
“Mas aku libur hari ini, aku pengin ke rumah ibu”
Itu adalah kalimat pertama yang Wine sampaikan saat bangun tidur. Untuk beberapa alasan, Arka rasa kejadian foto kemarinlah yang membuat Wine ingin pulang ke rumah ibu yang jaraknya terbilang cukup jauh dari sini. Jika mereka pergi dan pulang dalam satu hari, itu jelas akan melelahkan. Terlebih Arka hari ini juga harus pergi ke skadron guna menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk karena perilisan pesawat tempur baru kemarin.
Tak langsung menjawab, Arka mencium bibir istrinya sesuai dengan pasal-pasal yang mereka buat sebelum menikah.
“I Love You, bun”
Wine mengangguk “ I love you too, yah” jawab Wine.
Saat melihat posisi Wine yang hendak untuk bangun, Arka kembali menarik tubuh istrinya agar kembali berbaring di sebelahnya. Dipeluknya Wine erat sambil menutup mata, takut jika jawaban dari pertanyaan yang akan ia tanyakan adalah suatu hal yang paling tak ingin Arka dengar.
“Bukan karena masalah semalam kan dek?”
Untuk sesaat jantung Arka berdetak kencang sambil menunggu jawaban dari Wine. Jika jawabannya ia, maka hati Arka rasanya akan hancur karena tak mampu memegang apa yang ia janjikan kepadanya Wine dulu. Berusaha untuk tidak menyakiti istrinya, gagal sudah.
Saat pipinya diusap Wine, Arka membuka matanya perlahan. Yang ia lihat sekarang adalah Wine yang tengah tersenyum cantik kepadanya. “Bukan kan dek?” tanya Arka lagi khawatir. Suara drum dari arah bawah tak membuat Arka ingin bangkit dari posisinya.
“Bohong kalau Wine jawab nggak bang”
Seakan ada bom yang meledak. Arka memejamkan lagi matanya dan menarik Wine semakin erat kedalam pelukannya “ Maaf ya dek”
“Aku belum selesai ngomong loh bang”
“Maafin abang kalau bikin kamu kecewa, maafin abang kalau bikin kamu sakit hati lagi, maafin kalau abang bikin kamu ingat trauma kamu lagi, maaf kalau abang…”
“Bang, dengerin Wine dulu ya” potong Wine.
Masih dalam posisi memeluk istrinya, Arka mengangguk.
“Wine pengin ke rumah ibu memang karena masalah kemarin, tapi bukan karena Wine nggak percaya sama abang. Wine malah kecewa sama dirinya Wine sendiri karena sempat nggak percaya sama abang padahal kita udah nikah lebih dari 5 tahun. Wine pengin ke rumah ibu dan minta wejangan sama ibu”
Arka memberikan jarak diatara mereka guna melihat langsung mata istrinya “ Abang maklum kalau kamu curiga sama abang. Maaf ya dek”
__ADS_1
Wine menggeleng, semua masalah ini sudah mereka selesaikan semalam. Dan semuanya hanya berawal dari kesalapahaman “Bukan salah abang kok. Mungkin aku aja yang trauma karena masa lalu jadi aku sendiri yang terlalu parno mas”
“Jadi mau ke ibu?”
Wine mengangguk. Meminta wejangan kepada ibu lewat telfon jelas berbeda disbanding dirinya yang datang langsung kesana. Lagi pula sudah hampir 1 tahun juga Wine belum mengunjungi rumah ibu angkatnya itu karena kerjaan.
“Tapi mas nggak bisa ikut dek. Kalau besok aja pas mas libur gimana?”
“Wine pengin ketemu ibu ibu sekarang mas. Lumayan 2 hari aku libur karena sebelum shift malam mas”
Arka mengangguk “Tapi mas nggak bisa antar nggak apa-apa?”
Lagi Wine mengangguk “Aku bisa bawa nyetir sendiri bareng anak-anak, paling mbak Laksmi aku ajak”
“Oke. Mas harap yang terbaik buat kamu. Jam berapa kamu mau jalan?”
“Sekitar jam 6 paling mas, biar nggak terlalu macet”
***
“Alhamdulillah nyampai juga, macet banget ya?”
Setelah perjalanan yang memakan waktu hingga 8 jam lebih ditambah Wine harus menyetir sendiri hingga sampai ke rumah ibu. Membuat tubuh Wine rasanya berteriak meminta untuk beristirahat. Biasanya setiap kali pergi kerumah ibu, Arka yang akan menyetir dan menolak saat Wine menawarkan untuk bergantian. Ternyata rasanya semelelahkan ini.
Wine tersenyum kemudian memeluk tubuh ibu erat. Usapan ibu dipunggung, membuat pertahanan Wine sejak pagi runtuh seketika. Tak sampai menangis mengingat ada kedua putranya, Wine hanya memeluk ibu erat seolah meminta kekuatan pada wanita yang hampir semua rambutnya berubah menjadi warna putih. Disebelahnya ada ayah yang kini juga ikut menepuk punggung Wine tiga kali sebelum akhirnya mengajak Aaras dan Arsya masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
“Susah ya dek jadi istri, nggak apa-apa nangis aja dulu”
Tepat saat kalimat itu masuk keindra pendengarannya, suara isak Wine terdengar lirih karena tangan menutup mulut untuk mengurangi isakan tangisnya terdengar hingga dalam rumah.
“Aduh anak ibu masih belum sembuh juga ternyata” ucap ibu lagi sambil kembali mengusap punggu Wine.
Disisi lain, Alin dan Akhtar yang baru sampai dan keluar dari mobil memilih untuk memutar masuk lewat pintu belakang saat ibu memberi kode pada mereka.
__ADS_1
Pertahanan Wine benar-benar runtuh sekarang, semakin erat pelukannya kepada ibu maka semakin runtuh pula pertahanannya. Ingatan akan kejadian yang menimpanya waktu itu bahkan sempat masuk kedalam mimpinya semalam, semuanya terputar jelas layaknya kaset baru didalam mimpinya, mulai dari awal hingga berakhir dengan melihat bunda yang menangis. Jika saja malam tadi Arka tak membangunkannya mungkin mimpinya akan berlanjut hingga kecelakaan itu terjadi.
Ibu tak bicara lagi, ia hanya terus menepuk punggung Wine berusaha untuk menenangkan putrinya ini. Dulu saat zaman SMA, Wine selalu datang dengan hal kocak yang ia bawa, yag membuat ibu selalu membawa sapu setiap Wine tiba dirumah di jam-jam sekolah. Tingkahnya akan membuat seisi rumah tertawa. Namun berbeda dengan hari ini, Wine datang dengan kepercayaan diri yang turun derastis.
Setelah hampir beberapa menit Wine menangis dipelukan ibu sambil berdiri. Akhirnya Wine berhasil mengontrol emosinya sendiri. Melerai pelukan mereka, Wine menghapus jejak-jejak air matanya, sedangkan ibu menatapnya dengan senyuman.
“Udahan ini nangisnya?”
Wine mengangguk, sedikit membungkuk guna memijat betisnya sendiri yang mulai terasa pegal “Udahan bu. kaki Wine pegel kalau nangis sambil beridiri”
Ibu tertawa mendengarnya. Mau bagaimanapun sifat Wine tetaplah dikategorikan ajaib.
“Harusnya ibu tadi nyuruh Wine duduk dulu dong, jadi bisa puas nangisnya tanpa kaki sakit begini” lanjut Wine.
“Lah kok malah nyalahin ibu? Terus maunya gimana, kita duduk dulu nih biar kamu bisa ngelanjutin nangis?”
Kali ini Wine yang tertawa. Mengobrol sama ibu itu memang terasa seperti minum suplemen bagi Wine. “Ya udah bu, duduk yuk. Kali aja gitu kalau kita duduk Wine bisa ngelanjutin nangis, anggap aja tadi ada iklan yang lewat pas Wine nangis”
“Lah emang bisa ya, nangis pake bersambung begitu?”
“Bisa dong”
“Eh tapi jangan deh, nanti rumah ibu banjir kalau kamu nangis.”
“Yaudah Wine ngelawak aja berarti ya”
“Jangan juga, lawakan kamu udah basi. Ibu mau ngeliat Aaras aja yang ngelawak didalam. Noh denger nggak? pada ketawa noh didalam.” Ucap Ibu lalu meninggalkan Wine sendirian di halaman rumah.
Emang ya. cucu itu jauh lebih berharga di mata kakek dan nenek ketimbang anaknya sendiri.
Untuk masalah dirinya menangis. Ibu biasanya memang tak langsung menanyakan. apa yang terjadi. Ibu biasanya akan memilih diam terlebih dahulu tanpa bertanya apapun, seolah memberikan waktu kepada anak-anaknya untuk berpikir ulang perlu menceritakannya atau tidak.
Wine ingat dulu ibu juga pernah berkata jika masalah dalam keluarga lebih baik untuk diselesaikan didalam keluarga inti. Namun jika tidak bisa dan butuh bantuan atau masukan baru Wine dan Alin diizinkan untuk membicarakannya kepada ibu. Kedatangan Wine ke rumah ibu bukan untuk membicarakan masalahnya dengan Arka. Wine hanya ingin meminta wejangan tanpa menyangkut pautkan apapun yang terjadi pada mereka kemarin malam.
__ADS_1