
Hanya berbeda beberapa gang dengan rumah Anya. Tepat pukul 10.00 Wine sudah datang ke rumah berlantai dua itu dan langsung menuju ke kamar Arun bersama Arsya dan Aaras, meninggalkan Arka yang kini tengah mengangkat telfon di halaman rumah.
Rumah berlantai dua ini cukup ramai mengingat kedua pihak keluarga berkumpul untuk mengikuti acara aqiqah anak kedua Anya yang akan dilaksanakan siang nanti.
Memang tak seperti orang-orang yang mengadakan aqiqah dimalam hari, Anya lebih memilih di siang hari di jam yang sama dengan Arun yang keluar dari perut Anya satu minggu yang lalu.
"Tutup mata dulu sebelum masuk"
Wine yang sudah berada di ambang pintu kamar mendengus sebal. Sudah punya dua anak tapi kelakuan Anya masih saja seperti bocah yang takut jika permennya diambil orang lain.
Dulu saat Wine dan Ocha melihat foto USG Arun, keduanya memang merebutkan hak asuh Arun jika saja Anya mati saat melahirkan nanti.
Ngga ada akhlak memang karena merebutkan Arun jika saja Anya meninggal didepan orangnya langsung, dan hal itu yang membuat Anya begitu amat menyembunyikan Arun dari Wine dan Ocha. Oh bukan, lebih ke Arka dan Ocha.
"Gue masih hidup ini. Nggak ada yang boleh angkat Arun jadi anak lo pada ya"
Lo pada?
Dengan mata tertutup Wine meraba orang yang berdiri disampingnya.
Ocha sudah berada di sampingnya. Sepertinya sama-sama menutup mata dan sama-sama pula mendengus sebal bersamaan.
"Masuk"
Sambil meraba dinding Wine dan Ocha masuk kedalam kamar. Bau minyak telon khas anak-anak membuat Wine tersenyum.
Percayalah jika suaminya ada disini sekarang, Wine yakin Arka pasti sudah kegirangan. Meski Arsya dan Aaras juga masih menggunakan minyak telo , namun karena di otak membayangkan bayi perempuan apalagi keturunan Anya, membuat siapa saja tak sabar untuk melihat bayi yang didalam USG saja sudah terlihat sangat cantik.
"Boleh buka mata tapi jangan berisik"
Ocha dan Wine menurut. Saat membuka mata, keduanya melihat dengan takjub bayi perempuan Anya. Meski hidungnya tak semancung saat di USG, namun percayalah Arun masih kedalam kategori cantik tak kalah dengan cicinya meski berasal dari satu bibit yang berbeda. Arum anak pertama Anya di pernikahan pertama wanita itu, dan Arun anak ke dua dari pernikahan kedua wanita itu juga.
"MasyaAllah cantik banget anak lo An" Wine langsung mendorong Ocha yang hendak mengambil Arun dari tangan Anya lalu dirinya buru-buru menggendong Arun.
"Ibun ini pedes ya?"
Wine menoleh ke arah Aaras yang kini tengah memegang tahu di tangan kanan dan memegang cabai ditangan kirinya.
"Iya pedes jangan di makan ya"
Pandangan Wine kini beralih ke Arun yang ada di gendongannya, kulit putih Arun membuat semu kemerahan di wajah bayi ini terlihat sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Bibit lo tuh nggak pernah gagal emang ya. Produksinya bisa ngehasilin secantik ini" tambah Wine.
Anya tersenyum bangga. Dirinya pun takjub dengan wajah Arum dan Arun. Sepertinya kecantikan yang dia miliki turun semuanya pada kedua anak ini.
"Ibun ini namanya cabai ya?"
Lagi Wine menoleh ke arah Aaras kemudian mengangguk " Iya namanya cabai, rasanya pedas, jadi jangan dimakan ya"
"Boleh kali ya gue culik sehari ini"
Ocha menyentuh tangan mungil Arun. Kalimatnya barusan jelas membuat Wine langsung siap siaga.
"Enak aja. Noh pak Komandan udah nanya tadi pagi, kira-kira bisa ngga nyulik Arum kalau nggak Arun satu minggu aja" jawab Wine tak mau kalah.
"Heran gue. Lo Win, lo bisa bikin sendiri kalau pak komandan minta dan lo Cha, sebentar lagi lo juga bisa bikin sendiri. Ngapa jadi ngerebutin anak orang sih"
"Ibun pedas. Huaaa"
Suara tangis Aaras membuat Wine langsung membalikan badannya. Cabai ditangan putranya yang sebelumnya utuh kini sudah kehilangan ujung atasnya dan Wine langsung tahu siapa penyebabnya.
Memberikan Arun kepada Ocha, Wine langsung mendekati Aaras dan memberikan putranya itu minum. Tapi percayalah Wine ingin sekali tertawa saat ini. Apalagi Ocha dan Anya langsung memunggungi mereka dan berusaha untuk menahan tawa meski Wine masih bisa mendengar keduanya cekikikan.
"Ibun pedes. Huaaa"
"Ya kan ibu tadi udah bilang. Kan abang juga tahu ini cabai, kenapa masih di makan?"
"Huaaa ibun"
Saat mendengar Ocha dan Anya tertawa tangis Aaras semakin kencang. Aaras adalah sosok anak kecil laki-laki yang sangat tak suka jika ada yang menertawainya.
"Punya susu nggak An?" tanya Wine.
"Ada nih, mau barengan sama Arun?"
Wine mendelik saat mengetahui apa yang Anya maksud. Arun tengah menyusu ASI dan Anya masih sempat-sempatnya bercanda padahal Aaras sudah menangis kencang.
"Ada itu di kulkas. Punya Arum, minum aja" lanjut Anya saat mendapat tatapan maut dari Wine.
Sedangkan Ocha, memukul bahu Anya sambil tertawa.
Buru-buru Wine mengambil satu kotak susu putih berukuran kecil lalu memberikannya kepada Aaras.
__ADS_1
Disisi lain. Ocha kini memperhatikan tingkah laku Arsya yang duduk bersebelahan dengan Arum. Keduanya tengah makan anggur dengan Arsya yang sesekali mengelap mulut Arum dengan tisu. Tidak ada ketenangan diantara keduanya. Beberapa kali Arum menolak Arsya yang membersihkan mulutnya karena gerakan bocah laki-laki itu yang terkesan kasar dan penuh pemaksaan. Melihat itu Ocha tersenyum gemas. Anak-anak sahabatnya ini meski di penitipan anak membuat kepalanya hampir pecah karena tingkahnya, tapi tetap amat menggemaskan.
"Arsya!!" pekik Arum.
"Muka kamu kotor Arum" timpal Arsya. Seperti Arka, Arsya adalah sosok bocah pecinta kebersihan.
"Aku bisa bersihin sendiri"
" Kalau bersihin sendiri kan nggak keliatan"
Kembali ke Wine. Wine yang duduk tak jauh dari kedua bocah itu menoleh sambil memangku Aaras. Bisa dibayangkan kan bagaimana rasanya mengurus dua anak kembar ini seorang diri?.
Biasanya jika main ke rumah Arum, Arsya dan Arum akan akur tanpa bertengkar sama sekali. Tapi sepertinya hari ini tidak sedang seperti biasanya. Belum juga sampai menjangkau tangan Arsya untuk mengehentikan putranya itu mengelap wajah Arum. Arsya sudah terlebih dahulu mengelap wajah Arum paksa hingga membuat anak perempuan dengan wajah cantik itu terjengkang ke belakang.
Bergantian dengan Aaras, kini suara Arum yang menangis terdengar di dalam kamar. Arum langsung berlari ke arah Anya yang lagi dan lagi hanya bisa menahan tawanya. Sedangkan Ocha sepertinya sudah tak kuat melihat tingkah anak-anak Wine yang MasyaAllah dan memilih keluar dari kamar.
"Arsya mau bantu Arum ibun, tapi kok Arumnya malah nangis?"
Wine menghela napasnya. Mas Arka juga kenapa lama sekali menelfonya sih?!
" Arsya mau bantu Arum yah?"
"Iya"
"Baik sekali anak ibu. Tapi kalau bantu Arum dan orang lain itu harus pelan-pelan Sya. Seperti ini" Wine mengambil tisu dan mengelap wajah putranya lembut. " Sakit nggak dek?"
Arsya menggeleng. Dengan seksama Anya memperhatikan Wine menjelaskan pada Arsya. Lumayan dapat ilmu.
"Sekarang lihat ibun. Kalau ibu ngelakuinnya begini kira-kira sakit tidak?" bukan lagi mencontohkannya langsung di wajah Arsya, Wine mencontohkannya diwajahnya sendiri. Mengelap dengan gerakan seperti memaksa.
"Sakit ibun"
"Nah karena sakit makanya Arum nangis. Sekarang adek tahu apa yang harus adek katakan ke Arum"
"Maaf"
Wine mengangguk. Arsya langsung berlari menuju Arum dan memeluknya.
"Maaf Arum. Maaf aunty Anya" ucap Arsya.
Meski diantara mereka Wine yang paling somplak sejak dulu dan masih somplak hingga sekarang. Saat di depan anak-anak Wine melakukan perannya sebagai ibu dengan amat baik. Anya dan Ocha bahkan terkadang di buat heran dengan tingkahnya.
__ADS_1