
“ Serius Win? Mulai kapan?”
Anya yang masih penasaran kembali mengajukan pertanyaan saat jam istirahat. Sedangkan Ocha, gadis itu sangat santai sambil makan bakso berkuah super pedas didepannya.
“ Sejak gue kecelakaan”
“ Dimana-mana ngga ada kecelakaan yang disengaja cerdas” Ocha dengan mulut pedasnya mulai mengikuti pembicaraan mereka.
Wine tak peduli. Toh memang ada benarnya jika semua yang dilakukan diarena balap kemarin adalah suatu hal yang disengaja, sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya.
“ Terus-terus. Bang Arka kan udah matang, lo diajakin nikah dong?”
Bakso yang ada dimulut Wine menyembur seketika. Bukan mengenai kata nikah, namun kata ‘matang’ yang diucapkan Anya itu terdengar begitu menggelikan. Bukan hanya Wine, Ocha juga ikut tersedak kuas pedas hingga matanya mengeluarkan cairan bening.
Anya kadang memang tak bisa memilih kata yang enak didengar, apa yang ada dikepala gadis ini, maka itulah yang akan keluar.
“ Matang. lo kira makanan!” omel Ocha.
“ Ya matang dong. Kerjaan oke, punya duit pasti banyak, beli rumah tinggal gesek kartu doang. kalo umur udah kisaran 30 mungkin ya?”
Jika Arka mendengarnya sekarang, Wine yakin pria itu akan ngedumel tak jelas, akan memanyunkan bibirnya satu hari penuh. Atau mungkin akan berteriak ‘ Perlu KTP ku?’. Membayangkannya saja membuat Wine tertawa sendiri.
“ 27, umurnya 27”
“ Serius demi apa?” ekspresi Anya sekarang sangat mirip dengan ekspresinya saat pertama kali mendengar umur Arka.
“ Muka tua begitu umur 27?”
Kali ini ucapan Ocha yang membuat Wine kembali terbahak. Sungguh nista sekali muka Arka dimata mereka semua.
“Tapi ganteng sih” Anya menimpali.
Wine langsung mengangkat tangannya mengajak Anya untuk high five. Soal ganteng, Anya dan Wine memang jagonya.
“ Lah kakek gue ganteng noh. Lo masih pada mau?” Ocha tak habis pikir dengan jalan pikiran ke dua sahabatnya itu.
Baik Wine dan Anya mengangguk bersamaan. Jangan berharap bisa mendapat jawaban serius dari kedua manusia yang entah datang dari planet mana ini.
Wine dan Ocha berteman sejak kecil. Sedangkan Anya mereka mulai bertemu sejak SMP dan berteman hingga sekarang. Bagi Ocha memiliki teman seperti Wine saja sudah hampir membuatnya gila, dan 5 tahun yang lalu Anya datang membuat Ocha harus sering-sering mengelus dada agar tak ketularan gila. Setidaknya diantara mereka harus ada yang normal satu orang.
“ Lo diajak nikah ngga sama bang Arka?” Anya kembali bertanya.
__ADS_1
Tidak langsung menjawab, Wine berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk “ Diajakin. Tapi lo tahu kan big no untuk nikah sama angkatan udara”
Anya dan Ocha menganggukkan kepalanya bersamaan. Kedua temannya ini tahu alasan Wine sangat menghindari berhubungan serius dengan angkatan udara. Apalagi jika bukan kehidupan kedua orang tuanya yang membuat Wine takut untuk menjalin hubungan dengan angkatan udara. Tugas mereka yang kada berhari-hari keluar kota membuat Wine takut apa yang terjadi pada babanya akan terulang lagi dan terjadi pada pasangannya sendiri.
***
“ Kapan abang dapet surat tugas ini?”
Wine melipat kembali kertas yang baru saja selesai ia baca. Sepulang sekolah Arka minta untuk bertemu sekaligus mengantarkan Wine pulang ke rumah ibu nanti. Sekarang mereka tengah berada di kafe yang lumayan jauh dari sekolah mengingat mungkin saja ada guru atau murid lain yang akan melihatnya jika mereka memilih kafe yang dekat dengan sekolah.
“ Minggu yang lalu”
“ Ko abang baru ngomong sekarang?” Wine menatap Arka yang tengah menyesap kopinya santai.
“ Niatnya setelah dapat surat tugas abang bakal ngomong langsung ke kamu. Cuman berhubung kondisi kamu juga belum terlalu sehat, jadi abang tunda sampai hari ini”
Wine mengangguk. Sebenarnya tidak masalah jika mereka tidak bertemu 1 hari ini, namun ini lebih dari 5 hari Arka harus terbang ke Solo membawa pesawatnya sendiri dan mengurusi semua urusan disana. 5 hari akan terasa seperti 5 tahun bagi Wine nanti.
“Kamu juga ujiankan minggu depan. Itu lebih baik, kamu bisa fokus belajar kalau gitu”
“Cuman 5 hari kan bang? Ngga nambah-nambah?”
Arka mengangguk. Menarik tangan Wine yang berada diatas meja kemudian menggenggamnya erat.
“ Oke” kertas tugas yang sudah ia lipat dikembalikan ke Arka. Cuman 5 hari, toh dirinya juga akan sibuk untuk ujian. Tidak akan menjadi masalah besar sepertinya.
“ Dek”
Wine mengulum senyumnya saat panggilan yang tak terbiasa ia dengar dari Arka masuk ke indra pendengarannya. Sejak kapan laki-laki ini memanggilnya dengan sebutan Dek?.
“ Iya mas ganteng” goda Wine balik. Jangan hanya dirinya saja yang tersipu malu. Arka juga harus merasakannya. Dan saat melihat wajah Arka yang bersemu, Wine tertawa lepas.
“ Geli, kaya biasa aja deh” ucap Arka yang membuat Wine kembali tertawa.
“ Wine merinding dengernya bang”
“Sama”
Lagi, tawa mereka kembali menggema di kafe sore ini. berbicara dengan Arka memang tak ada habisnya untuk membuat Wine tertawa. Semakin mengenal pria ini, Wine semakin tahu jika sifat Arka kadang tak beda jauh dengannya.
“ Setelah ujian. Mau ketemu keluarga abang di Jogja ngga Win?”
__ADS_1
Pertanyaan itu akhirnya kembali Wine dengar. Wine tak menjawab, suasana yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi canggung hanya karena 10 kata tadi.
Merasa ada yang berbeda, Arka kembali menggenggam tangan Wine erat “ Abang ngga maksa kamu buat nikah sama abang. Abang cuman ingin ngenalin kamu sama orang tua abang”
“ Beri Wine waktu sampai ujian sekolah buat mikir ya bang. Wine jawab setelah abang pulang dari Solo”
Tak ingin mengacaukan suasana pertemuan mereka, Arka mengangguk setuju. Biarkan semuanya jalan pelan-pelan, tak harus sesuai dengan rencana yang telah dirinya rancang jauh-jauh hari.
“ Mau hadiah apa dari abang setelah ujian selesai?” Arka kembali bertanya. Wine yang sebelumnya menundukkan kepalanya kini kembali menatapnya dengan tatapan berbinar.
“ Jalan-jalan gratis mungkin? Kalau abang libur aja”
“ Abang masih punya jatah cuti 1 minggu tahun ini. kita ke Jakarta setelah kamu selesai study tour ya? sambil lihat-lihat kampus yang pengin kamu tuju”
Wine mengangguk antusias “ Ocha sama Anya boleh diajak kan bang?”
“Boleh. Ajak mas ganteng kamu juga boleh”
Dahi Wine mengernyit bingung. Menatap Arka dengan senyuman tipis yang kini sudah melepaskan tangannya dan kembali menyesap kopinya. Wine sengaja tak bersuara, hanya menatapnya dengan tatapan curiga namun berbunga-bunga yang membuat Arka kini menatapnya dengan dagu yang digerakkan maju beberapakali. Seolah dengan gerakan itu tengah beritanya ‘ Kenapa? Apa?’.
“ Abang cemburu ya?” goda Wine.
“ Siapa? Abang? Ngga tuh. Ngapain juga cemburu”
Wine menganggukkan kepalanya. Menegakkan posisi tubuhnya kemudian melipat tangannya didepan dada “ Oh ngga ada yang cemburu. Oke deh nanti Wine ajak juga mas ganteng Wine”
Mata Arka membulat seketika “ Serius kamu mau ngajakin dia?”
“ Ya kata abang kan boleh tadi”
Dari sini Wine bisa melihat Arka menghela napasnya, sebelum akhirnya menyesap kembali kopinya.
“ Oh ya udah” ucapnya ketus.
“ Ya udah”
Sungguh kenapa pria yang sudah berstatus menjadi pacarnya ini sangat menggemaskan sekarang. Rasanya Wine ingin mencubitnya dan mengubah Arka menjadi boneka beruang. mari kita lihat siapa yang akan bertahan.
***
Bekasi,
__ADS_1
7 Desember 2021