
“Bukanya abang harusnya ngomong sama Wine? Bukan diem aja dari pagi kaya gini?!” emosi yang sejak pagi sudah ditahan meledak seketika.
Wine terkejut saat Arka yang biasanya memiliki tatapan lembut kini berubah begitu tajam. Tatapan yang sama persis ketika pria tengah memarahi anak-anak buahnya.
“Apa jika abang bilang begitu semua akan berubah?” tanya balik Arka.
Wine tertawa sakras. Jadi benar semua sikap dingin Arka sejak pagi adalah karena ucapannya pada budhe Ana kemarin. Ini adalah pertengkaran pertama mereka, dan Wine rasanya belum siap dengan semua yang terjadi detik ini.
“Apa jika abang bilang. Adek bakal jujur tentang pekerjaan abang sama budhe mu?”
“Alih-alih tiba-tiba marah kayak gini. Bukanya abang harusnya tanya alasannya dulu sama Wine?” tanya balik Wine. Masih dengan mempertahankan agar tak menangis, Wine menatap atap mobil sebentar demi menghalau rasa sedih yang menyesakkan dada. Wine tak ingin terlihat lemah sekarang, bahkan didepan Arka yang menatapnya sama persis dengan tatapan baba kepadanya.
“Alasan apa yang harus abang tanyakan? Semuanya juga pasti karena traumamu itu kan? Abang sudah bilang tidak semua orang yang bekerja sebagai angakatan udara itu seperti babamu. Banyak orang yang sayang dan setia dengan keluarganya di angkatan udara”
Wine menggeleng “ Tapi sayangnya. Baba adalah orang pertama yang menunjukkan sikap itu bang. Dan itu bukan cuman Wine yang trauma tapi juga semua keluarga mamah!”
“Terus abang harus gimana? Dengan kamu yang nyembunyiin profesi abang. Itu artinya kamu juga belum yakin sama abang, kamu ngga yakin jika abang bisa buat budhe kamu setuju!”
“Bukan mengenai setuju atau tidaknya. Tapi semuanya butuh waktu. Abang tahu itu!”
Kali ini Arka yang tertawa “Berapa lama? Dengan abang ikutan bohong mengenai profesi abang. Apa kamu ngga mikir kalau budhe mu tahu, abang akan semakin tak disukai?”
“Bukanya abang kemarin bilang mau tunggu Wine sampai siap?”
“Segala sesuatu akan ada batas waktunya dek”
__ADS_1
Wine segara menolehkan kepalanya ke jendela saat air mata yang sebelumnya ditahan akhirnya meluncur juga. Tak berniat meninggalkan jejak, Wine langsung menghapusnya dan menatap balik Arka yang kini juga terlihat matanya mulai memerah.
“ Wine belum siap bang. Kenjadian mamah buat Wine mimpi buruk bahkan sampai 3 tahun lamanya. Wine dan budhe harus dibawa ke psikiater untuk menghilangkan trauma itu. budhe hanya 1 tahun tapi Wine perlu 3 tahun buat ngejalanin itu karena Wine liat langsung ibu dan Kais meninggal di depan mata Wine.”
“Lalu kenapa kamu setuju buat jalanin ini sama abang jika itu hanya akan buat kondisi kamu semakin buruk?”
Kali ini tidak bersuara keras seperti tadi. Arka bertanya dengan nada lembut.
“Karena bertemu dengan abang pertama kali di kantor polisi, buat Wine terus pengin ketemu dan ketemu lagi”
Dirinya tak berbohong. Bertemu pertama kali dengan Arka dikantor polisi itu membekas begitu berarti didalam hati Wine. Terlebih pria itu juga tak berpura-pura tuli di skadron seperti bang Jaka dan Kenzo dulu membuat Wine merasa nyaman berada disekitar Arka.
“Wine ngga mau budhe langsung marah dan nggak setuju sama abang kalau tahu profesi abang sebenarnya”
Wine mengangguk “Wine tahu itu bang. Tapi jujur langsung juga ngga akan buat semuanya jadi membaik. Wine ngga bisa buat budhe marah lagi setelah kejadian yang dulu.”
“Hal itu juga yang buat abang kecewa dek”
Wine mengusap kembali air matanya. Dirinya tahu Arka pasti kecewa dengan semua yang dirinya lakukan, namun hanya itu cara terbaik saat ini dari pada jujur akan profesi Arka pada budhenya.
Setelah kejadian itu budhenya sengaja memutus kontak dengan baba. Wanita itu bahkan tak pernah bertanya bagaimana kondisi babanya saat dirinya berkujung ke Jogja, hanya padhe yang bertanya. Beberapa kali budhe juga meningatkan agar Wine tak sering mengunjungi skadron atau dekat dengan anak buah ayahnya karena takut jika Wine akan jatuh cinta pada salah satu anak buah ayahnya dan menjali hubungan dengan mereka.
Memang bukan profesi angkata udara yang salah. Semua profesi suaminya kelak dan mengharuskan bekerja diluar kota pasti akan membuat Wine sedikit ketakutan. Karena itu sejak kecil Wine bahkan tak berniat untuk menikah.
Setelah menarik nafasnya dalam Wine kembali bicara. “Terus abang maunya gimana? Hubungan kita selesai?”
__ADS_1
***
Arka tak menjawab. Pria itu merogoh kantong jaket Wine dan mengambil kunci, menyalakan mobil kemudian melajukannya menjauhi kawasan Malioboro. Pembicaraan dengan emosi yang memuncak tak akan menyelesaikan apapun. Maka dari itu Arka memilih untuk menyudahi pembicaraan ini secepatnya.
Perjalanan ke Jogja yang diniatkan untuk mengenalkan Wine dengan keluargannya dihari Minggu tak boleh berantakan karena hal ini. sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Arka fokus menyetir sedangkan Wine menatap keluar jendela dengan sesekali menghapus air matanya sendiri.
Melihat Wine menangis, ingin sekali Arka menarik gadis itu kedalam pelukannya. Namun kondratnya sebagai pria yang memiliki ego menahannya malam ini. Arka hanya sesekali melirik kearah Wine yang masih melihat keluar jendela.
Jalanan di Jogja yang lumayan sepi karena ini adalah malam Rabu membuat mereka sampai di rumah budhe dalam waktu kurang dari 1 jam. Wine yang hanya mengatakan ‘terimakasih sudah diantar’ langsung keluar begitu mereka sampai dan masuk kedalam rumah meninggalkan Arka yang merasa bersalah hanya diam didepan rumah budhe Ana. Tak langsung pergi, Arka menenangkan dirinya terlebih dahulu. Menyandarkan kepalanya di stir mobil sambil menarik napasnya dalam.
Kenapa harus menyulut pertengkaran?. Arka harusnya bisa bersikap jauh lebih dewasa didalam hubungan ini.
Tok tok tok.
Merasa ada yang mengetuk kaca jendela, Arka menegakkan badannya dan menemukan Wine tengah berdiri sambil memberikan isyarat agar Arka menurunkan jendela.
“Kayanya kita perlu mikir ulang untuk hubungan ini bang. Wine kayanya butuh waktu 1 minggu buat mikirin semuanya. Jadi mari untuk nggak bertemu 1 minggu kedepan bang. Maaf Wine ngga bisa nepatin janji buat dikenalin sama orang tua abang. Wine bakal kasih kabar ke abang 1 minggu kedepan” ucap Wine kemudian kembali masuk kedalam rumah.
Arka layaknya berubah menjadi patung saat mendengar sederet kalimat Wine barusan. Mulutnya seakan tak mau diajak kerja sama untuk menahan agar gadis itu tetap berada disisinya. Arka hanya diam bahkan setelah Wine menghilang dari balik pintu rumah yang kembali tertutup. Air mata yang sebelumnya tertahan akhirnya keluar juga membuat dadanya semakin sesak dan hatinya semakin perih. Selama 27 tahun hidup, baru kali ini Arka merasakan rasa perih yang amat menyiksa bahkan jauh lebih tersiksa dan sakit dari pada saat kakinya terkena kayu runcing tepat di betisnya saat pelatihan.
Dan detik itu juga Arka menyadari bahwa Wine begitu berharga baginya.
Bekasi
21 Desember 2021
__ADS_1