Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
bab 34: Kembali ke pelukan


__ADS_3

“Kita bicarakan hal ini lain kali. Kamu pulang aja dulu”


“Kalau aku ngga mau gimana?! Selama satu tahun aku yang ada disisi kamu mas. Aku yang ada disamping kamu saat kamu sakit setelah dicampakan sama bocah yang bahkan 9 tahun lebih muda dari kamu. Aku yang selalu ada saat kamu dirawat di rumah sakit. Aku yang selalu ada saat kamu balik ke Jogja. Tapi apa? Kamu masih aja ngga bisa lupain bocah itu”


“Kamu tahu aku ke Jogja buka untuk ketemu kamu”


Saat suara tawa Anggi terdengar, Wine meremas tangannya sendiri yang mulai gemetar.


“Aku tahu kamu ke Jogja buat nemuin budhe dari bocah itu. tapi aku yang selalu ada buat kamu mas”


“Anggi, tolong kita bahas lain kali ya?”


“Bukankah lucu, kamu yang sudah berumur 28 tahu rela disiram, dicaci maki cuman buat dapatin bocah itu?”


“Berhenti manggil dengan sebutan ‘bocah itu’ dia punya nama”


“Lihat? Untuk saat ini, saat aku bahkan nangis didepan kamu sekarang, kamu masih peduli sama nama gadis itu. terus apa yang aku lakuin selama ini mas?. Apa yang aku harapin selama ini mas?. Aku rela nunggu bahkan sampai 1 tahun lebih biar kamu terima lamaran aku, tapi kayanya semuanya sia-sia mas”


Wine memejamkan matanya, tangannya menutup mulut agar suara isakan tangisnya tak terdengar hingga luar. Sejahat apa dirinya selama ini kepada dua orang didepan sana?.


“Mas ngga pernah minta kamu untuk menunggu Gi. Mas sudah tegas sejak awal bahwa mas sama sekali tidak bisa buat terima kamu lagi”


“Tapi nyatanya wanita selalu bersedia untuk menunggu mas”


“Itu kesalahan kamu berarti”


“Lucu kamu ya mas. Sehebat apa dia sebenarnya sampai bikin kamu begitu cinta sama dia?. Selama ini saat aku nyalahin dia karena ninggalin kamu, kamu selalu bilang jika ini semua bukan sama Wine tapi salah kamu. Tapi sekarang saat aku bilang aku nungguin kamu, kamu malah bilang ini semua salah aku. Kamu lucu mas”


“Anggi”


“Kamu tahu mas? Bunda kamu selalu tanya sama aku apa yang terjadi sama kamu sebenarnya, tapi aku cuman jawab aku akan ada di sisi kamu selamanya. Bunda senang dan berharap aku jadi istri kamu nanti”


“Kamu tahu itu aku ngga punya perasaan apapun sama kamu kan?”


“Ya aku tahu. Dan aku akan berusaha buat kamu punya perasaan itu cuman buat aku mas, bukan buat bocah itu lagi”


Wine membekap mulutnya rapat. Tubuhnya sudah bergetar mendengar sederat kalimat perdebatan dua insan diluar sana yang melibatkan dirinya sebagai sumber masalah. Sebesar apa kesalahan dirinya hingga membuat dua orang disana saling menyakiti satu sama lain? Sebesar apa kesalahannya hingga membuat Arka begitu menderita selama ini?.


Saat suara pintu luar yang kembali terkunci, Wine memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya, tangisnya pecah dengan suara isak yang tak bisa lagi ditahan. Kenapa dirinya merasa sangat buruk saat ini? kenapa dirinya merasa memiliki kesalahan yang amat besar?.


Wine semakin membenamkan wajarnya diantara lutut saat di rasa seseorang menyentuh lengahnya. Arka, jelas pria itu yang tengah berjongkok didepannya sekarang. Wine tak ingin menangis didepan pria ini, menambah rasa sakit Arka yang tak pernah bisa dirinya bayangkan sama sekali.


“Dek”


Suara lembut Arka terdengar, membuat Wine semakin menangis dan bersalah kepada Anggi karena mendengar nada suara Arka yang berbeda dengannya.


Wine mengangkat kepalanya, wajahnya yang sudah basah lengkap dengan mata memerah karena menangis menatap balik Arka yang tersenyum lembut padanya. Menambah satu titik lagi kesalahannya kepada Anggi.


Entah kenapa dirinya malah memikirkan perasaan wanita itu sekarang.


“Maaf karena kamu harus denger semua hal itu ya dek”

__ADS_1


Arka mengusap air matanya lembut.


“Maaf juga karena kamu denger abang marah-marah, kamu pasti takut sama abang?”


Wine tak menjawab. Air matanya masih meluncur dan kembali diusap oleh ibu jari Arka.


“Maaf juga karena kamu jadi merasa ngga enak sama Anggi”


Wine masih diam.


“Dan Maaf juga karena mungkin buat kamu khawatir dengan apa yang sudah abang alami saat ketemu dengan budhe kamu.”


Saat mendengar kalimat barusan. Sesak di dada Wine kembali terasa hingga suara isak Wine kembali terdengar. Selain merasa tak enak dengan Anggi, sejak kemarin Wine juga merasa khawatir dengan semua yang dialami oleh Arka selama bertemu dengan budhenya.


“Abang baik-baik saja. Abang cinta sama kamu dek. Jangan nangis lagi ya. harusnya abang yang nangis disini dong bukan kamu”


Wine masih tak menjawab bahkan hingga Arka menariknya kedalam pelukan pria itu. semua hal yang Wine takutkan selama ini menghilang saat Arka memeluknya erat sambil menepuk punggungnya menenangkan. Wine kembali menangis hebat, sesenggukan yang membuat Arka malah tertawa mendengarnya.


Semuanya memang hanya perlu waktu dan penjelasan, menghindar tak akan pernah menyelesaikan masalah.


***


Setelah hampir 30 menit gadis itu mengurung dirinya dikamar dengan alasan ingin menenangkan diri dan meminta Arka untuk menunggu diluar, Wine akhirnya keluar dengan wajah yang lebih segar lengkap dengan rambut yang dikuncir ekor kuda.


Arka yang kini tengah duduk di sofa hanya menatap Wine sambil tertawa. Wajah Wine yang merah dengan mata sembab tadi terlihat lucu dan kasihan bersamaan, Arka bahkan tak bisa menahan tawanya tadi hingga berakhir disuruh menunggu diluar kamar.


“Wine laper bang”


“Mau makan diluar?”


Wine menggeleng.


“Disini?” Arka menarik tangan Wine agar duduk disampingnya. Tak ingin melepaskan, Arka menggenggam tangan Wine erat.


“Mau delivery atau masak?” tanyanya lagi.


“Emang abang punya apa di kulkas?”


“Ngga ada. Kita bisa masak pakai bahan itu” jari Arka menunjuk kearah kantong belanjaan yang berada di atas meja makan. Kantong belanjaan yang dibawa oleh Anggi tadi.


Satu pukulan dari Wine mendarat tepat di lengan atas Arka. Tak tahu dimana letak kesalahannya, Arka memiringkan kepalanya sambil menatap bingung kearah Wine.


“Kenapa abang dipukul? Sakit tahu”


“Yakali kita masak pakai bahan yang dibawa mbak Anggi. Jangan lupa abang udah bikin dia nangis tadi”


“Memang kenapa? Ngga ada salahnya kan? Mubadzir kalau ngga dimasak”


Bukan lagi pukulan, kali ini cubitan yang Arka rasakan.


“Wine nggak mau ah. Itu kan pakai uang mbak Anggi. Abang ngga ada malunya banget sih. Udah bikin anak orang nangis, eh masih mau diembat aja duitnya”

__ADS_1


Arka tertawa, mengacak rambut Wine gemas kemudian bangkit dan berjalan menuju meja makan. Melihat beberapa bahan yang ada didalam kantong plastik kemudian mulai mengeluarkannya satu persatu, menghiraukan Wine yang kini sudah duduk di sampingnya menatapnya tak suka.


“Kita pesen aja bang. Wine ngga mau makan yang dibeli sama mbak Anggi”


“Siapa bilang ini yang beli Anggi? Ini belinya pake kartu abang. Jadi pakai uang abang”


Arka pindah menuju meja dapur, membuat Wine ikut mengekor dan duduk diatas meja pantry.


“Maksudnya? Kok bisa?”


“Dia pegang salah satu kartu abang"


“Kenapa gitu?”


Arka melirik sebentar kearah Wine kemudian kembali tertawa. Sisi Wine yang banyak tanya juga sudah kembali sepenuhnya.


“Ya bisa dong. Soalnya 3 bulan yang lalu Anggi baru pindah ke Jakarta. terus bunda nyuruh abang buat bantu kali aja Anggi butuh bantuan.”


“Terus abang ngasih kartu gitu? Abang tahu kan bantuan yang dimaksud itu bukan bantuan materi?”


Arka mengangguk kemudian mencubit pelan pipi Wine gemas. “Abang banyak kerjaan di Skadron jadi jarang ketemu. Makanya abang kasih kartu abang biar dia bisa nyuruh orang untuk bantu dia. Buat bayar mereka maksudnya”


“Idih najong. Sok kaya banget lo bang”


Inilah yang Arka rindukan selama 1 tahun belakangan. Bicara dengan Wine memang paling menyenangkan dan tak ada gantinya. Menikmati beragam ekspresi yang ditujukan Wine membuat Arka ketagihan.


“Kenapa? Kamu juga pengin pegang kartu abang? Abang bisa dan bersedia kasih semaunya buat kamu”


Wine turun dari meja pantry kemudian ikut membantu memotong wortel menjadi ukuran korek api “ Ngga perlu. Wine punya duit banyak”


“ Buat makan dan traktir Ocha Anya lumayan loh dek” kini Arka yang berganti duduk di atas pantry, lebih leluasa menatap wajah jelita gadis pujaannya ini.


Tak masalah jika Alan atau semua orang menganggapnya begitu memuja Wine hingga menjadi budak cinta, Arka tak peduli sama sekali. Dengan adanya Wine disisinya, maka semua hal yang telah ia lewati selama 1 tahun terakhir berbuah manis sudah.


“Eh tapi..”


Arka tersenyum saat Wine balik menatapnya.


“Kalau buat gantinya kita ngga ketemu boleh tuh bang, lumayan. Kan tadi abang bilang ngga bisa ketemu mbak Anggi karena sibuk di skadron kan? Berarti ada kemungkinan juga kita ngga ketemu kan bang? Lumayan Wine bisa ke mall kalau ngga ketemu sama bang”


“Kata siapa?” Arka turun dari meja kemudian memeluk Wine dari belakang.


“Kita bakal ketemu setiap hari malah. Setiap adek bangun tidur, muka abang yang bakal adek liat pertama kali. Mau nikah sama abang?”


“Oke”.


***Bekasi


31 Desember 2021


Wine sadar ngga itu ngomong apa?

__ADS_1


awas Arka kena jebakan betman***


__ADS_2