Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 31: Tangisan


__ADS_3

“Wine!!!!!!!!!”


Suara pintu kamar yang dibuka tiba-tiba membuat Wine menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sejak kembali ke kamar setelah pertemuannya dengan Arka, Wine menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan semua beban di dada hingga Wine yakin matanya pasti sudah membengkak. Anya tak boleh melihat kondisinya sekarang.


“Win? Yak lo sakit?”


Saat Anya berusaha menarik selimut, sebaik mungkin Wine menahannya dengan kedua tangan. Dirinya sedang tidak baik-baik saja, Wine tak ingin memperlihatkan dirinya yang kembali goyah karena Arka, bahkan kepada sahabatnya sendiri.


“Yak! Buka!. Gue pengin liat kondisi lo. Ayo ke dokter”


“Gue cuman butuh istirahat. Tolong keluar dari kamar gue ya An” ucap Wine lirih dari balik selimut.


Ucapan Arka tadi jelas mempengaruhi dirinya. Membayangkan bagaimana Arka mendapat penolakan selama hampir 1 tahun dari budhe membuat Wine merasa bersalah dengan pria itu. Saat tak suka dengan orang lain, budhe tak pernah bermain-main dengan semua tindakannya, wanita itu bisa saja menyiram dengan air, memukulnya dengan sapu hingga memberikan sumpah serapah. Membayangkan semua itu membuat hati Wine terasa sakit tiba-tiba.


Disisi lain Wine juga ragu jika Arka memang melakukanya. Bagaimana jika pria itu hanya berbohong demi mendapatkan hatinya kembali?, bagaimana jika Arka hanya akan kembali menderita jika berhubungan lagi dengannya?. Semua kekhawatiran yang tak berdasar itu membuat dada Wine terasa sesak.


Wine kembali menangis sesenggukkan saat suara pintu tertutup terdengar. Anya sudah keluar dari kamarnya, tinggal dirinya sendiri disini dan Wine tak ingin menahan rasa sesak didannya yang sudah hampir 1 tahun menumpuk seperti gunung. Sambil mengeratkan kembali selimutnya, Wine kembali menangis hebat.


Semua yang mengganggunya selama 1 tahun Wine keluarkan semua dalam bentuk tangisan. Mukanya ia pendamkan di bantal berharap agar suara tangisnya itu tak terdengar hingga luar.


“Bangun ngga lo!”


Srekk…….


Selimut yang ditarik paksa membuat Wine tak lagi bisa menyembunyikan kesedihannya. Didepannya sekarang, bukan hanya ada Anya melainkan ada Ocha juga yang kini menetapnya dengan tatapan heran dan khawatir. Anya bahkan langsung duduk di sampingnya dan memeluknya erat tanpa bertanya sama sekali.


Mendapat pelukan dari Anya membuat tangis Wine kembali pecah.


“Gue khawatir sama lo. Makanya gue manggil Ocha juga” Anya menepuk pelan punggung Wine, menenangkannya.


“Diapain lo sama Ainan? Gue gundulin pala dia beneran” Ocha yang sepertinya sudah naik pitam berdiri sambil berkacak pinggang.


“Gue denger dari Ergan kalau Ainan sampai datengin lo ke sini. Makanya gue khawatir lo diapa-apain sama dia” masih dengan tindakan yang sama, Anya menepuk pelan punggung Wine.


“Kan gue udah bilang jangan sama dia!. Udah ngebet banget apa keinginan lo buat kasih unjuk lo ngga kenapa-kenapa didepan Arka?” Ocha tetaplah Ocha, jika sudah marah maka Ocha sama sekali tak memperdulikan bagaimana kondisi dari pihak yang tengah merana ini.

__ADS_1


“Gue bakal cari alamatnya, dan gue gunduli palanya. Gue bakal pata…”


“Gue masih cinta sama bang Arka. Gue ngga ngerti harus gimana”


Ucapan Wine disela tangisnya itu membuat Ocha terdiam seketika. Tepat setelah mengatakan itu rasanya seperti ada batu besar yang tiba-tiba muncul menekan hatinya, rasanya begitu sesak hingga air mata Wine kembali mengalir deras meski kepalanya sudah mulai terasa pening karena terlalu lama menangis.


“Lo apa?” tanya Ocha lebih lembut sambil berjongkok didepan Wine.


Anya melepaskan pelukannya “Lo ketemu bang Arka tadi Win?”


Wine mengangguk. Saat putus tahun lalu, Wine berahasil untuk tidak menangis sama sekali, tapi nyatanya semuanya salah karena saat ini rasa sakitnya seolah bertambah dua kali lipat seakan air mata yang satu tahun lalu ditahan ikut keluar malam ini. memendam semua perasaan yang menyesakan dada adalah sebuah kesalahan.


“Sesak Cha. Gue… gue harus gimana?” Wine kembali menangis. Membayangkan semua hal mengerikan yang Arka alami demi kembali padanya, namun dirinya malah hidup nyaman dan menghindari Arka sebaik mungkin.


Ocha tak bicara, gadis itu kini gantian memeluk erat Wine sambil menghela napasnya lega. “Gue berniat buat ngenalin lo ke psikiater karena lo ngga nangis sama sekali sejak kejadian itu. tapi ngeliat lo malam ini, gue bersyukur karena lo ngeluarin semua yang ada di hati lo Win”


“Gue.. gue harus gimana Cha?”


“Nangis dulu Win. Lo harus nangis dulu sekarang, ada gue sama Anya disini” Ocha menepuk punggung Wine pelan.


Melihat kedua sahabatnya, Anya ikut menangis dan ikut memeluk kedua sahabatnya itu erat.


Setelah hampir 15 menit saling berpelukan dan menangis, Ocha dan Anya melepaskan pelukannya dan memberikan Wine minum. Wine sudah jauh lebih tenang, dan mereka siap untuk mendengarkan semua cerita Wine sekarang.


“Lo ketemu sama bang Arka tadi?”


Wine mengangguk menjawab pertanyaan Ocha.


“Pantes. Di group yang sama dengan Ergan, Ainan marah-marah ngga jelas dan nyebut nama lo. Makanya gue langsung balik buat ngecek kondisi lo” kali ini Anya yang bicara.


“Terus apa yang terjadi?” Ocha mengambil gelas ditangan Wine dan meletakkannya di meja.


“Gue minta bantuan bang Arka buat jadi pacar gue”


Anya mengangguk. Alasan Ainan marah-marah di group sudah diketahui.

__ADS_1


“Pas Ainan pergi. Gue sama bang Arka pergi buat makan di restoran depan”


“Terus?”


“Dia, dia ketemu budhe selama satu tahun terakhir dan jujur sama profesinya”


Meski tak menangis 1 tahun yang lalu, Wine tetap menjelaskan hal apa yang membuat mereka putus. Dirinya yang berbohong dengan profesi Arka karena budhe pasti tak menyukai profesi Arka juga tak luput dari cerita Wine tahun lalu.


“Lo nangis karena lo ngerasa bersalah?” Ocha menggenggam tangan Wine erat.


“Lo tahu kan Cha gimana budhe, gue ngga bisa ngebayangin apa aja yang diterima bang Arka dari budhe 1 tahun belakangan”


“Tapi dia sehat kan sekarang? Dia ngga kenapa-kenapa”


Bagi sebagian orang, atau mungkin bagi Anya, ini mungkin adalah hal sepela. Tapi bagi Wine dan Ocha yang tahu persis karakter budhe, hal ini memang sedikit menghawatirkan.


“ Dilihat dari bang Arka yang berani ketemu lagi sama lo setelah 1 tahun ngadepin budhe, gue yakin pasti bang Arka berhasilkan?”


Wine kembali mengangguk. Anya yang tahu seburuk apa perlakukan buhde kepada orang yang tak ia sukai hanya diam dan tak bicara apapun.


“Terus?”


“Mencoba balik lagi sama gue cuman bikin dia sakit hanti nanti Cha. Nyatanya meski udah 1 tahun, gue masih juga belum yakin”


“Tapi lo tadi bilang suka sama dia kan?”


Wine mengusap air matanya. Trauma masa lalu, masih begitu melekat dalam dirinya.


“Temui bang Arka besok. Ini libur semester, kalau lo masih mau tetap di kost biar bisa ketemu bang Arka, gue temenin. Bicarain semuanya baik-baik. lo bukan lagi anak SMA”


Wine kembali mengangguk.


...🎆🎆🎆...


Bekasi

__ADS_1


26 Desember 2021


dan bingung deh, mau ditamatin atau masih berlanjut. soalnya kalau di noveltoon emang pada banyak banget bab nya, karena per bab isinya cuman 1000-2000 kata doang.


__ADS_2