
Arka masih ingat bagaimana wajah dingin itu terlihat dibalik senyumannya beberapa detik yang lalu. Ekspresi yang ia lihat persis dengan ekspresi saat di skadron dulu, saat Wine keluar dari ruangan komandannya dan memuntahkan serta membuang jus ke tempat sampah.
Semuanya masih tercetak jelas di ingatan Arka. Dan hari ini ia melihatnya kembali.
“Seneng deh liat abang Arka yang ganteng. Taruhan kemarin Wine pakai hari ini yang bang?”
Arka tak menjawab, dirinya hanya berjalan memutari mobil kemudian masuk ke mobil dan melajukannya menjauh dari lingkungan sekolah. Tak ada yang bicara, dirinya hanya fokus menyetir dan Wine yang biasanya tingkahnya penuh dengan kejutan hanya diam sambil menatap keluar jendela yang terbuka setengah. Meski ditutupi dengan senyuman ceria, Arka tahu jika anak komandannya ini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
“Bang”
“Hmm?”
“ Berapa nilai matematika abang dulu pas sekolah?”
“ Kenapa memangnya?”
Wine menunjukkan kertas nilai ulangannya dengan gerakan santai. Tak ada ekspresi malu sama sekali seakan nilai yang ada dikertas bukanlah suatu hal yang memalukan.
“ 70? Tidak terlalu buruk. Kalau 50 baru nilai yang buruk” Arka hanya ingin membuat suasana mobil yang dingin ini menjadi lebih sejuk. Maka dari itu memuji nilai 70 yang jelas dibawah KKM itu adalah salah satu caranya.
Bukanya mengangguk, Arka malah melihat Wine menggeleng kemudian mengangguk “ Nilai ku aslinya 20 bang”
“ 20 ? itu betul 7 kan? Satu soal 10 point, jadi 70”
“ Ngga nilai ku 20, jawabanku cuman betul 2, jawaban yang benar sisanya nyontek di Ocha. Jadi abang bener, nilai yang sangat buruk”
Ah, satu lagi gossip yang mengatakan anak komandannya sangat rendah di matematika terbukti didepan matanya. Untuk kali ini Arka tak bisa lagi menjawab, jawaban yang sebelumnya diharapkan bisa menghilangkan hawa dingin kini malah menambah hawa dingin dan canggung di antara mereka.
“Kalau abang nilai matematikanya dulu berapa?” Wine kembali bertanya. Pertanyaan yang juga sama sekali tak ingin Arka jawab, mengingat nilai matematikaku sejak SD tak pernah berada dibawah angka 9.
“ Pasti bagus ya bang?” tipikal Wine yang bertanya sendiri namun menebaknya sendiri.
Arka mengangguk, kemudian mengambil kertas ulangan Wine dan memasukan kedalam laci “ Bagus. Tapi asal kamu tahu tidak selamanya nilai menjamin seseorang sukses dimana depan”
“ Ya, itu pemikiran abang, tidak dengan baba”
Ada nada kecewa yang Arka dengar dibalik kalimat itu. Sebagian ucapan Wine benar adanya namun sebagiannya lagi tidak “ Alih-alih nilai, sepertinya komandan lebih suka sama orang yang punya rencana untuk masa depan. Seperti hal apa saja yang harus kamu raih diusia yang kamu inginkan. Setahu saya begitu”
__ADS_1
Wine menggeleng tak setuju “ Sayangnya yang abang lihat di baba tak 100 persen seperti itu.
“Buktinya kalau baba ngga terlalu mementingkan nilai, seharusnya abang dan baba ngga ada disekolah sore-sore begini” lanjutnya lagi.
“Kebetulan saya dan Komandan habis keluar karena ada yang harus diurus. Terus guru kamu telfon jadi sekalian saya antar komandan ke sekolah”
“Terus abang ngga mikir gitu, habis ini baba pulang pakai apa?”
“ Pesan taksi sendiri bisa kan?”
“Wahh keren. Baru kali ini Wine nemu anak buah baba macam abang ini”
Arka tertawa yang membuat Wine juga tertawa. Sejujurnya selama perjalan menuju sekolah dengan komandannya tadi. Sang komandan berpesan jika Wine menaiki mobil ini dan meminta untuk segera pergi, maka Arka harus menurutinya. Setidaknya itu lebih aman dan lebih jelas kemana tujuan dari Wine setelahnya. Karena biasanya setelah kejadian seperti ini, Wine akan berakhir ditemukan di rumah sakit setelah mengikuti balapan liar para kakak kelasnya dulu.
“Jadi abang nilainya berapa?”
“Masih penasaran kamu?”
“Iya. Jadi?”
“ Boongnya mantap sekali anda bang”
“Ngga percaya?” Arka melirik sebentar kearah Wine yang kini tengah menggelengkan kepalanya.
“Saya tunjukkin rapot saya kapan-kapan sama kamu”
“Setuju”
Jawaban yang menggelikan sekaligus menyedihkan bagi Arka. Biasanya saat membahas soal nilai, semua orang akan langsung percaya dan berkata ‘orang pinter mah udah keliatan dari mukanya doang’, baru kali ini saja yang bahkan setuju untuk ditunjukan nilai yang ada di raport nya.
“Bang”
Arka menghembuskan napasnya lelah “Apa lagi?”
“Laper”
Jika saja Wine bukanlah anak komandannya, sungguh Arka akan pura-pura tak mendengar setiap ucapan gadis ini sejak tadi. Sebenarnya bukan karena tak mau mengeluarkan uang untuk makan anak komandannya ini. hanya saja setelah tak percaya jika dirinya memang selalu mendapat nilai bagus disekolah. Wine juga sangat tak tahu malu untuk meminta makan padanya. Sungguh luar biasa anak komandannya ini.
__ADS_1
Tepat di perempatan lampu merah, Arka membelokkan mobilnya ke arah kiri,kemudian parkir didepan rumah makan padang terdekat. Mungkin jika perut Wine penuh, gadis ini akan tertidur sepanjang jalan menuju rumah sang komandan.
“Nasi Padang bang?”
Arka mengangguk, mematikan mesin mobil kemudian menatap kearah Wine yang terlihat enggan untuk turun “ Laperkan? Turun” perintahnya kemudian meninggalkan Wine yang masih dimobil dan berjalan masuk kedalam rumah makan Padang.
Hanya selang beberapa detik, Wine kini sudah duduk didepannya dengan bibir mengerucut yang menurut Arka sangat lucu.
“Kenapa? Enak loh nasi padang”
“Siapa yang bilang ngga enak? Wine cuman sekarang penginnya makan bakso biar seger”
“Yang ada dan yang paling deket cuman nasi padang. Sebentar lagi bakal macet soalnya. Jadi makan dulu aja yang ada”
“Cih”
Semakin mengenal sosok Wine, semakin pula membuat Arka merasa takjub dengan perubahan pada dirinya sendiri. Pasalnya dulu Arka paling enggan untuk berdekatan dengan makhluk berjenis kelamin wanita, apalagi tipe Wine yang terus bicara tak ada hentinya. Baru kali ini Arka bisa bertahan, bahkan cenderung aneh karena menganggap beberapa hal lucu pada gadis yang duduk didepannya ini.
“ Oh ya. rambut kamu dikuncir”
Lagi Arka melihat Wine mencebik tak suka. Namun meski tak suka Wine masih merogoh kantong bajunya berusaha mencari ikat rambut yang mungkin biasa gadis itu letakan disana.
Merasa tak kunjung menemukan ikat rambutnya, Wine kini malah berjalan menuju abang penjual kemudian meminta karet gelang yang biasanya digunakan untuk mengencangkan pembungkus nasi padang.
“Buat apa kamu minta karet itu?”
“Buat apa lagi? buat ikat rambut lah. Kan abang nyuruh ikat rambut”
Arka merogoh kantong celananya kemudian meletakan satu bungkus ikat rambut berwana-warni di atas meja “ Kebetulan tadi saya liat penjual mainan sama ikat rambut didepan sekolah kamu. Kasihan ngga ada yang beli, jadi saya beli itu tadi sama mobil-mobilan kecil” Arka menjelaskannya panjang lebar, meski yakin ucapannya barusan tak akan mungkin dipercaya oleh Wine.
Jangan lupakan dengan keunikan yang dimilik oleh Wine.
***
Bekasi
30 November 2021
__ADS_1