Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 15 : Kabar Baik Apa Kabar Buruk?


__ADS_3

Seperti merasa di permainkan oleh keadaan, semuanya terasa berjalan sangat lambat dengan harapan yang sama terus menerus.


Sudah 4 hari kabar mengenai jatuhnya pesawat F-16 yang membuat Kapt. Ayub belum juga di temukan. Jatuhnya lumayan dekat dengan sungai yang memiliki arus yang cukup kuat. Banyak orang beranggapan jika sang Kapt. mungkin terbawa oleh arus sungai.


Sudah 4 hari pula Arka tak memberikan kabar apapun. Pria itu seakan ikut menghilang tanpa kabar yang membuat Wine tak bisa tidur hingga 4 malam berturut-turut.


Sambil memegang perutnya Wine menatap kearah dokter Amel— dokter kandung yang baru saja memeriksa kondisi Ayu disana.


Ya. bukan hanya dirinya saja yang hamil disini, Ayu juga tengah mengandung anak Ayub yang membuat janin itu ikut lemah bersamaan dengan mental sang ibu.


"Bagaimana dok?" tanya Wine.


Amel menuntun Wine agar duduk di salah satu bangku dekat mereka. "Tidak terlalu baik. Baru hamil 5 minggu, janin masih terlalu lemah. Biar dia istirahat disini dulu. Setidaknya bisa dipantau oleh ku"


Wine mengangguk. "Terimakasih"


Tangan Amel kini mengusap perut Wine " Nggak mau diperiksa juga?" tanyanya.


"Dia akan sama kuatnya dengan sang ayah. Nanti, kalau aku merasa nggak enak baru aku periksa ya"


"Kamu doang ya dokter tapi malah ngomong begitu. Sebelum badan kamu ambruk lebih baik diperiksa"


"Nanti" Jawab Wine lagi.


Ya. Nanti, nanti setelah Arka kembali. Biarkan hal ini menjadi hadiah untuk suaminya.


"Jangan maksain diri ya Win. Kalau di rasa kamu sudah sedikit tidak sanggup, langsung periksa. Hanya sedikit, bukan benar-benar nggak sanggup"


Wine menepuk punggung tangan Amel mengiyakan. Tentu. Jika dirinya sudah merasa tidak sanggup, ia akan langsung datang dan memeriksa kondisinya. Dan Wine harap dirinya bisa bertahan hingga Arka kembali.


"Titip Ayu ya dok. Aku ngambil cuti 2 hari, karena anak-anak juga lagi pada demam, mungkin akan balik lagi ke sini nanti sore" ucap Wine.


"Nggak usah ke sini. Istirahat aja di rumah ya"


Wine menggeleng " Nanti sore saya ke sini dok"


Amel menggelengkan kepalanya. Orang yang paling keras kepala diantara kenalannya adalah Wine. " Ya udah terserah kamu."


Wine tersenyum. Bangkit dari posisi duduknya dan berpamitan pada Amel.


Nanti sore, setelah mengecek kondisi Arsya dan Aaras yang semalam demam tiba-tiba, Wine akan datang ke rumah sakit lagi untuk menengok Ayu. Bagaimanapun Ayu juga menjadi tanggung jawabnya sekarang hingga Kapt. Ayub di temukan.


Dengan sisa tenaganya yang syukurnya masih bisa ia gunakan untuk berjalan kaki, Wine berjalan keluar dari rumah sakit dengan ponsel yang ada ditangannya. Hari ini mbak Alin terbang ke Iswahyudi untuk membantu proses pencarian. Wanita itu berjanji akan berusaha untuk mengabari Wine.


"Mbak Wine?"


Begitu namanya dipanggil Wine menoleh ke belakang dan menemukan Anggi dengan satu wanita lain berdiri tak jauh darinya.


Hanya dengan melihat wanita itu yang membawa mic dan yang satunya lagi membawa kamera, Wine langsung paham apa maksud dari mereka mendatangi rumah sakit.

__ADS_1


Tak ingin berburuk sangka, Wine menarik senyumnya paksa. Seharusnya hanya dengan melihat wajah pucat Wine, Anggi tak enak untuk meminta melakukan wawancara " Mbak Anggi?" Ucap Wine, berpura-pura terkejut.


Ini adalah pertama kalinya mereka bertatap muka langsung dan saling menyapa. Jika Anggi saat di skadron waktu menyadarinya, wanita ini tahu jika Wine tengah berpura-pura sekarang.


"Apa kabar Win?"


"Baik mbak. mbak gimana kabarnya?"


"Baik juga. Begini Win, mbak ma—"


"Mau ketemu Ayu buat wawancara mbak?" potong Wine cepat. Untuk sesaat Wine menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya kembali tersenyum "Maaf ya mbak, kondisinya sedang tidak memungkinkan" lanjut Wine.


Anggi mengangguk."Kalau kamu?"


Wine tersenyum sarkas " Maaf ya mbak, tidak bisa juga. Karena saya sendiri juga belum sejauh bagaimana kondisi di lapangan. Mohon pengertiannya."


Karena asal lo tahu mbak. gue aja belum tahu gimana kabar suami gue.


"Baik. Terimakasih ya Win."


Wine mengangguk Baru saja ingin berjalan keluar dari rumah sakit, langkahnya terhenti saat Anggi kembali bicara.


"Kemarin aku ke Iswahyudi dan Dia baik-baik saja."


Beban yang sejak kemarin mengganjal dihatinya hilang seketika setelah mendengar kalimat Anggi barusan. perasaan lega yang Wine rasakan sekarang. Tak masalah meski kabar itu bukan langsung berasal dari Arka melainkan dari Anggi.


Wine kembali memutar tubuhnya menghadap Anggi. "Terimakasih karena membawa kabar baik untukku"


Wine menyeka air matanya lalu mengusap perutnya "Denger kan dek. Ayah baik-baik saja" ucap Wine lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suara tangisan menyambut Wine begitu sampai di pintu rumah. Bukan hanya satu, melainkan kedua putranya sama-sama menangis sambil meraung memanggil ibu.


setelah turun dari mobil, Wine langsung masuk kedalam rumah dan menggendong kedua putranya sekaligus.


Tidak ada kerbau yang keberatan tanduknya. Itu adalah pesan babanya dulu.


"Ibun."


"Loh kok anak ibun nangis semua?" Wine mencium ke dua putranya bergantian. Melirik sebentar kearah mbak Laksmi agar menyiapkan makan siang anak-anak.


"Coba turun dulu yuk"


Meski dalam kondisi sakit, Arsya dan Aaras tetap mengangguk dan menurut saat Wine menurunkan mereka.


"Tadi pagi sudah minum obat mbak?" tanya Wine pada satu asisten rumah tangganya yang lain.


"Belum bu. Ini tadi disuruh makan juga nggak pada mau" jawabnya.

__ADS_1


Wine mengangguk. Pandangannya kini tertuju kepada kedua putranya yang duduk di pangkuannya "Abang sama adek makan ya?"


Mereka menggelengkan kepalanya bersamaan.


"Kalau nggak makan nanti badannya tambah lemes"


"Ayah" Aaras mengalungkan tangannya di leher Wine.


"Nanti kita coba telfon ayah lagi ya. Kalau nggak nanti coba telfon tante Alin. Tante Alin lagi sama ayah soalnya"


Lagi, Arsya dan Aaras mengangguk menurut. Kembali menggendong ke dua putranya. Wine berjalan menuju ruang makan dan meletakan Aaras dan Arsya di kursi makan masing-masing.


Biasanya jika sedang sakit seperti ini Aaras memang selalu mencari Arka, bahkan bocah laki-laki ini akan tidur dengan Arka yang memeluknya erat. Arsya akan menempel ke Wine dan Aaras akan menempel ke Arka.


"Oh ya bu. Bunda dateng tadi bu" Mbak Laksmi yang baru saja meletakan dua mangkuk kecil berisi bubur untuk Arsya dan Aaras yang bicara.


Wine mengerutkan dahinya bingung. Biasnya bunda akan memberi info terlebih dahulu jika ia datang berkunjung. Mungkin karena mendengar kedua cucunya sakit dengan kondisi tanpa Arka, bunda langsung datang tanpa memberi kabar lebih dahulu.


"Bunda?" tanya Wine.


"Iya bu. Cuman sekarang bunda lagi ke swalayan beli belanjaan sama buah"


Wine mengangguk mengerti. Jika bunda berada disini, itu lebih baik karena Wine mendapat kabar jika Arka baik-baik saja, bunda pati senang mendengarnya.


Suara deru mobil yang berhenti diluar membuat Wine tersenyum, Dirinya sudah tidak sabar berbagi kabar baik dengan ibu kandung suaminya itu.


Tepat saat bunda berjalan ke dapur lalu meletakan belanjaannya Wine langsung memeluk bunda erat. Saking bahagianya dirinya bahkan sampai menangis sekarang.


"Bun, Wine punya kabar baik" Ucap Wine.


"Iya nak?"


Wine melerai pelukan mereka sambil tersenyum. " Tadi Wine ketemu sama mbak Anggi. Dan dia bilang mas Arka baik-baik aja. Alhamdulillah"


"Alhamdulillah" Jawab ibu dengan ekspresi datar.


"Ibu bener. Mas Arka pasti ba—" ucapan Wine berhenti begitu satu pesan masuk kedalam ponselnya.


Tak perlu membuka pesannya. Wine bisa membaca seluruh isi pesannya dari pop up yang masuk. Seketika dunianya kembali terasa berputar saat membaca sederet kalimat barusan.


Alin : Dek. Jangan kaget dulu ya. Arka ada di rumah sakit Solo sekarang.


"Bun?" tanya Wine meminta penjelasan pada bunda.


"Kena tifus Win. Bunda baru dapat kabar dari Kais tadi pagi"


Ternyata kabar ini lah yang membuat bunda datang ke sini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Note:


Anya udah up juga ya. Nggak tahu kenapa nggak ada notif Anya


__ADS_2