Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
SDW 8 : Sogok


__ADS_3

Group Harta Karun Negara.


Mayat Hidup.


Heran gue. Udah pada punya anak, tapi kelakukan kaya bocah semua! lagi pada kerasukan apa sih pagi-pagi.


gila semua!


Tak berniat untuk menjawab pesan Ocha yang kini pasti tengah kebakaran jenggot karena kejadian pagi tadi, Wine hanya mengamatinya dengan senyum yang mengembang. Jika Ocha sudah marah-marah, maka percayalah tak akan ada satupun diantara Wine dan Anya yang menanggapinya.


Mayat Hidup.


Bisa nggak sih kalau ada masalah sama anak-anak dan sekiranya cuman masalah sepele nggak usah pada ribet. Anaknya udah akur, udah pada main bareng, emaknya yang ribet banget.


Sesungguhnya Wine menunggu Anya membalas pesan, jika Anya sudah muncul maka Wine baru berani muncul. Namun sudah hampir 2 menit sejak Ocha mengirim pesan pertama kali, Anya sama sekali tak muncul meski saat melihat Riwayat terakhir dilihat Anya kini menunjukan tulisan online.


Mayat Hidup.


Sekarang gue mau tanya?! apa sih keuntungannya ngajak rebut orang? sekolah tinggi-tinggi masih aja kaya preman pasar.


Siapa yang kaya preman? Wine masih berbicara dengan senyuman pada bunda Ragi meski banyak kalimat sindiran yang ia lemparkan pada perempuan itu.


Mayat Hidup.


Nggak pada nongol?. Kenapa lo Win? takut sama gue? waktu gue plototi tadi, nyantai aja malah deketin ibu Ragi.


Namanya disebut. Semakin pula ciut nyali Wine untuk membalas pesan Ocha. Percayalah hal yang begitu Wine takutkan pada Ocha adalah Ketika Wanita itu sudah marah-marah seperti ini. Jika sudah menyangkut dengan pekerjaan, maka Ocha saat marah sudah tidak bisa dikatakan wajar. Wajah pucatnya sudah menyeramkan ditambah dengan marah-marah, lengkap sudah.


Mayat Hidup.


beneran nggak ada yang nongol ini ya! bikin ulah, kalau diomelin pada kabur! dateng ke rumah gue nanti malam! awas kalau nggak pada dateng!


“Win, itu suami lo ya?”


Wine yang tengah menunggu Ocha Kembali mengetik pesan menoleh kearah dokter Jani. Wawancara Arka kemarin mengenai peluncuran pesawat tempur tengah ditayangkan di televisi yang di gantung di tengah-tengah ruangan jaga dokter. Dengan seragam lengkap, Arka memang terlihat tampan, namun dilayar televisi sekarang yang pastinya sudah mendapatkan sedikit efek, ketampanan suaminya itu bertambah dua kali lipat. Wine mengangguk pada Jani.


“Ganteng kan? Suami gue gitu”


Jani memutar bola matanya jengah. Semenjak menikah tak ada hari tanpa Wine mengelu-elukan suaminya itu. Jani akui, Arka memang tampan, namun saat pertama kali melihat Arka, wajah suami Wine terlihat sedikit tua. Sekarang? Wajahnya tak ada perubahan sama sekali meski usia pria itu bertambah. Dulu wajah tua, sekarang terlihat sesuai dengan usianya.


“Iya, iya ganteng banget suami Wine mah” jawab Jani.

__ADS_1


Wine tersenyum menjawabnya. Matanya melirik sebentar kearah televisi yang masih menayangkan wawancara Arka sebelum Kembali menatap komputer di depannya. Setelah menjadi asisten operasi prof. Hanan, mereka memiliki waktu sekitar 30 menit untuk beristirahat. Wine Kembali mengerjakan revisi yang semalam tertunda karena Arka.


“Heran gue, orang yang masuk ke TV bisa cakep-cekep bener semuanya. Tuh mbaknya juga cakep bener”


Penasaran, Wine Kembali menoleh ke layar TV. Bukan lagi menampilkan tayangan wawancara suaminya, kini wajah Anggi sang pembawa beritalah yang muncul. Untuk beberapa saat Wine mengamati wajah itu, jika dirinya bisa mengenali Wanita itu meski dalam jarak jauh, maka ada kemungkinan Anggi juga mengenalinya saat itu.


“Lo tahan banting banget ya Win” ucap Jani


“Maksudnya?”


“Punya suami ganteng begitu mana badan keker yang deketin banyak pasti.”


“Kuncinya tinggal saling percaya aja” biasanya Wine akan tersenyum sambil mengatakan kalimat barusan, namun kali ini tatapannya terlihat datar seakan apa yang ia katakan kini tak sesuai dengan apa yang ada di kepalanya.


Ya gimana mau sesuai, kalau Anggi berada dilayar tv yang kini tengah ia lihat?.


“Selamat pagi dokter Wine”


Saat Namanya dipanggil, Wine menoleh kearah samping dimana sosok Wanita yang ia kenal sebagai ibu Raisa, pasien yang kemarin selesai di operasi menyapanya pelan. Di belakang Wanita itu ada prof. Hanif dan dokter Ainan.


“Saya dengar kemarin ibu dokter yang nemuin Raisa pingsan di kamar mandi ya dok? Terimakasih banyak karena telah menyelamatkan Raisa”


Wine tersenyum sambil menyambut uluran tangan ibu Raisa. Alasan Wine pulang hingga larut malam itu adalah karena dirinya menemukan Raisa— pasien yang sudah dirawat kurang lebih 5 bulan karena komplikasi pingsan di kamar mandi. Malam itu pula, Ainan dan prof. Hanan mengoperasi Raisa yang syukurlah berhasil dan bisa membuat gadis kecil itu tersadar kembali. Ada penyempitan pembuluh darah pada otak Raisa.


“ Saya mau traktir dokter makam malam nanti. Dokter atau waktu tidak? Jika tidak hubungin saya kapan saja dokter butuh makanan. Saya hanya mampu sekedar memberi makanan ke dokter”


Wine menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tidak perlu bu, terimakasih. Ibu tidak perlu nghawatir sama saya. Saya hanya minta ibu makan dan istirahat yang cukup ya bu, biar ada tenaga untuk jaga Raisa”


“Iya bu. Dokter Wine kalau perlu makan bisa saya kasih nanti, tenang saja bu. Sama saya nggak bakal kelaparan” canda Ainan.


Wine memutar bola matanya jengah. Percayalah, bahkan setelah dirinya dan Arka menikah, Ainan masih sering memberikan makanan padanya, Ainan juga sesekali mengirimkan pesan seolah menanyakan kabar si kembar namun berujung dengan menanyakan agenda dan keadaan Wine. Tak ingin membuat Arka salah paham, setiap kali Ainan mengirim pesan, Wine selalu menghapusnya.


Memblokirnya? Tidak bisa. Mereka bekerja di rumah sakit yang sama, adakalanya mereka menghubungi satu sama lain untuk masalah pekerjaan. Terlebih Ainan adalah dokter bedah saraf di rumah sakit ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Lo dulu” Anya mendorong Wine melewati gerbang.


“Lo dulu aja” jawab Wine.


“Lah kan lo yang bikin masalah”

__ADS_1


“Lo aja dulu dong Nya, gue takut”


“Yang bikin masalah siapa?”


“Gue”


“Berarti yang harus masuk duluan siapa?”


“Lo”


“Lah kenapa gue?”


“Ya kan lo komplotan gue, biasanya dimana-mana kaki tangan dulu yang ditangkap baru bosnya”


Melihat Arum, Aaras dan Arsya sudah lari masuk terlebih dahulu kedalam rumah Ocha, Anya memukul punggung Wine keras.


Seperti perintah Ocha siang tadi, malam ini mereka mendatangi rumah Ocha demi meminta maaf pada Wanita itu. Bukan rumah Ocha sebenarnya, melainkan rumah Wine yang ia sewakan kepada Ocha dengan harga miring. Lebih baik diisi ketimbang kosong.


“Aunty Ocha, Assalamualaikum” ucap Arum manis.


“Aunty Ocha. Arsya mau masuk dong” Lanjut Arsya.


“Ocha Cha Ocha”


Tak usah tanya lagi siapa yang mengatakannya barusan, Wine langsung lari kearah Aaras dan menutup mulut putranya itu dengan tangannya. Bisa makin runyam keadaannya ini.


“Abang, panggilnya Aunty ya. Jangan Namanya doang”


Aaras mengangguk. Bocah laki-laki itu langsung masuk kedalam rumah bersama Arsya dan Arum begitu pintu rumah di buka. Meninggalkan Anya dan Wine yang kini berdiri tegak dengan kepala menunduk takut melihat wajah Ocha yang makin menyeramkan itu.


“Ngapain berdiri di situ aja! Nggak mau masuk?!”


Anya dan Wine saling pandang satu sama lain. lalu Kembali menatap Ocha yang masih berdiri diambang pintu.


“Emang boleh nggak usah masuk?” ucap Anya dan Wine kompak.


Ocha menghela napasnya pasrah. Bicara dengan dua makhluk hidup itu yang sudah berkembang biak benar-benar menyusahkan. “ Gue bikin shabu-shabu. Mau nggak?!”


Anya dan Wine yang sebelumnya menunduk— mendongak seketika. Tak perlu repot-repot meminta izin apalagi menunggu untuk disuruh masuk, keduanya langsung masuk ke rumah Ocha dengan wajah berbinar. Bahkan Wine mendorong Ocha pelan agar menyingkir sedikit dari pintu.


Anak-anak berada diruang tengah sambil menumpuk balok-balok mainan milik Ocha, merasa jika mereka kan bersikap akur hari ini meski tak diawasi, Anya dan Wine langsung menuju kearah dapur dan duduk di kursi meja makan. Satu panik berukuran lumayan besar sudah berada di atas meja dengan berbagai bahan-bahan untuk membuat shabu-sahabu.

__ADS_1


“Menurut lo kita ini lagi di sogok nggak sih? Di sogok dulu biar betah dengerin omelan dia” bisik Wine pada Anya yang duduk disebelahnya, matanya melirik ngeri kearah Ocha yang tengah mengambil 3 kaleng soda di kulkas dengan ekspresi wajah datar. Namun percayalah, semakin datar ekspresi wajah Ocha, maka semakin tinggi pula emosinya.


Wine merasa mereka kini bukan akan makan Shabu-shabu, tapi lebih ke uji nyali.


__ADS_2