Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 18 : Audisi


__ADS_3

“Gimana kabarnya mas?”


Wine yang kini berdiri tidak jauh dari Arka yang duduk di sofa, mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan diletakkan tepat di depan Anggi. Matanya sedikit melirik kearah Arka yang kini juga melirik kearahnya sebelum menjawab.


“Alhamdulillah baik. Kamu datang kesini untuk meliput kan? Kenapa bisa sampai sini?”


Wine mengambil posisi duduk di samping Arka. Mbak Alin dan Kais langsung pergi begitu Anggi datang, meninggalkan mereka bertiga dengan suasana yang rasanya begitu dingin bagi suaminya. Meski Wine sudah mengatakan jika Anggi yang memberi info mengenai keadaan Arka, namun masalah foto itu masih membuat keadaan terasa begitu mendebarkan.


“Iya mas. Rekan saya masih di lapangan.”


“Terus kenapa disini?” tanya Arka ulang.


Wine hanya menjadi penyimak dengan senyuman yang ditarik paksa. Arka yang menyadari hal itu kini menggenggam tangan kanan Wine erat dan jelas saja hal itu tak luput dari pandangan Anggi yang kini tersenyum masam melihatnya.


“Buat liat mas. Saya dengar dari tentara lain kalau mas dilarikan ke rumah sakit”


Wine yang tak masalah dengan Arka yang mengobrol bersama Anggi asal ada dirinya juga kini asik menggulir layar ponselnya, menjelajah media sosial yang kini menampilkan beberapa foto gaya foto anak-anak.


Arka melirik waspada ke arah Wine sebentar sebelum akhirnya kembali menatap Anggi “Oh, saya baik. kebetulan Wine juga langsung datang begitu dengar kabar saya”


Senyuman tipis terbit di wajah Wine hanya dalam waktu 1 detik saja sebelum kembali memasang wajah santai menatap kearah layar ponselnya. Wine tak sedekat itu dengan Anggi hingga bisa mengobrol dengan wanita ini, maka dari itu Wine lebih memilih berselancar di media sosial.


“Saya kira mbak Wine belum sampai sini. Karena kemarin sempat ketemu sama saya. Maaf ya mbak salah ngasih kabar, saya kira mas Arka baik-baik aja”


Merasa diajak bicara sekarang, Wine meletakan ponselnya kemudian tersenyum manis Kearah Anggi ”Tidak apa-apa mbak. Saya malah bersyukur karena setidaknya saya bisa bernapas lega sampai ke rumah”


“Emang ketemu dimana?” tanya Arka berusaha untuk mencairkan suasana.


“Di rumah sakit mas” jawab Wine.


Ya. dirumah sakit, dan Anggi berniat untuk mewawancarai Ayu dalam kondisi yang tidak memungkinkan.


“Oh di rumah sakit”


“Iya mas. Aku sama Wine ketemu di rumah sakit kemarin” kali ini Anggi yang menjawabnya.

__ADS_1


“Ya udah mas. Saya kira tadi nggak ada Wine, jadi saya datang, barangkali mas butuh bantuan. Berhubung sudah ada istrinya saya pamit ya mas”


Nggak usah situ yang bantu juga udah banyak anak buah Arka yang bantu!.


Wine ikut berdiri begitu melihat Anggi berdiri. Wanita itu membungkuk sebentar sebelum akhirnya keluar dari ruangan. Meninggalkan Arka yang kini menatap horor kearah istrinya.


“Ciellah mas, mantannya perhatian bener sampai mau bantuin. Coba kalau nggak ada Wine, enak tuh mas udah dibantuin” sindir Wine.


“Ciellah ibu hamil cemburu” jawab Arka sambil menarik Wine kedalam pelukkannya.


“Ih mas bau ih. Lepas. Belum mandi kan?”


“Mas belum mandi juga masih cinta kan?” Arka semakin mengeratkan pelukkanya.


“Kalau aku belum mandi aja mas nggak mau deket-deket”


“Bukan nggak mau deket-deket. Kamu kan dari rumah sakit”


“Lah ini kan juga di rumah sakit”


“Bau ih!!”


“Biarin ih” Arka menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan membuat tubuh mungil yang tengah ia peluk bergerak seirama.


***


“Udah siap belum?”


Wine mengerjapkan matanya saat melihat Anya keluar dari rumah wanita itu sambil membawa satu tas besar yang ada ditangan kanan, tangan kirinya menuntun Arum yang hari ini terlihat begitu menggemaskan dengan baju katak warna pink yang kontras dengan kulit putihnya. Di belakang Anya ada mbak Loli yang ikut mengekor sambil menggendong Alun yang tertidur lelap.


“Buset dah itu bawaan nggak salah?” Ocha yang duduk di kursi samping Wine yang bertanya.


“Kagak. Punya bayi rempong”


Tak seperti Ocha dan Wine yang berada di mobil yang sama, Anya membawa mobil sendiri dengan pak Sulaiman sebagai supirnya hari ini. mbak Loli juga ikut mengingat Anya pasti akan rempong minta ampun mendandani Arum.

__ADS_1


“Lo mau ikut kontes apa mau liburan sih? Berapa banyak lo bawa baju Arum?” Wine hanya membawa masing-masing 2 stel untuk kembar, tapi Anya sepetinya membawa lebih dari 5 stel baju untuk 1 anak.


“Habis ini gue mau nitipin ke bapaknya. Me time lah gue. Bapaknya kerja mulu heran” keluh Anya.


Wine mengangguk setuju. Arka yang bilangnya akan kembali dalam 2 hari, nyatanya sampai akhir pekan pria itu belum juga pulang, meski bedanya kali ini Arka selalu memberi info kepada Wine satu jam sekali.


Ocha yang belum menikah memutar bola matanya malas. “Ya elah. Pada lebay lo semua. Suami kerja, juga duit masuk ke dompet lo pada”


“Baru tunangan lo. Kalau udah nikah baru ngerasain “ jawab Wine. Kais adalah TNI Angkata Udara. Jika atasannya saja sibuk, anak buahnya jelas akan lebih sibuk.


“Beres semua. Cahyo berangkat” seru Anya.


Tempat audisi yang berada disalah satu pusat belanja terbesar di Jakarta tak terlalu jauh dari tempat mereka tinggal. Asalkan jalanan tidak macet saja mereka bisa sampai disana dalam waktu kurang dari 1 jam. Dan benar saja, hanya butuh waktu kurang dari 45 menit, mobil Anya dan Wine sudah terparkir cantik di basement mall.


Ocha mengambil alih Alun dari tangan mbak Loli dan membiarkan wanita ini membawa tas berat Anya. Mbak Laksmi menggandeng Arsya sedangkan Wine menggandeng Aaras dengan gitar kecil yang menggantung di leher bocah ini.


“Ibun aku boleh bawa gital kan ya?” tanya Aaras selagi mereka semua berjalan menuju tempat audisi berada.


Untuk sekarang Wine masih mengangguk mengiyakan ucapan Aaras. Nanti saat di tempat audisi dan sang juri tidak mau jika mambawa gitar, maka Wine akan memilih untuk mundur saja ketimbang membuat putranya menangis ditempat umum.


Begitu sampai dilantai dimana audisi diadakan. Beberapa anak dengan pakaian modis berjejer rapih menunggu giliran untuk di foto. Tak heran sebenarnya karena yang mengadakan pencarian model ini adalah majalah anak terkenal, maka dari itu banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya menjadi model sampul majalah.


Masalahnya adalah tipe Aaras yang tak bisa diam ini tak akan mau untuk mengantri panjang seperti itu. dan semuanya sudah terbukti begitu Aaras langsung berlari ke sana dan ke sini bahkan sempat menghalangi kamera.


Meletakan tas yang berisi baju ganti depan Ocha, Wine langsung maju ke depan dan menarik Aaras untuk kembali mengantri dibelakang. Beberapa juri terlihat tertawa melihat tingkah ajaib putranya ini.


Bukan hanya berlari saja, Aaras bahkan sempat berdiri didepan kamera yang merekam acara lalu menyengir yang membuat semua orang bisa melihat tingkah bocah ini dari layar besar yang dipasang.


Begitu berhasil menarik Aaras kembali ke belakang, Wine langsung memangku Aaras dan menguncinya agar tak bisa bergerak lagi.


“Abang dengerin ibu. Abang mau di foto kan? Tunggu dulu, gantian baris”


“Baris kaya ayah ya bun? Kaya kita yang mau ambil makan siang di kantor ayah. Kaya pesawat juga” bukan Aaras yang menjawab, melainkan Arsyalah yang menjawab.


“Iya adek betul. Kita tunggu dipanggil ya”

__ADS_1


Arsya dan Aaras mengangguk bersamaan. Meski Wine tahu 10 menit ke depan Aaras akan kembali bergerak sesuka hati.


__ADS_2