Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 30: Pengakuan


__ADS_3

Sesuai dugaannya. Memang Ainan yang mendatangi tempat kostnya dan kini malah tersenyum cerah. Dari pada menjadikan namanya bahan gossip bagi seluruh penghuni kost karena Ainan— pria paling tampan di fakultas kedokteran mendatangi dirinya, Wine langsung memilih keluar tanpa balas senyum kepada pria itu.


“Mau kemana?”


Wine yang sudah berniat berjalan menuju kafe menghentikan langkahnya saat Ainan malah menanyakan tujuan mereka “Ke kafe kan?”


“Motor gue gimana?”


“Tinggal aja. Deket, jalan kaki juga ngga sampai 10 menit”


Wine memang memilih tempat kost yang sangat dekat dengan kampus. Awalnya dirinya ingin tinggal di asrama yang disediakan Universitas. Namun Ocha dan Anya yang memilih untuk tinggal diluar asrama membuat Wine juga melakukan hal yang sama. Di asrama terlalu banyak aturannya. Anya yang sangat suka hidup bebas jelas enggan terikat oleh aturan.


“Kenapa ngga dateng? Gue nunggu lo di kafe hampir 30 menit” Ainan menyamakan langkahnya dengan langkah Wine.


“Males” jawaban singkat yang sangat jujur ini.


Bukan pertama kali ditolak oleh Wine, Ainan sudah terbiasa dengan hal itu “Setelah gue bisikin kaya kemarin juga tetep males?”


Wine mengangguk. Dirinya ingin sekali bisa terbang malam ini dan sampai di kafe didepan sana secepatnya. Semakin cepat maka akan semakin cepat pula pertemuan ini berakhir.


“Lo tahu hal itu cuman mempan 2 kali buat gue. Ketiga kalinya bakal lo yang nyesel”


Arka tertawa “ Kenapa sih susah banget jadi pacar gue. Yang lain pada ngejar-ngejar gue. Lo doang yang susah banget”


“Lo juga kenapa sih ngga bosen-bosennya ngajakin gue pacaran. Gue udah bilang kan gue udah punya pacar. Jadi cepetan bangun jangan banyak mimpi”


Langkah Wine terhenti saat Ainan mencekal tangannya. Pria itu kini tertawa dengan tatapan yang sedikit menakutkan. Tatapan yang tak pernah Wine lihat sebelumnya.


“Sok jual mahal banget sih lo. Gue tahu lo cantik. Tapi lama-lama gue juga ngga bisa tahan kalau lo jual mahal terus begitu”


Wine menarik tangannya agar terlepas dari tangan Ainan “ Bagus dong kalau lama-lama lo ngga tahan sama gue. Itu artinya lo sadar, deketin gue yang udah punya pacar ini cuman ngabisin waktu lo aja”


“Pacar, pacar, pacar. Segitunya lo nggak mau sama gue sampai lo bikin pacar khayalan?”


Wine tertawa, matanya yang sebelumnya menatap Ainan kini beralih menatap ponselnya yang baru saja muncul satu notifikasi pesan dari Arka. pesan pop-up dari Arka yang Wine baca, membuat mata Wine langsung menyipit menatap kafe didepan sana. setelah yakin menemukan Arka ada disana yang tengah duduk di samping kaca. Wine tersenyum seketika.


“Kalau gue bisa nunjukin pacar gue ke lo. Lo mau apa?”


“Gue bakal lepasin lo”


“Deal”


Wine langsung berjalan cepat menuju kafe. Masuk kedalam kafe yang langsung disambut oleh lambaian tangan Arka. Tanpa berpikir panjang, Wine langsung tersenyum dan berjalan zig zag seperti dulu kemudian bergelayut manja ditangan Arka yang kini menatapnya bingung. Bang tolong jaga itu ekspresi biar ngga ketahuan.


“Bantu Wine sebentar bang” bisik Wine yang diharap bisa dipahami situasinya oleh Arka.


Saat melihat gerak-gerik Arka yang menepuk tangannya, Wine bersyukur karena Arka sepertinya tahu apa yang harus pria itu perankan sekarang.


Namun detik berikutnya, tubuh Wine membeku seketika saat Arka memeluknya. Jantungnya berdetak kencang bahkan nyaris berhenti saat Arka bukan hanya memeluknya namun mencium keningnya dalam dan cukup lama.


Wine mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha sadar dan saat kesadarannya kembali, Wine menginjak kaki Arka pelan agar pria itu menyudahi aktifitasnya. Mendorongnya jelas tak mungkin karena Ainan masih berada didepan mereka.


“Abang kangen banget sama adek” ucap Arka yang sepertinya berasal dari lubuk hati terdalam pria itu.


Meski matanya masih menatap geram kearah Arka, Wine menarik senyumnya “Aku juga kangen sama abang. Udah hampir 1 tahun ya bang LDR an. Kerjaan abang udah selesai?” basa-basi Wine.


“Udah, makanya abang langsung terbang kesini. Pengin liat adek soalnya”

__ADS_1


Uhh. Mendalami peran sekali bang Arka ini.


”Oh ya bang, kenalin ini Ainan. Senior aku dikampus. Dan Ainan ini pacar gue, namanya Arka” Wine mengenalkan Arka pada Aian.


Ainan tak bicara, hanya langsung pergi dari kafe bahkan tanpa menjabat tangan Arka yang terulur dengan niatan untuk berkenalan.


Setelah dilihat Ainan cukup jauh dan tak mungkin melihat kearah kafe. Wine langsung menjauhkan diri dari Arka dan duduk dikursi belakangnya. Jantungnya perlu diatur agar berdetak normal kembali terlebih dahulu. Maka dari itu air mineral milik Arka yang berada disamping cangkir kopi langsung Wine minum tanpa minta izin terlebih dahulu.


“Jadi, abang jadi pacar kamu lagi dek”


“Boongan tadi” Wine kembali minum dan menenggaknya hingga tak bersisa.


“Kalau beneran abang juga mau”


Wine berdecak mendengarnya. Sepertinya Arka memang sudah berubah 360 derajat. Tingkat percaya diri pria ini semakin tinggi.


“Tunggu, ngapain abang pake cium Wine segala? Tadi kan cuman pura-pura, nyebelin banget sih” Wine mengusap keningnya seolah berusaha untuk menghilangkan jejak Arka disana. Meski didalam hatinya, ketenangan selama 1 tahun yang tak pernah Wine rasakan, kembali terasa tadi.


“Ya Allah dihapus. Biar tambah percaya temen kamu dek. Buktinya berhasilkan, temen kamu percaya tadi”


Wine mengangguk. Ya, memang benar sih. Ainan yang keras kepala itu pasti tak akan percaya jika Arka tak melakukan hal itu tadi. Ainan akan terus meragukan Arka jika hanya dikenalkan sebagai pacar tanpa melakukan tindakan apapun.


“Kalau setuju makasih dong sama bang”


Haruskah dirinya mengucapkan terimakasih sekarang?.


*Tapi kan tadi Arka yang mengambil kesempatan dalam kesempitan?.


Bukankah pria itu harus minta maaf terlebih dahulu*?


Wine jelas merasa janggal dengan semua itu. lebih baik tak berterimakasih sama sekali dari pada merasa aneh karena harus berterimakasih dengan apa yang Arka lakukan barusan.


“Oke abang dulu yang minta maaf karena ngelakuin hal tadi. Dan abang juga terimakasih karena kamu ngga nolak. Dan terimakasih juga karena kamu pura-pura jadiin abang pacar. Kali aja nanti bisa jadi pacar beneran lagi”


Wine membeo seketika. Sungguh tak ada yang bisa ia ucapkan lagi setelah mendengar sederet kalimat Arka barusan. Pria ini benar-benar luar biasa.


“Makan bang. Wine laper”


Dahi Wine mengkerut saat melihat Arka kini malah tertawa. “Ngapain ketawa?”


Arka menggelengkan kepala “Ngga kenapa-kenapa. Cuman udah lama ngga ada lagi yang minta makan sama abang”


Ah, Wine baru sadar. Nyatanya tubuh dan mulutnya ini tak sejalan dengan hati dan harga diri. Wine bahkan tak sadar jika melakukan hal yang sama seperti saat mereka pacaran dulu.


Dulu setiap kali bertemu dengan Arka, dirinya selalu bilang lapar dan minta makan. Itu pasti yang membuat Arka tertawa sekarang.


Terlalu nyaman dengan pria ini sebenarnya.


***


“Ayo”


“Mau kemana?” tanya Wine bingung.


“Katanya mau makan? Disini adanya tart semua. Ngga ada makanan”


“Jangan nasi padang ya”

__ADS_1


Arka kembali tertawa. Memegang tangan Wine kemudian menariknya keluar.


Sepanjang mereka jalan menuju restoran steak yang Arka lihat saat menuju kafe tadi. Wine sama sekali tak meminta agar Arka melepaskan tangannya. Gadis ini malah asik berjalan sambil mengenalkan satu persatu toko yang mereka lewati.


Arka yang sebelumnya menggenggam tangan Wine kini berganti menjadi mengaitkan jari-jari mereka, membuat Wine yang tersadar menatapnya dengan mata menyipit.


“Anggap aja sebagai rasa terimakasih kamu sama abang karena udah bantu kamu malam ini”


“Oke”


Wine kembali berjalan membuat Arka tersenyum sangat lebar. Satu yang Arka sadari, kemungkinan bukan hanya Arka saja yang memiliki perasaan yang sama seperti dulu, Wine juga masih memiliki perasaan padanya.


“Ini nanti kalau ketahuan sama pacar abang bisa gawat ini”


“Pacar?” Arka mengerutkan dahinya “Abang ngga punya pacar”


“Yang kemarin datang ke bioskop itu pacar abang kan? Atau malah tunangan abang?”


“Oh itu Temen abang”


“Oh..”


“Dek”


“Ya?”


Arka menahan tangan Wine agar gadis ini berhenti melangkah “Mau jadi pacar abang lagi. atau istri abang?”


Arka pikir dirinya akan mendapati wajah terkejut Wine saat menanyakan hal itu. namun nyatanya Wine kini hanya menatapnya datar sebelum akhirnya menggelengkan kepala.


“Masalah kemarin itu ngga bakal ada jalan keluarnya bang” ucapnya. Melepaskan tangan Arka dan kembali berjalan terlebih dahulu.


“Budhe kamu udah tahu profesi abang”


Wine menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadapnya. Ekspresi yang Arka bayangkan sebelumnya ia lihat detik ini. Wine menatapnya kaget seakan tak percaya dengan apa yang Arka katakan barusan.


“Selama 1 tahun abang berusaha meyakinkan budhe dan pade kamu. Dan akhirnya berhasil. Abang juga sudah minta restu sama baba kamu. Tinggal dari kamunya saja dek”


Arka tak berbohong. Semenjak hubungan mereka berakhir. Arka yang masih sangat yakin jika Wine akan kembali pada dirinya sering kali bolak balik ke Solo untuk meminta restu pada budhe dan pade Wine.


Ditolak pertama kali? Jelas. Saat Arka mengatakan profesi aslinya, selama 1 bulan penuh budhe bahkan sama sekali tak keluar saat Arka datang berkunjung. Namun Arka tak menyerah hingga akhirnya berhasil meyakinkan budhe setelah hampir 10 bulan mencoba. 2 bulan sisanya, Arka gunakan untuk meminta izin kepada sang komandan. dan Seakan Tuhan juga mempermudah jalannya, Arka dipindah tugaskan ke Halim, dan menetap di kota yang sama dengan Wine.


Gadis itu maju beberapa langkah mendekat “Abang ketemu sama budhe dan ngaku semuanya? Kapan?”


“Setelah kita putus”


“Buat apa abang ngelakuin itu kalau kita aja udah putus?”


“Karena abang yakin kamu bakal balik lagi sama abang”


“Wine ngga jadi lapar bang. Wine mau pulang aja. Ngga usah diantar, kost Wine deket. Assalamualaikum bang”


Arka membiarkan Wine berjalan menjauh darinya. Tidak berniat menahannya karena Arka juga sadar jika Wine butuh waktu berpikir sekaligus memastikan semuanya langsung kepada budhe dan babanya.


***Bekasi


24 Desember 2021.

__ADS_1


menjelang tamat***.


__ADS_2