
hari ini langsung up 2 bab ya. biar cepet ke bab baru. jam 15.15 bakal up bab baru lagi, jangan lupa mampir ke DUNIA ANYA juga ya..
***
"Jadi gimana acara akikahnya?"
"Menurut kamu?" dengan muka kesal, Wine mengambil alih kursi Arka di kantor pria itu.
Setelah menghadiri acara akikah anak Anya, Wine lebih memilih datang ke skadron dan membiarkan Aaras dan Arsya berlarian di lapangan dengan anak buah ayahnya.
Wine butuh istirahat sekarang. Alih-alih minta kado, Anya malah minta uang mentahnya saja yang membuat Wine mentransfer dari uang tabungannya sendiri.
"Anak kamu joget koplo di tengah-tengah ibu-ibu pengajian, mana nanya kenapa hidungnya Alun pesek lagi"
Arka tertawa mendengarnya. Tak terlalu kaget karena memang seperti itu sifat anaknya "Seriusan?"
"Iya. Dan sebagai gantinya uang 1jt melayang buat Anya. Kamu ganti uang aku ya mas"
"Siap ibu komandan. Kamu hari ini juga mau ke kampus kan? Butuh berapa? Biar mas transfer langsung"
Mata Wine menyipit seketika. Curiga " Serius nih? Pasti mas ada maunya kan?"
Arka tertawa, mengecup singkat puncak kepala Wine kemudian beralih duduk di sofa dengan berkas yang ada di tangannya. "Ngga ada dek. Cuman mas penasaran aja, rasanya gimana yah kalau punya anak cewek?"
Tuh kan.
Pura-pura tak dengar, Wine bangkit dari tempat duduknya kemudian memberikan satu tas besar yang berisi perlengkapan milik Aaras dan Arsya. " Mereka udah makan sore. Nanti sebelum makan malam jangan dikasih susu atau jajanan apapun. Makan dulu baru dikasih. Terus ini baju gantinya. Adek nggak lama, paling satu jam udah balik lagi ke sini, anak-anak diawasi yang benar ya mas. Jangan main kotor-kotoran, udah sore"
"Anak per—"
"Assalamualaikum " potong wine cepat.
Arka tertawa melihatnya. Meski sudah lebih dari 8 tahun menikah, dimatanya Wine masih tetap menggemaskan " waalaikumsalam" jawabnya singkat.
Sepeninggalan Wine, Arka mendekati kedua putranya yang kini asik bermain bola dengan kapten Ayub dan beberapa tentara lainnya.
Hari ini masih ada satu kerjaan lagi yang perlu Arka lakukan, ada jadwal wawancara dengan salah satu reporter televisi swasta yang akan di mulai sebentar lagi. Meninggalkan kedua putranya tanpa pengawasan hanya akan membuat skuadron dalam bencana.
Dulu mungkin tidak ada yang tidak kenal dengan Wine sang anak komandan. Namanya melegenda.
Dan sekarang tidak ada yang tidak kenal dengan Aaras anak komandan Arka. Namanya tak kalah melegenda dari mamahnya di skadron.
"Kapten Ayub" panggil Arka.
Pria yang baru saja di karuniai anak perempuan itu berjalan mendekat kearah Arka.
"Siap komandan"
__ADS_1
"Saya ada wawancara sebentar lagi. Boleh saya minta tolong nitip kembar sama kamu?"
"Baik komandan"
Arka menepuk pundak Ayub dua kali "Kalau hujan, masuk saja keruangan saya ya. Dan tolong jangan sampai lepas satu"
"Yang mana komandan?" Ayub melihat ke dua bocah yang tengah asik bermain bola itu—bergantian.
"Arsya aman. Aaras jangan sampai lepas pengawasan"
Ya jangan sampai lepas. Karena jika itu terjadi Wine pasti akan mengomel panjang lebar nanti.
Ayub mengangguk.
"Aaras, Arsya"
Kedua bocah kembar itu langsung mendekati Arka saat sang ayah memanggilnya. Dari pada Wine yang kadang galaknya minta ampun, Arka masih tetap menjadi sosok tegas dimata kedua putranya. Tegas dan penyayang. Sedangkan Wine galak dan super duper penyayang.
"Kalian sama om Ayub dulu yah. Ayah ada kerjaan sebentar."
Tak seperti Aaras yang kini hanya mengangguk lalu kembali berlari ke tengah lapangan, Arsya malah memeluk kakinya erat. Dua karakter yang memang sangat jauh berbeda.
"Arsya mau ikut ayah" ucap Arsya lalu menguap lebar.
"Tapi Ayah nggak mau liat pesawat loh dek, Ayah mau ngobrol sama orang. Arsya beneran mau ikut ayah?"
Arka tersenyum kemudian mengangguk. "Ayok"
"Gendong yah"
"Arsya ngantuk ya?"
Mendapat anggukan pelan dari Arsya, Arka langsung menggendong putranya kemudian menepuk kembali pundak Ayub.
"Jangan sampai lepas ya Yub" ingatnya sebelum akhirnya berjalan menuju ruang pertemuan. Meninggalkan Aaras dengan sedikit rasa khawatir karena sepertinya baterai anaknya itu masih full, tak seperti Arsya yang kini sudah mulai tertidur.
Selama wawancara dengan Arsya yang tidur pulas di pangkuannya. Arka merasa was-was dengan Aaras yang semakin lama semakin tak terdengar suaranya. Beberapa kali dirinya berusaha untuk melihat ke arah jendela demi mengawasi putranya di lapangan, namun tak begitu jelas karena terhalang pohon besar di samping ruangan ini.
Hujan mulai turun dan membuat rasa khawatir Arka semakin menjadi.
Tenang Arka. Percaya sama kapten Ayub. Dia pasti bisa jaga anak gue dengan baik. Mantra Arka selama berjalannya wawancara.
Tepat saat wawancara berakhir. Arka menitipkan Arsya yang sedang tidur pada anak buahnya yang lain, namun baru ingin keluar dari ruangan, seorang reporter menahannya.
"Gimana kabarnya mas?"
untuk sepersekian detik Arka terdiam tanpa mengatakan apapun. Didepannya kini ada Anggi, Wanita yang dulu pernah di jodohkan kepadanya dan membuat hubungan dirinya dan Wine sedikit sulit bersatu. Wanita yang dulu tak berhijab dengan rambut panjang kini menggunakan hijab berwarna coklat susu dengan seragam senada dengan kru televisi yang mewawancarainya.
__ADS_1
Sejak dulu Anggi memang ingin bekerja di balik layar, dan sepertinya wanita ini berhasil mewujudkannya.
Arka tersenyum ramah "Alhamdulillah Baik, gimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik juga mas. Aku cerita sama ibu kalau mau ketemu sama mas buat kerjaan. Dan beliau titip salam sama mas"
"Waalaikumsalam. Kabar ibu kamu bagaimana?"
"Alhamdulillah baik juga mas"
Melirik sebentar kearah luar berharap jika melihat Aaras meski tak menemukan bocah itu. Pandangan Arka kembali menatap Anggi. "Syukurlah"
"Itu anak kamu mas?" Anggi menunjuk ke arah Arsya yang tidur di atas sofa.
"Iya. Dan Saya harus cari anak saya yang lain di luar. saya permisi dulu ya Nggi"
Setelah mendapat anggukan kepala Anggi. Arka segera berjalan keluar demi mencari Aaras.
Di lapangan tidak ada.
Arka berlari ke ruangannya ditengah hujan tanpa payung. Berharap jika akan menemukan Aaras dan Ayub disana. Namun semuanya nihil. Baik Aaras dan Ayub tidak ada satupun yang berada di ruangannya.
Berpikir jika mungkin Aaras merasa lapar ditengah hujan, Arka berlari menuju kantin, namun tak kunjung juga menemukan Aaras disana.
"Kamu liat Kapten Ayub tidak?" tanya Arka pada salah satu tentara yang berada di kantin.
"Siap komandan. Tidak komandan"
"Oke"
Arka melirik kearah jam yang melingkar ditangannya. 10 menit lagi, Wine akan tiba di skadron, dan jika dirinya belum kunjung menemukan Aaras, semuanya jelas akan kacau balau.
Kali ini Arka mencari keruangan Ayub. Namun lagi dan lagi Arka tak menemukan Aaras disana.
Hujan yang sebelumnya turun deras kini mulai berhenti. Sayup-sayup Arka mendengar suara tangisan Aaras yang mulai terdengar kencang bergantian dengan suara hujan.
Ruangan Ayub yang memang berada tepat didepan lapangan, membuat mata Arka mudah untuk menyusuri setiap sudut lapangan. Dan disana, di sudut lapangan yang berdekatan dengan keran air, Arka melihat Ayub dan Aaras.
Namun bukan hanya dua orang itu, Arka juga melihat Wine yang tengah membersihkan rambut Aaras di air mengalir. Baju bocah laki-laki itu kotor seakan menunjukan jika Aaras baru saja berguling di lapangan basah.
Tepat saat langkahnya sudah dekat dengan Wine. Mata istrinya itu langsung menatapnya tajam.
"Bagus banget mas. Anakmu guling-guling di lapangan dan kamu hujan-hujanan!"
"Dek.. Aku—"
"Pasti cantik banget reporternya ya mas. Sampai kamu lupa anakmu!"
__ADS_1
Oke. Arka lebih baik diam saja tak melawan karena sadar dengan kesalahannya. Ayub yang merasa berada di dalam masalah keluarga langsung melenggang pergi. Lebih tepatnya takut karena Arka menatapnya tajam