Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 23: Malioboro


__ADS_3

setelah ucapannya kemarin kepada budhe Ana, Arka hanya bicara seadannya. Bahkan jika hanya berdua dengan Wine, Arka juga hanya akan bicara jika ditanya. Tidak seperti Arka yang selalu penuh dengan cerita hal-hal lucu di Skadron yang membuat Wine tertawa. Wine tahu Arka terusik dengan ucapannya kemarin. Namun semua yang Wine lakukan semata agar Arka tak langsung dibenci oleh tante Ana.


Siapa yang akan tetap suka pada Babanya jika nyawa adik satu-satunya direnggut? Tante Ana sama sekali tak bisa memaafkan baba, menghindari sebaik mungkin keluarganya agar tak ada lagi yang menikah dengan Angkatan Udara. Dan jika tahu Arka adalah anak buah babanya, Wine yakin malam itu juga tante Ana akan menyuruh Arka menjauhi keponakannya.


Meski perbuatannya salah. Wine hanya tak ingin semua itu terjadi.


“Bang, naik delman sambil muterin Malioboro“


meski tahu Arka sering kali mendiaminnya, Wine sebaik mungkin untuk pura-pura tak tahu.


Sambil bergelayut manja di tangan Arka, Wine menarik pria itu mendekati salah satu delman, memaksa Arka naik kemudian duduk disamping pria ini sambil menikmati pemandangan Malioboro dimalam hari yang tersaji begitu indah didepan matanya.


Sesekali Wine melirik kearah Arka yang masih diam tak bicara. Pria itu malah asik bermain ponsel, bahkan beberapa kali mengangkat telfon yang entah dari siapa itu. meski begitu Wine tetap saja berpura-pura tak tahu. Wine terus mengajak Arka bicara dan hanya mendapatkan jawaban singkat bahkan hanya anggukan kepala.


“Bang lihat deh, bagus banget itu manik-maniknya. Nanti kita kesitu ya bang. Wine mau beli oleh-oleh buat mbak Alin”


“Iya”


“Bang, itu juga rame banget. Enak kali ya makanannya. Abang belum makan dari tadi kan? Nanti kita mampir kesitu sekalian yah”


“Nngga usah jauh dari parkiran”


Wine hanya mengangguk dan tak lagi menjawab. Nada bicara Arka begitu dingin hingga membuat Wine tak berani lagi bicara, bahkan pak kusir yang sedari tadi fokus kedepan menoleh melirik sebentar seolah tengah mengecek apa yang terjadi pada kedua penumpangnnya malam ini.


Setelah satu putaran, mereka turun dari delman dan berjalan menuju tempat penjual manik-manik yang Wine lihat tadi. Tak terlalu jauh seperti tempat makan yang ramai tadi, hanya melewati beberapa bangunan, mereka sampai ditempat tujuan.


Wine memilih beberapa untuk diberikan kepada mbak Alin, bukan hanya mbak Alin saja Ocha dan Anya juga berada didaftar menerima oleh-oleh Wine dari Jogja. Saat mendengar Wine akan ke Jojga, kedua sahabtanya itu bahkan merengek untuk diajak. Namun saat tahu jika Wine akan pergi dengan bang Arka, perlahan tapi pasti mereka mundur dan membuat rencana jalan-jalan sendiri.


“Bang, kira-kira ponakan abang suka yang mana? Atau mungkin Bunda bang?” Wine menatap kearah Arka yang kini hanya melirik sebentar kemudian menggelengkan kepalannya.


“Ngga usah dek”


“Wine yang bayar. Wine pengin ngasih juga buat ponakan abang sama bunda abang”

__ADS_1


“Bunda ngga suka pajangan yang berbentuk makhluk hidup. Bikin malaikat ngga mau masuk rumah”


Kalian tahu rasanya ditampar bolak-balik oleh ucapan? Wine merasakannya barusan. Dengan senyuman yang masih dipaksakan, Wine meletakan semua yang telah ia pilih kemudian meninggalkan kios itu dan berjalan menuju street food terdekat. Memilih makanan yang paling pedas dan mulai melahapnya.


“Duduk dek. Jangan makan sambil berdiri”


Tanpa bicara Wine mengambil kursi dan duduk sesuai perintah Arka. Tak lagi peduli dengan apa yang pria itu tengah lakukan, Wine melahap beberapa toppoki super pedas demi meredam kekesalannya hari ini. bukan hanya malam ini, sejak pagi Arka sudah bersifat super menyebalkan.


Arka tak memabahas apapun atau memberitahunya jika ia tak suka dengan ucapan dirinya pada budhe Ana. Pria itu hanya terus bersikap dingin dan melemparkan beberapa kata ketus yang terus berulang.


“Kenapa ngga jadi beli tadi?”


“Kata abang bisa jadi tempat jin kan? Ya udah ngga jadi beli” jawab Wine sama ketusnya.


Arka tak lagi menjawab, pria itu malah berjalan sedikit menjauh dan kembali mengangkat telfon. Entah telfon dari siapa, namun Wine sungguh tak suka dengan orang disebrang telfon yang terus membuat Arka fokus dengan pekerjaannya. Pria itu sedang cuti, kenapa harus terus diganggu dengan pekerjaan?.


“Jangan marahan neng. Sayang tempat indah begini buat marahan. Dinikmati”


Wine tersenyum saat sang penjual berbicara demikian. Jika orang lain bahkan menyadarinnya itu berarti sikap mereka begitu ketara.


“Ya keliatan lah ndo. Tapi berarti bener itu pacarnya ya?”


“Iya bu”


“Oh.. ibu tadi asal nebak aja sih. Soalnya ibu kira itu om atau ngga abng kamu”


Wine tertawa. Tertawa pertama malam ini yang nyatanya bukan karena jalan bersama Arka namun karena ucapan ibu barusan. Ucapannya barusan mengigatkan Wine dengan kejadian di rumah makan padang sebulan yang lalu. Wine masih ingat bagaimana ekspresi Arka saat itu, lucu dan sangat menggemaskan.


“ Udah selesai kan? Ayok pulang. Ada kerjaan yang harus abang urus”


Tawa Wine berhenti seketika saat Arka berdiri disampingnya, membayar makanan yang Wine makan kemudian berjalan meninggalkannya terlebih dahulu. Sungguh ingin sekali Wine memberikan trofi dikepala pria itu dengan sepatunnya sekarang.


Saat mengekor Arka, langkah Wine terhenti seketika saat Arka tiba-tba berbalik badan menghadapnya.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Jalan didepan abang.”


“Abang aja duluan jalan. Wine ngikut aja dibelakang”


“Didepan dek”


“Wine dibelakang aja. Jadi gampang ngga usah permisi-permisi”


Merasa tak ada gunannya bicara hal seperti ini dengan Wine, Arka berjalan mendekati Wine kemudian menautkan jari-jari mereka, berjalan bersisian akan jauh lebih baik.


mendapatkan perlakukan seperti ini, membuat Wine tersenyum lebar. Tak lagi dipaksakan, senyuman Wine kali ini menggambarkan sebearapa bahagiannya Wine setelah seharian penuh mendapat sikap dingin dari Arka.


“Abang udah janji sama ayah buat jagain kamu disini”


Ucapan Arka barusan membuat Wine mengehentikan langkahnya seketika. Rasa berbunga-bunga dihatinya lenyap dan berubah menjadi bom yang siap meledak. Melepaskan tangan Arka paksa, Wine berjalan mendahului Arka menuju tempat mobil mereka diparkirkan. Bertengkar di Malioboro hanya akan menjadi tontonan orang-orang.


Karena itu tepat saat dirinya dan Arka sudah berada di mobil. Wine langsung menatap Arka tajam, sebaik mungkin menjaga air matanya agar tak meluncur ke bawah.


“Kenapa dengan abang ini sebenarnya? Abang kesel sama ucapan Wine kemarin bukan?”


Arka tak menjawab. Pria itu malah menyalakan mesin mobil yang membuat Wine mamatikan mobil kembali dan memasukan kuncinya kedalam saku jaket.


“Bukanya abang harusnya ngomong sama Wine? Bukan diem aja dari pagi kaya gini?!” emosi yang sejak pagi sudah ditahan meledak seketika.


Wine terkejut saat Arka yang biasanya memiliki tatapan lembut kini berubah begitu tajam. Tatapan yang sama persis ketika pria ini tengah memarahi anak-anak buahnya.


“Apa jika abang bilang begitu semua akan berubah?” tanya balik Arka.


********


Bekasi

__ADS_1


21 Desember 2021


__ADS_2