Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 25: kembali ke kehidupan biasa


__ADS_3

Ocha dan Anya saling melempar pandangan melihat Wine yang masih betah duduk didalam perpustakaan dari pagi hingga sore hari. Tidak makan siang sama sekali dan kini malah menolak untuk diajak pulang meski jam sudah menunjukan pukul 17.30.


sejak pulang dari Jogja sikap Wine berubah seketika, gadis itu tak lagi banyak bicara, tak lagi membahas Arka, dan tak pernah juga mengunjugi skadron seperti hari – hari biasanya. Dengan berkedok supaya diterima di kampus yang ia inginkan, Wine terus saja menjadikan perpustakaan 24 jam ini menjadi tujuannya setiap pagi hingga sore hari.


Ocha dan Anya tahu jika hubungan Wine dan Arka kandas di Jogja satu bulan lalu. Namun biasanya saat putus dengan pacarnya, Wine akan bersikap biasa saja, menggoda siapa saja yang ia kenal dan menjalani kehidupannya seperti Wine yang mereka kenal. Tidak seperti sekarang, bahkan ibu dan mbak Alin juga tidak bisa mengendalikannya.


Anya mencolek Ocha, memintanya untuk coba mengajak Wine pulang untuk ke 5 kalinya. Kemarin mereka tak berhasil mengajak Wine pulang sore hari, dan meninggalkan gadis ini di perpustakaan. Dari info mbak penjaga perpustakaan, Wine pulang pukul 22.00. gila memang.


“Win pulang yuk. Udah mau maghrib nih”


“Lo pada duluan aja”


“Tapi lo juga belum makan apa-apa dari siang” Anya ikut menimpali.


“Nanti sekalian sholat maghrib gue cari bakso”


Ocha memukul kepala Wine dengan buku matematika ditangannya “ Bagus, begitu aja terus. Udah ngga makan siang, tiba-tiba makan bakso pedes. Ngga kasihan sama lambung lo?”


Masih dengan sikap tak pedulinya Wine hanya mengelus kepalannya dan kembali mengerjakan beberapa soal matematika “ Gue makan nasi padang nanti” koreksinya cepat.


“Yak! Buru…” ucapan Ocha terhenti saat beberapa mata tertuju kearahnya. Dirinya lupa jika berada di perpustakaan sekarang. Maka dari itu alih-alih kembali bicara, Ocha menumpuk paksa buku Wine dan menarik sahabatnya ini keluar dari perpustakaan.


Jika tak dipaksa seperti hari-hari sebelumnya, Ocha yakin jika Wine pasti akan mendekam di perpustakaan ini hingga larut malam lagi.


sambil menarik Wine, Ocha juga mendekap mulut gadis ini agar tak menimbulkan kegaduhan. Baru setelah keluar dari gedung perpustakaan Ocha melepaskannya kemudian berkacak pinggang menatap Wine sebal.


Bukan hanya Ocha, Anya juga melakukan hal yang sama. Namun alih-alih takut, Wine malah melototi kedua sahabatnya dengan tangan yang dilipat di depan dada.


Cukup lama mereka bertiga hanya saling melotot satu sama lain tanpa bicara sama sekali. Sebelum akhirnya berakhir dengan Anya dan Wine yang tertawa karena lucu, sedangkan Ocha hanya senyum sedikit dan memasang wajah datarnya. Berteman sudah 5 tahun lamanya tak pernah sekalipun mereka serius jika sedang bertengkar. Lebih tepatnya tak ada pertengkaran sama sekali diantara mereka selama 5 tahun lamanya.


Wine langsung merangkul Ocha begitu pula dengan Anya. Tujuan mereka sebelum pulang adalah mengunjungi rumah makan yang berada didepan perpustakaan ini. memesan beberapa menu makanan dan mulai memakannya sambil bercerita tentang banyak hal, namun topik utamanya adalah ujian masuk Universitas yanga akan diadakan esok hari.


“Pokoknya kita harus lulus, dan kuliah bareng-bareng” ucap Anya penuh dengan semangat.

__ADS_1


Dunia perkuliahan yang sudah lama mereka tunggu sebentar lagi akan dimulai. Maka dari itu hampir sebulan lebih mereka selalu menghabiskan waktu untuk mengunjungi perpustakaan.


“Fakultasnya udah beda. Syukur deh gue bisa jarang ketemu kalian”


Ocha mengambil Matematika murni, Wine mengambil kedokteran dan Anya mengambil jurusan sejarah.


“Tenang, kita bakal dateng ke gedung lo setiap hari”


“Kita? Lo aja sonoh, calon dokter itu pasti sibuk banget” Wine menepuk dadanya dengan bangga.


“Yaelah lo pikir mahasiswa kedokteran doang yang sibuk. Gue sama Ocha juga iya” Anya menolak untuk kalah.


“Berisik lo pada. Cepetan makan, udah mau maghrib” Ocha dengan mulut pedasnya menengahi.


***


Untuk sesaat jika berada dekat dengan kedua sahabatnya, Wine bisa melupakan hal yang terjadi padanya dengan Arka sejenak. Bulan lalu saat Wine berjanji untuk mengabari Arka, dirinya benar-benar mengirim pesan kepada pria itu. namun bukan untuk kembali, Wine memilih untuk mundur dan menjauh dari pria itu. apapun alasan yang WIne temukan untuk tetap bertahan disisi Arka, segala hal itu hanya berakhir menyakiti satu sama lain.


Wine mengakhirinya sebaik mungkin. Tidak membalas atau mengangkat panggilan meski Arka melakukannya terus menerus saat itu, hingga Arka akhirnya menyerah dan menghilang dari kehidupannya. Meski menyakitkan Wine yakin ini adalah jalan yang terbaik.


Wine tersenyum saat Anya kembali bicara. Menggigit gorengan tempe kemudian menoleh kearah Ocha. “ Lo sih Cha? Selain belajar apa yang pengin lo lakuin pasti udah kuliah nanti”


“Belajar” khas Ocha yang menjawabnya ketus.


“Gue kan bilang selain belajar”


“Ngga ada”


Wine dan Anya menghela napasnya bersamaan. Sikap dingin Ocha sepertinya kelak akan membuat gadis ini menikah paling terakhir diantara mereka bertiga. Siapa juga yang mau dengan wanita kutub seperti Ocha ini?.


“Lo sendiri?” pertanyaan itu balik ke Wine.


“Gue?” Wine menggantungkan kalimatnya sebentar. Berpikir keras apa yang ingin ia lakukan nanti di kampus “ Gue kayanya pengin ikut organisasi. Belajar kaya lo, sama..”

__ADS_1


“Nyari pacar baru?” tebak Anya.


Wine menggelengkan kepalanya “ Nggak, fokus gue cuman buat belajar aja. Nggak mau dibagi-bagi”


“Ngga asik lo pada” dumel Anya.


“Gue lihat bang Arka kemarin”


Wine yang tengah mengaduk es teh manis didalam gelas terhenti seketika saat mendengar ucapan Ocha barusan. Hampir 1 bulan Wine tak mendengar kabar pria itu, mereka juga tidak pernah bertemu atau berpapasan di jalan.


Saat menceritakan jika mereka putus pada Anya dan Ocha sebaik mungkin Wine juga tak meneteskan air matanya. Berusaha menunjukan jika dirinya dalam kondisi baik-baik saja.


Namun kali ini, jantungnya berdetak cepat saat mendengar nama Arka kembali, sebaik mungkin Wine mengatur ekspresinya agar tak terlalu kentara dihadapan Anya dan Ocha.


Wine menarik senyumnya paksa “Oh yah? Gimana kondisinya?” tanyanya basa-basi.


Tatapan penuh selidik Ocha terarah kepadanya, Ocha kini merubah posisi duduknya agar menghadap langsung ke arah Wine “ Lo yakin ngga kenapa-kenapa kan Win? Lo bisa terbuka sama gue dan Anya”


Masih mempertahankan senyuman palsunya, Wine menganggukkan kepalanya “ Gue baik Cha”


“Kalau lo baik, lo ngga mungkin mendekam di perpus sampai malam begitu”


Wine mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Ocha dan Anya yang mungkin akan membuatnya roboh seketika “ Gue udah bilang kan. Gee mau masuk kedokteran. Jadi gue harus mempersiapkan sebaik mungkin”


“ Lo pikir kita percaya?” tanya Alin.


Ocha meneguk habis air putih kemasan botol kemudian meremasnya erat “ Lo ngelakuin itu cuman buat ngilangin apa yang ada dikepala lo doang Win. Lo alihin dengan cara belajar. Tapi nyatanya ada efeknya kan pas gue nyebut nama Arka?”


Wine tak lagi bicara, menghabiskan minumannya kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar. Lagi dan lagi dirinya memilih untuk kabur dari pada membahas lebih tentang Arka yang hanya akan membuat dirinya semakin bersalah.


“Gue udah bayar. Gue cabut duluan” ucap Wine kemudian berjalan meninggalkan Anya dan Ocha.


Bekasi

__ADS_1


22 Desember 2021


__ADS_2