
“ Loe masih pada disini? Gue kira ikutan susulan ulangan matematika?”
Elen, gadis yang menggunakan seragam yang sama dengan Wine menatap heran mereka berdua karena alih-alih berada di ruang konseling malah berada di kelas.
Wine meletakan buku Biologi yang baru ia baca hingga halaman 57, kemudian menepuk punggung Anya pelan “ Sanah, susulan matematika noh nyet”
“ Nyat nyet nyat nyet. Anya, Nya” omel Anya yang tak terima dengan panggilan Wine barusan.
“ Ya kan nanggung, biar enak ditambahin ‘t’ dibelakangnya”
“ Jadi loe pada mau susulan atau ngga? Ocha udah mulai ngerjain”
Wine dan Anye saling melempar pandangan. Sejak tadi mereka memang tidak melihat wujud gadis pucat itu yang biasanya duduk rapih di mejanya dengan pensil dan buku matematika.
Setelah sadar dengan apa yang terjadi, Wine dan Anya langsung melesat ke ruang konseling yang berada di lantai bawah. Kelasnya berada di lantai 3, dan itu berarti mereka harus menuruni tangga dan menerobos beberapa siswa lain yang pasti memenuhi tangga dan jalan di waktu jam istirahat seperti ini.
“ Sengaja banget tuh mayat hidup duluan. Biar ngga bisa kita contekin” Wine masih dengan mulut pedasnya tanpa melihat siapa yang ia beri julukan itu menuruni tangga dengan terburu-buru. Tak ayal kakinya bahkan sampai beberapa kali tersandung, syukur ada beberapa adik kelas yang menahannya agar tidak jatuh.
“ Kalau dia udah selesai. Gue ngga bakal ngasih contekan ke dia pas ulangan sejarah” Anya ikut menimpali dengan nada kesalnya.
“ Gue juga ngga bakal ngasih contekan kalau ulangan biologi. Misi-misi, awas ada bom waktu yang mau lewat”
Wine menerobos beberapa siswa yang tengah asik duduk dilantai lengkap dengan jenga di tengah mereka. menabraknya? Tentu saja, siapa suruh menyusun balok-balok itu ditengah jalan.
“Maaf” teriaknya sambil mengatupkan kedua tangan di atas kepala.
Buli keringat bercucuran dengan napas tersengal dirasakan kedua gadis itu. Setelah ini mereka pasti hanya akan kelelahan dan semakin tak berjalan otaknya untuk menjawab deretan soal matematika nanti.
Disana, diruang konseling. Pak Muis duduk disudut ruang sambil membaca koran dengan Ocha yang duduk didepannya tengah serius mengerjakan soal diatas meja. Temannya itu benar-benar luar biasa. Luar biasa nggan untuk di contekin maksudnya.
“ Ada keajaiban apa bapak ngeliat kalian berdua melangkah sendiri buat ujian susulan?”
Pak Muis meletakan koran ditangannya. Kumisnya yang tipis dan keriting dibagian ujung itu bagi Wine sangatlah menggelikan. Apalagi ketika ujung kumisnya itu naik turun seirama dengan ocehannya jika ada anak yang tidur dikelas selama pelajaran matematika.
Mata sipit yang menurut Wine semenakutkan mata boneka di serial korea Squid Game.
Ya iyalah pak, kalau ngga sekarang, ngga ada yang nyontekin.
Kalimat itu jelas hanya ada di kepala Wine sekarang. Dengan senyuman ramah untuk pak Muis dan senyuman mematikan untuk Ocha— Wine berjalan masuk dan mengambil duduk disamping Ocha. Tepatnya mengapit Ocha diantara dirinya dan Anya sekarang.
__ADS_1
Mata Wine membulat takjub dengan 10 soal pada kertas yang baru saja pak Muis berikan. Banyak sekali simbol ∑ yang ia lihat, bahkan hampir semua soalnya memiliki tanda itu. Wine menelan ludahnya sendiri, soal macam apa yang ada didepannya sekarang?.
“ Kerjakan, bapak kasih waktu 30 menit. Pelajaran apa setelah jam istirahat?” pak Muis kembali bertanya, tidak peduli dengan ekspresi horor Wine sekarang karena soal-soal yang ia berikan barusan.
“ Kimia pak” jawab Ocha singkat.
“ Baik, bapak akan minta izin sama bu Ina kalau kalian datang telat di kelasnya”
Satu hal yang Wine panjatkan dalam hati sejak tadi. Semoga cacing-cacing di perut pak Muis berdemo minta diisi sekarang juga, dengan itu pak Muis akan keluar dan Wine akan mudah mencontek pada Ocha sekarang.
Namun, 2 menit, 5 menit, hingga 10 menit lamanya. Pak Muis masih saja duduk ditempatnya, tidak beranjak pergi sama sekali dilihat dari posisi duduknya yang terlihat sangat nyaman itu.
“ Pak, menu di kantin hari ini daging loh pak. Bapak ngga lapar emangnya?” dibalik pertanyaan Wine, siapa saja tahu ada kalimat perintah untuk pergi didalamnya.
“ Kenapa? Biar bisa nyontek?”
“ Ngga pak, kasihan aja saya sama perut bapak”
“ Perut bapak udah punya banyak lemak. Kamu yang suka biologi pasti jelas tahu lemak itu bisa menjadi pengganti energi sementara kalau kita tidak makan kan?”
Wine tak lagi menjawab, mau berbagai cara ia lakukan, pak Muis jelas tidak akan beranjak dari tempatnya sekarang.
Wine menyisir rambut dengan jari tangannya kebelakang, menjabaknya pelan berharap bisa kembali fokus untuk mengerjakan 5 soal terakhir. 5 soal awal Wine masih bisa, tapi 5 soal terakhir— caranya berada dibayangan Wine saja tidak.
Ocha mengangguk, bangkit dari kursi sambil mengembalikan pulpen yang ia pinjam pada Wine dan mulai kembali ke kelas tanpa menengok sedikitpun pada kedua sahabatnya itu.
ak
Bersamaan Ocha yang keluar dari ruang konseling, pak Muis juga memutuskan keluar untuk makan siang meninggalkan Wine dan Anya berdua saja. Kata p Muis hanya meninggalkan mereka berdua yang sama-sama rendah dalam ilmu matematika bukanlah sebuah masalah. Yang penting Ocha sudah keluar.
“ Buka itu pulpen”
Setelah merasa pak Muis benar-benar tidak ada disekitar mereka, Wine membuka pulpen dari Ocha yang sejatinya memang milik Ocha. Wine tak meminjamkan apapun pada Ocha sejak ia berada disini.
Jangan takjub dengan keahlian Ocha yang menggulung kertas berisi lima jawaban itu sekecil mungkin hingga muat kedalam tempat pulpen yang isinya sudah diambil. Dan jangan takjub juga dengan kecepatan Ocha dan Anya yang langsung menyalin puluhan angka dan simbol itu kedalam lembar jawaban.
Setidaknya mereka tahu Ocha bukanlah tipe sahabat yang benar-benar meninggalkan mereka. tanpa contekan maka Ocha tak akan selamat di ulangan biologi dan sejarah selanjutnya. Sadar diri saja sebenarnya.
***
__ADS_1
Bel pulang kini terdengar bersamaan dengan bu Ina menutup kelas dengan 3 halaman soal sebagai tugas rumah. Wine merapihkan beberapa bukunya kedalam tas, jadwalnya kali ini adalah mengunjungi perpustakaan nasional 24 jam yang berada di pusat kota. Bukan sendiri, tapi Anya dan Ocha juga akan ikut dengannya.
“ Kalian bertiga di panggil pak Muis” Elen— ketua kelas yang sudah keluar dari tadi kembali menyembulkan wajah dibalik pintu, hanya sejenak sebelum akhirnya kembali pergi meninggal ketiga gadis yang kini saling bertukar pandang ini.
“ Loe nyonteknya taruh di atas meja ya?” tebak Ocha.
Baik Anya dan Ocha mengangguk bersama. Mereka lupa jika ruang konseling itu dipasang cctv, dan itu berati.. ah tidak usah ditanya kelanjutannya.
Mereka bertiga jalan ke ruang guru dimana pak Muis berada. Pria berkumis tipis itu langsung melambaikan tangannya begitu melihat Ocha, Wine dan Anya sampai di ruang guru.
Tidak ada yang dikatakan, Wine hanya melihat pak Muis menjejerkan lembar jawaban ketiganya mulai dari Ocha yang mendapat nilai 100, Anya yang mendapat nilai 75, dan dirinya yang mendapat nilai 70. Wine mengambil lembar jawabannya kemudian memasukannya kedalam tas.
Awalnya Wine pikir tak ada yang ingin dikatakan pak Muis, membuat mereka berpamitan berniat untuk meninggalkan ruangan. Namun Wine yang berjalan paling akhir menghentikan langkahnya ketika suara rendah pak Muis masuk dengan jelas ke indra pendengarnya.
“Kenapa pak?” Wine bertanya sambil membalikan badannya, membuat Ocha, Anya dan semua guru yang ada di ruangan itu menatapnya heran. Nada suara Wine tersirat secuil ketidak setujuan didalamnya.
“ Kenapa?” pak Muis malah balik bertanya.
“ Bapak barusan bilang. ‘Anak komandan nilai matematika jelek banget, kurangnya didikan ibu sedari kecil jadi begini. Cuman nyontek bisanya’.” Ucap Wine mengulangi setiap kata pak Muis yang ia dengar barusan.
Tidak masalah jika Wine ditegur karena dirinya yang memang mencontek Ocha tadi, Wine juga tak masalah dengan kalimat awal pak Muis barusan. Hanya saja kalimat ‘kurangnya didikan ibu sedari kecil ‘ adalah alasan yang membuat emosi Wine meningkat drastis.
“ Berani sekali kamu natap saya begitu?”
Wine tak peduli, berjalan mendekati meja pak Muis kemudian meletakkan soal ulangan miliknya di meja. “ Bapak tahu, banyak orang yang tidak pandai matematika bisa sukses dimasa depannya, banyak anak yang tak memiliki ibu mempunyai kepribadian yang sangat sopan dan luar biasa. Tapi ada juga yang memiliki ibu dan berpendidikan tinggi tapi minim dengan adab dalam bicara”
Pak Muis sudah bersiap-siap untuk kembali melempar kalimat sanggahan, namun belum sempat bicara, Wine kembali memotongnya.
“ Bapak mau tanya maksud saya siapa? Bapak bisa memikirkannya sendiri”
Wine langsung mengambil kertas ulangannya dan berjalan keluar dari ruang guru, namun baru beberapa langkah menjauh, sosok babanya berjalan kearahnya, melewatinya seolah tak melihat Wine kemudian berjalan masuk ke ruang guru.
Selalu seperti ini. setiap kali membuat masalah disekolah, babanya akan selalu datang di hari itu juga. Wine tak memperdulikan apa yang akan babanya dan pak Muis bahas, langkahnya terus berjalan keluar dari gedung sekolah, hingga satu mobil yang sangat Wine kenal dengan sosok Arka yang berdiri bersandar di pintu, membuat Wine mempercepat langkahnya dan kemudian masuk kedalam mobil yang jelas langsung mendapat tatapan aneh dari pria itu.
Sebaik mungkin Wine mengatur ekspresinya sebelum akhirnya membuka jendela dan menatap balik Arka dengan cengiran handalnya.
“Seneng deh liat abang Arka yang ganteng. Taruhan kemarin Wine pakai hari ini yang bang”
***
__ADS_1
Bekasi
28 November 2021