
"Dek ayo ke rumah sakit" ajak Arka.
Wine yang tengah mengkonde rambutnya menatap suaminya dari pantulan cermin. Sejak tadi pagi, bahkan sejak semalam saat Wine mengeluh kesakitan Arka sudah heboh meminta Wine agar segera pergi ke rumah sakit. Namun Wine yang jelas mengetahui kondisi tubuhnya ditambah lagi besok adalah acara pernikahan Ocha jelas menolaknya mentah-mentah. Lagi pula nyatanya sakitnya juga tak bertahan lama, hanya sekitar 20 menit rasa sakit itu berangsur-angsur mereda. Berpengalaman dari saat mengandung kembar, Wine sering kali mengalami kontraksi palsu, maka hamil kedua Wine tak lagi panik seperti dulu. Berbeda dengan Arka yang sudah uring-uringan sejak semalam.
"Nanti sampai ijab qobul ya mas. Ibun janji bakal langsung ke rumah sakit"
"Semalam kamu mules loh dek"
"Itu mah karena pengin ke toilet aja mas. Ini buktinya nggak mules lagi"
"Nanti kalau pas acara mules lagi gimana? Nggak lucu kan kalau lagi serius baca ijab qobul eh kamu malah kesakitan. Yang ada orang-orang bisa ngeliatin kamu semua"
Wine menyematkan penjepit di kepalannya "Ya kalau sakit tinggal kode ke kamu. Nggak bakal teriak. Tenang"
Satu helaan napas lelah keluar dari Arka "Apa nggak lebih baik periksa? ini udah HPL kamu kan?"
"Janji cuman sampai jam 9 aja mas. Setidaknya pengin denger Ocha sah jadi istri, bukan perawan tua"
"Terserah kamu lah" Arka akhirnya menyerah.
Saat melihat suaminya itu berjalan keluar dari kamar, Wine kembali bicara. "Liatin kembar udah pakai tuxedo belum ya mas"
Arka hanya mengibaskan tangannya sebagai jawaban.
**
"Widih uhuy, udah nggak pucet lagi tuh muka. Ajib dah mbak Nina" Wine dengan Arsya yang ia gandeng berjalan memasuki kamar pengantin. Hanya dari pantulan cermin, Wine bisa melihat bagaimana wajah sahabatnya di sulap menjadi bak seorang putri pagi ini. Gaun putih yang berakhir dengan meminjam milik Anya karena tak ada model yang Ocha sukai hampir di 3 toko gaun berakhir terlihat mempesona di tubuh ramping Ocha. Satu mahkota kecil dengan ornamen berlian tersemat manis diatas kepalanya.
"Gue juga kaget ngeliat dia barusan" timpal Anya yang juga berada di kamar ini. Wanita itu menggendong Arun yang tertidur lelap. Sedangkan Arum duduk di samping Ocha sambil memainkan bunga melati.
Melihat Arum, Arsya langsung ikut bergabung dan memainkan bunga melati yang memang sengaja disebar di atas kasur.
"Adek ganteng banget ih. Bajunya sama aunty warnanya sama" girang Ocha. Dia memangku paksa Arsya yang jelas langsung ditolak bocah laki-laki itu. Jika sudah bermain dengan Arum, Arsya benar-benar tak bisa diganggu.
__ADS_1
"Aaras mana?" tanya Ocha.
Dahi Wine berkerut bingung saat pertanyaan itu masih saja terlontar padahal Ocha membuat panggung orkes super besar di depan.
"Menurut lo?" tanya balik Wine. Perut yang sudah semakin besar membuat Wine tak sanggup untuk berdiri terlalu lama. Maka dari itu Wine memilih untuk duduk di sofa sebelah Ocha sambil menyandarkan punggungnya. Sudah masuk ke HPL membuat napasnya semakin sulit.
"Lagian lo, perut udah gede gitu masih aja kelayaban. Bukannya di rumah sakit" omel Ocha. Jika Wine tak menghadiri pernikahannya karena mempersiapkan persalinan, Ocha juga tak akan keberatan sama sekali.
"Bawel. Jangan kaya mas Arka deh" gerutu Wine. Sejak pagi Arka sudah khotbah panjang kali lebar agar dirinya lebih memilih untuk datang ke rumah sakit ketimbang ke acara pernikahan Ocha. Wine jelas menolaknya, setidaknya Wine ingin melihat sampai ijab qobul. Lagi pula suami Ocha juga adik kandung Arka, tak etis jika mereka tak datang sama sekali. Meski itu hanya akal-akalan Wine saja.
"Lah orang lo udah engap begitu. Sana gih pergi ke rumah sakit." usir Ocha.
Wine menggeleng "Nanti sampai Kais ngucapin ijab qobul"
"Bisa berantakan kehikmatan ijab qobul gue kalau lo tiba-tiba kesakitan"
Bola mata Wine memutar malas " Dih kaya mas Arka banget sumpah!"
"Terserah lo aja lah" timpal Ocha.
Pengantin wanita itu kini malah mendekati Arsya dan mencubit pipi Arsya gemas. Biasanya Arsya dan Aaras paling menolak jika menggunakan tuxedo, alasan keduanya karena merasa gerah dan lebih memilih untuk menggunakan kaos. Maka dari itu melihat Arsya menggunakan tuxedo membuat Ocha merasa terpesona.
"Aaras nggak mau naik? sumpah gue penasaran, pengin liat dia pake tuxedo" ucap Ocha semangat.
Bersamaan dengan itu, Aaras masuk ke dalam kamar dengan kondisi yang sudah jauh dari kata rapih. Putra Wine itu kini hanya menggunakan kaos dalam dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Ocha yang melihat itu mengerucutkan bibirnya, Anya tertawa terbahak-bahak hingga Arun terbangun sedangkan Wine yang sedang hamil tua hanya menghembuskan napasnya pasrah. Ini bapaknya ke mana sih?!
"Baju abang mana?" tanya Wine begitu Aaras dengan santainya ikut bergabung bermain dengan Arum dan Arsya.
"Titip om kais" jawab Aaras singkat.
Anya yang langsung membayangkan adegan Kais yang baru datang dengan wibawa penuh dan niat yang mantap untuk mengucapkan ijab qobul namun malah mendapat baju milik Aaras membuatnya kembali tertawa.
"Ayah mana?" tanya Wine. Mas Arka kadang jika sudah bertemu dengan temannya yang satu angkatan suka lupa dengan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Di bawah" jawab Aaras lagi.
Dengan perut besarannya Wine segera turun ke lantai satu demi menemukan suaminya. Saat tatapannya bertemu dengan Kais yang sudah duduk didepan meja sambil menunjukkan baju Aaras, Wine langsung berjalan cepat seolah tak memiliki perut besar, beberapa ibu-ibu yang melihat Wine jalan cepat bahkan meringis ngeri.
"Wine jangan cepet-cepet!" pekik ibu.
Wine langsung mengambil baju milik Aaras dari tangan Kais dan matanya langsung ia edarkan ke seluruh sudut ruang tamu yang kini disulap sebagai ruangan ijab qobul. Syukur sang penghulu belum datang, jadi Wine tak benar-benar merusak acara pernikahan sahabat sekaligus adik iparnya sendiri.
Dan ketika matanya menemukan Arka yang tengah asik mengobrol dengan sekumpulan orang di sudut ruangan. Helaan napas kesal ke luar dari mulut Wine. Terlebih saat matanya melihat sosok wanita satu-satunya dalam kelompok itu yang tersenyum malu-malu didepan suaminya, membuat emosi Wine naik berkali-kali lipat.
Oh lagi genit sama cewek. Pantes sampai lupa sama anak.
Wine langsung berjalan mendekati suaminya. Namun hanya tinggal 5 langkah lagi, perutnya tiba-tiba mulas luar biasa hingga kakinya tak sanggup lagi untum berdiri. Sepertinya anaknya akan menyapa dunia sekarang.
"Abang Tua!!" pekik Wine.
Setelah panggilannya barusan. Wine bisa melihat Arka membalikkan badannya dan langsung berlari ke arah Wine yang sudah berdiri sambil tangannya menahan pada meja. Beberapa orang disini terlihat ikut khawatir melihat kondisi Wine.
"Ayo ke rumah sakit dek. Kamu ngeyel sih ya" omel Arka begitu sampai didekat Wine. Tangannya sudah siap menggendong istrinya namun berhenti saat Wine malah menolak untuk di gendong.
"Tunggu. Jadi sekarang bukan mbak Anggi lagi tapi cewek itu mas?" tanya Wine dengan raut wajah yang menahan sakit.
"Maksudnya?"
"Cewek itu" Wine menunjuk wanita yang menatap khawatir padanya dengan dagu.
Seakan baru sadar kemana arah pembicaraan Wine. Arka melotot seketika " Astaghfirullah dek. Ini kami udah mau lahiran masih aja mikirin yang macem-macem" Arka berniat untuk menggendong Wine namun lagi-lagi ditahan "Apa lagi sih dek?"
Wine tersenyum miring " Kita ke rumah sakit dulu. Tapi habis dedek lahir kamu harus jawab semua pertanyaan aku"
"Allahhuakbar" tak lagi memperdulikan ucapan Wine. Arka langsung menggendong Wine dan berlari menuju mobilnya. Jika masih di ladeni maka tak akan ada habisnya.
**
__ADS_1