Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 29: Kesempatan dalam sandiwara


__ADS_3

“Mas”


Ucapan seseorang dari arah belakang membuat Wine dan Arka menoleh seketika. Di belakang mereka, wanita yang Wine lihat tadi sudah berdiri dengan memasang ekspresi tak suka padanya. Bukan hanya wanita itu, Ocha dan Anya juga berdiri disamping wanita itu dengan ekspresi tak percaya melihat Arka ada disini.


Saking asiknya mengobrol, Wine dan Arka tak meyadari jika disekeliling mereka yang sebelumnya sepi sudah kembali ramai karena film telah selesai.


“Hai Cha, Nya. Gimana kabarnya?” ucap Arka memecah kesunyian diantara mereka.


Wine langsung ditarik oleh Anya agar berdiri di samping mereka. sedangkan wanita itu sudah berdiri di samping Arka.


“Waw. Lihat abang disini hampir buat jantung Anya loncat bang” celetuk Anya yang membuat Arka tertawa.


“Ocha baik alhamdulillah bang. Gimana kabar abang?” Ocha ikut menyahut.


“Alhamdulillah baik” jawab Arka.


Dari tempatnya berdiri Wine bisa melihat jika wanita itu berusaha untuk melingkarkan tangannya ditangan Arka namun selalu ditolak oleh pria itu.


“Siapa mereka mas?” tanyanya.


Arka mengenalkan satu persatu kepada wanita itu. mulai dari Anya yang mendapat sambutan hangat, Ocha juga sama. Hingga saat Arka memperkenalkannya, Wine tahu wanita itu tengah menilai dirinya dengan melihat dari atas hingga ujung kaki sebelum akhirnya tertawa yang tak Wine ketahui artinya. Jika bukan mengejek maka tawa itu ditunjukan untuk merendahkannya.


“Wine” Wine mengulurkan tangannya dan dibalas hanya dengan senyuman.


“Anggi”


Childish banget ini orang. Cantikan juga gue kemana-mana.


“Senang ketemu dengan abang lagi dan mbak.. siapa? Ang.. Ah Anggi. Kita cabut dulu ya bang” Ocha yang sepertinya juga ilfill dengan Anggi langsung menarik Wine dan Anya keluar dari wilayah bioskop. Mending belanja dari pada ngeliat wanita murahan seperti Anggi barusan.


Mengerti jika tengah mendapat tatapan selidik dari Ocha dan Anya. Setiap kali melewati toko baju di mall ini Wine selalu membahas pakaian yang mereka liat. Menanyakan bagus atau tidak jika dipakai di tubuhnya meski berulang kali hanya mendapat tatapan yang penuh dengan selidik itu.


Menyerah. Wine memilih duduk disalah satu bangku terdekat, melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap penuh keangkuhan kepada kedua temannya yang kini berdiri menjulang tinggi didepannya yang duduk.


“Lo pada mau tanya apa hah?” Wine mengangkat dagunya setinggi mungkin. Tak mau ketahuan terintimidasi oleh tatapan mereka sekarang.


“Lo sejak awal udah sadar ada bang Arka di bioskop ya? makanya lo ngga bisa duduk tenang?” tanya Ocha.


“Nggak. Siapa bilang? Gue ketemu dia pas habis keluar dari toilet” bohong Wine yang jelas akan berakhir ketahuan oleh Ocha.


“Alah ngga usah ngelak lo” Anya mengambil posisi duduk di samping Wine.


Ocha masih berdiri sambil berkacak pinggang. “ Kapan lo ketemu pertama kali?”


Melihat Ocha yang super tinggi itu, membuat leher belakang Wine mulai terasa sakit. Sebaik mungkin Wine memposisikan kepalanya tetap mendongak penuh keangkuhan. Gengsi dong kalau ketahuan luluh lagi sama Arka. “ Barusan pas ke toilet”

__ADS_1


Anya menundukkan kepala Wine paksa dengan satu pukulan “Bohong aja terus lo”


Wine mengusap bagian kepalanya yang sakit “ Siapa yang bohong?”


“Lo” Ocha menunjuk Wine dengan jari telunjuk “Diliat dari lo yang ngga canggung sama sekali ngobrol sama bang Arka. Lo masih suka sama dia ya?”


Tamat. Ketahuan sudah. Berpura-pura menjawab tidak jelas tak akan menghasilkan apapun. Ocha yang super peka itu sudah menduganya.


“Kalau iya emang kenapa?” tanya Wine balik.


Anya memaksa Wine duduk menghadapnya “Serius lo? Udah 1 tahun lo Win”


“Gue juga ngga tahu. Gue pikir juga udah ilang. Tapi nyatanya saat gue nabrak dia hingga popcorn gue pada jatuh. Gue ngerasain hal yang udah lama ngga pernah gue rasain”


“Lupain. Lo harus ngelupain. Lo liat kan ada cewek di samping bang Arka tadi?”


Wine mengangguk setuju dengan ucapan Anya. Dirinya memang harus melupakan Arka secepatnya. Mungkin menerima ajakan Ainan untuk berkencan dengannya adalah suatu hal yang baik.


“Bukannya ngelarang. Cuman gue ngga mau ngeliat lo hancur kaya dulu Win” ucap Ocha lirih. “Lo yang gila di perpus sampai lupa makan, sampai akhirnya dirawat karena magh akut dan usus buntu. Gue nggak mau lihat lo diposisi begitu lagi”


“Gue juga” Anya memeluk Wine erat “ Datang aja ke kafe yang Ainan minta. Coba pacaran sama dia”


“Jangan sama Ainan. Cari yang lain” tolak Ocha


“Nanti gue cariin cowok yang baik dan taat agama di fakultas gue.”


***


Sudah lebih dari 5 menit, Wine menatap layar ponselnya. Beberapa pesan dari Ainan yang berisi jika pria itu tengah menunggunya di kafe Wine abaikan begitu saja. Satu pesan yang baru masuk 5 menit yang lalu membuat Wine seolah berubah menjadi patung yang diukir lengkap dengan bentuk ponsel keluaran terbaru dari produk apel yang digigit setengahnya itu.


Pesan dari Arka yang membuat Wine terdiam cukup lama. Pria itu mengajaknya bertemu di kafe yang tak jauh dari kampus. kafe dimana dirinya janji akan bertemu dengan Ainan malam ini.


Seharusnya ini kesempatan Wine untuk menunjukkan jika dirinya baik-baik saja tanpa pria itu. namun Wine rasanya enggan untuk melakukannya. Alih-alih berdiri dan keluar kamar, Wine yang sudah rapih dan cantik itu malah merebahkan tubuhnya di atas Kasur.


Biarkan saja dirinya tak ingin menemui salah satu dari pria itu.


“Loh ko malah tiduran kamu sih Win. Ngga jadi pergi?”


Mbak Mey. Koordinator kost sekaligus penghuni kamar sebelah memukul kaki Wine dengan buku.


“Males mbak”


“Lah udah cantik begono malah males. Gimana sih kamu Win?”


“Males aja mbak. Pengin rebahan aja rasanya. Besok udah mulai ngampus soalnya”

__ADS_1


“Idih aneh. Udah sinih, mbak mau minta iuran buat bikin kejutan Kiki”


Wine merubah posisinya menjadi duduk. Mbak Kiki juga salah satu penghuni kost rumah berlantai dua ini “ Oh iya. Mbak Kiki mau ulang tahun ya mbak”


Wine membuka dompetnya dan memberikan selembar uang 20.000 sesuai dengan kesepakatan bersama “Mbak liat Ocha sama Anya ngga?”


“Ocha ada di ruang baca. Kalau Anya tadi ada cowoknya yang jemput, terus pergi deh mereka” jawab mbak Mey kemudian berlalu pergi begitu saja.


Wine kembali merebahkan badannya. Keputusannya sudah bulat, dirinya tak akan pergi kemanapun malam ini. bergabung dengan Ocha setelah rebahan 1 jam kedepan adalah keputusan akhirnya.


“Win.. ada yang nyari lo nih”


Baru saja ingin kembali merebahkan badannya. Teriakan mbak Mey yang sepertinya sudah berada dilantai satu terdengar begitu kencang. Alih-alih menggunakan bel yang memiliki bunyi berbeda setiap kamar guna mempermudah jika ada tamu, mbak Mey kadang lebih memilih untuk berteriak.


Siapa lagi jika bukan Ainan. Pria yang menggunakan kaos berwarna biru dongker itu langsung bangun saat Wine menemuinya di ruang tunggu.


Jika sudah sekali mengiyakan, maka janji dengan Ainan tak bisa dibatalkan sama sekali.


***


Tak begitu yakin jika Wine akan datang menemuinya setelah pesan yang dirinya kirim hanya di baca saja.


Arka yang sudah berada di kafe menatap jalanan yang ramai dari balik dinding kaca. Arka meminta bertemu jam 8 malam. Dan sekarang sudah 30 menit dirinya menunggu belum ada tanda-tanda Wine datang.


Mengambil ponselnya, Arka kembali mengirim pesan kepada Wine.


Arka: abang udah di kafe dek. abang tunggu kamu ya.


Arka menyesap kopinya. Setelah ditakdirkan untuk bertemu kembali, Arka tak akan melepaskan gadis itu begitu saja, setidaknya usahanya 1 tahun ini tak boleh berakhir menyedihkan.


Saat lonceng yang menggantung di pintu berbunyi. Kepala Arka sontak menoleh ke sumbar suara. Disana Wine tengah memasuki kafe yang membuat senyum Arka merekah seketika, namun saat matanya menangkap pria yang ikut masuk dibelakang Wine, tanda tanya besar muncul di kepala Arka sekarang.


Wine tidak datang sendiri. Gadis itu datang dengan pria lain yang sepertinya seumuran dengan Wine. Meski begitu Arka tetap melambaikan tangannya agar Wine melihat keberadaannya. Sudah dibilang kan Arka tak akan melepaskan Wine begitu mudah?.


Arka sedikit bingung saat Wine kini malah tersenyum cerah dan berlari dengan gerakan manja ke arahnya. Gerakannya seperti seorang pacar yang sudah tidak bertemu begitu lama. Arka sih mau-mau saja, apalagi saat Wine kini bergelayut manja di lengannya.


“Bantu Wine sebentar bang” bisiknya.


Melihat pria yang tadi datang bersama Wine menatapnya dengan tatapan memicing tak suka. Benang kusut yang membentuk tanda tanya besar itu kembali lurus seketika, Arka paham situasi macam apa yang ada didepannya saat ini.


Tenang Arka sangat pandai bersandiwara sebagai pacar. Maka demi menunjang perannya, Arka kini memeluk Wine dan mencium kening gadis ini dalam. Tak peduli dengan reaksi tubuh Wine yang tiba-tiba membeku karena terkejut dengan tindakannya barusan.


“Abang kangen banget sama adek” ucap Arka dengan senyuman menawan. Perihal Wine yang mungkin akan berubah menjadi mak lampir nanti, itu adalah urusan belakangan.


Bekasi

__ADS_1


24 Desember 2021


__ADS_2