ngajakin kerja kelompok nyari tenaga dalam”


Udara yang semakin dingin karena kini mulai turun hujan, Membuat Wine semakin meraptkan tubuhnya ke Arka. “Pasti pesen jangan sampai kepincut sama aku kan mas. Suruh kuat iman kan mas?”


“Kamu tahu?”


“Iyalah. Dibilang Wine bisa tahu apapun yang menyangkut Wine di skadron. Secantik apa anak komandan, anak komandan sangat menuykai biologi, hubungan komandan dan anaknya yang tidak terlalu baik, dan sampai sesomplak apa anak SMA ini”


Arka merasa takjub mendengarnya. Sekarang tidak terlalu mengejutkan memang karena Arka tahu mata dan telinga Wine di skadron adalah Alin dan Jaka.


Dan seperti itulah akhir dari perselisihan mereka. ketika menikah maka cobalah untuk mempercayai pasangan sendiri. Lagi-lagi kata ibu ‘Kalau udah menikah itu, ego dikecilin ya nak’.


***


“Abang nggak mau mandi ayah”


“Kenapa nggak mau mandi abang? Kan abang mau sekolah”


“Abang nggak mau sekolah!”


“Coba cerita sama ayah kenapa abang nggak mau sekolah?”


“Abang nggak mau ketemu sama Ragi ayah!”

__ADS_1


“Kenapa? Kan Ragi temen kamu. Bisanya suka berbagi sama Ragi kan?”


“Pokoknya abang nggak mau sekolah! Abang nggak mau ke daycare”


Wine menoleh kearah mbak Laksmi yang kini baru saja meletakan dua cangkir kopi diatas meja. Sejak bangtidur tadi, Aaras sudah menolak untuk pergi ke tempat penitipan anak, ke tempat dimana Ocha bekerja. Alasanya masih sama enggan untuk bertemu dengan Ragi yang padahal sejak awal sudah menjadi bestie di daycare.


Setiap pagi Wine dan Arka akan berbagi tugas untuk memandikan anak-anak. Hari ini Wine bertugas untuk memandikan Arsya yang kini tengah memakan roti bakar dengan pakaian yang rapih. Sedangkan Arka sepertinya masih bergelut dengan Aaras dikamar mandi lantai dua diketahui dari Aaras yang mulai menangis.


“Emang Ragi kenapa mbak?”


“Kemarin rebutan mainan bu sama abang”


“Rebutan apa?” Wine menyisir rambut Arsya.


“Mainan laba-laba bu. “


Akhir-akhir ini, anak-anak daycare memang sedang menggila dengan mainan laba-laba yang dibawa oleh Anggi, hampir semua murid di sana memiliki mainan laba-laba yang membuat miss uring-uringan karena geli dengan bentuknya.


“Aaras kan punya mbak, kayanya masih ada yang baru belum dibuka deh mbak. Ngga dibawa?”


“Yang baru nggak dibawa bu, bawanya yang lama. cuman punya Ragi emang jauh lebih bagus, biasanya Ragi yang pinjam mainan abang bu, jadi mungkin abang agak sedikit jengkel karena Ragi nggak mau balik minjemin mainannya"


"Ragi pelit bun" tambah Arsya.


"Nggak boleh ngomong begitu dek" koreksi Wine cepat.


"Ragi nggak mau minjemin aku juga. Terus nggak mau minjemin ke Aaras pas Aaras ngomong minjam baik-baik. Terus akhirnya rebutan deh sama Aaras, tarik-tarikan. Terus copot deh kakinya. Terus Ragi nangis bu"


Ingin sekali Wine tertawa karena mendengar kata 'Terus' di aduan panjang Arya tadi. Namun demi menghormati putranya yang bersedia untuk cerita hal apapun yang terjadi di daycare, Wine menahan senyumnya.


"Terus udah minta maaf nggak sama Ragi"


"Udah. Tapi mamah Ragi nggak mau maafin, mamah Ragi malah marah-marah sama aunty Ocha, terus Aaras nangis deh"


Wine langsung menatap mbak Laksmi guna mencari tahu kebenaran ucapan Arsya barusan. Mbak Laksim mengangguk menyetujuinya.


"Iya bu bener"


"Kok Ocha nggak ngomong apa-apa ya?"


"Kurang tahu bu, cuman yang saya denger sih, ibunya Ragi marah-marah karena harga mainannya yang mahal. mana masih baru juga. gitu katanya bu" Jawab Laksmi.


"Tapi tumben banget. Biasanya dia ngomong kalau ada apa-apa di daycare"


"Mungkin bukan hal terlalu parah dek, makanya Ocha nggak ngomong apapun. Yang lebih parah sekarang itu, Aaras yang nggak mau mandi. Minta mandi sama kamu"


bukan mbak Laksmi yang menjawab, melainkan Arka yang tengah berjalan masuk ke ruang makan dengan baju basah kuyup.


"Masih di atas Aarasnya?"


"Iya, minta dimandiin sama kamu" Begitu dekat dengan Wine, Arka membisikan sesuatu tepat di telinganya Wine " Padahal aku yang pengin minta dimandiin sama kamu istriku yang cantik banget pagi-pagi"

__ADS_1


Wine langsung mencubit pinggang Arka dan berlalu pergi ke lantai 2. Menghiraukan suara Arka yang meringis kesakitan.


"Dek. sakit banget sumpah!"


__ADS_2