
“Ada telfon dari ‘abang tua’!”
Secepat kilat Wine langsung berlari menaiki anak tangga. Hanya melambaikan tangan saat ibu berteriak mengingatkan untuk tidak berlari takut tersandung dan jatuh. Setelah sampai dikamar mbak Alin, Wine mengambil ponselnya sambil melet kearah mbak Wine yang langsung mendapat gelak tawa wanita itu.
“Eh abang ganteng telfon. Assalamualaikum”
Wine membuka tepat setelah berada di balkon kamar, duduk di kursi sambil menatap Arka diseberang sana yang sepertinya masih berada didalam mobil.
“Abang belum sampai skadron?” Tanya Wine lagi.
Layar yang sebelumnya menampilkan wajah Arka kini beralih menunjukan bangunan rumah minimalis dengan halaman yang sangat luas.
“ Dimana bang?” Wine kembali bertanya.
“Di rumah kakak. Kapan-kapan abang ajak kesini ya”
Wine menggeleng cepat. Hubungan mereka belum sejauh itu hingga harus dikenalkan pada keluarga masing-masing. Perihal Arka yang datang ke rumah ibu hari ini, itu hanya karena Wine minta tolong diantarkan ke sini. Bukan berniat untuk mengenalkan pria itu pada ayah dan ibu.
“Ko ngga mau. Kenapa?”
Dirinya yang sebelumnya duduk, bangkit lalu menutup pintu balkon karena mbak Alin dan mas Akhtar yang masih menelfon mengintip dirinya dari balik tirai.
macam maling saja mereka itu.
“ Ya ngga mau aja.”
“Alasannya?”
“Ngga ada. Ngga semua penolakan harus ada alasannya kan bang?”
“Harus. Harus ada alasannya!”
“ Idih maksa”
Wine tertawa saat Arka berdecak sambil menggelengkan kepala. Wajah penuh kehawatiran yang Wine lihat tadi pagi sudah sepenuhnya hilang dari raut wajah Arka, pria itu kini terlihat kelelahan namun tak berniat untuk mengakhiri panggilan.
“ Apa rencana kamu setelah ujian?”
Bola mata Wine mengarah keatas.. mengingat segala kegiatannya sebelum dan setelah ujian nanti. Ujian sekolah akan diadakan 2 minggu lagi, dan setelah itu ada kegiatan study tour dari sekolah, dan acara pesta kelulusan yang diadakan disalah satu teman seangkatannya.
“ Ada kegiatan study tour, pesta kelulusan dan niatnya setelah itu mau jalan-jalan sama Ocha, Anya. Kenapa emang bang?”
Arka diseberang sana menganggukkan kepalanya, seolah ada yang ingin ia katakana namun tertahan di tenggorokan. Tidak lagi berniat mengatakannya setelah mendengar sederet rencana Wine tadi.
“ Kenapa bang?”
Arka yang masih tak mengucapkan apapun membuat Wine kembali bertanya.
“Ngga jadi”
“Oh ya udah”
__ADS_1
Dari sini Wine bisa melihat perubahan pada raut wajah Arka yang sebelumnya semangat berubah menjadi kecewa. Lucu, namun kasihan dalam waktu bersamaan.
Ya Tuhan. Wajah yang selama ini Wine lihat datar itu ternyata memiliki berjuta ekspresi dibaliknya. Ingin rasanya Wine mencubit pipi Arka sekarang juga.
“ Udah? Idih ngga penasaran amat. Dipaksa dong biar abang ngomong?”
Wine tertawa setelahnya. Sedangkan dibalik tirai balkon ada suara berlaga ingin muntah dan diikuti dengan gelak tawa. Jika saja Arka tahu anak buahnya tengah menertawakannya sekarang. Wine yakin pria ini akan langsung mematikan sambungan.
“ Ngapain maksa. Abang bilang ngga jadi ya udah”
Kenapa posisinya terbalik sekarang?. Wine yang dulu suka sekali mengeluarkan jurus imut-imut nyerempet amit-amit dan menggoda Arka. Kini Arka yang menunjukkan ekspresi kesal namun terlihat imut-imut dimata Wine.
jatuh cinta itu memang luar biasa.
“Ya sudah ya. abang mau masuk dulu. Kamu juga tidur udah malam”
“ Siap komandan”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Bertepatan dengan sambungan yang terputus, mbak Alin langsung menyumbulkan wajahnya yang berniat untuk meledek itu.
“ Kamu juga udah tidur, udah malam. Cieeilah Mahmud bisa juga manis-manis”
“ Idih iri ya” Wine langsung melesat masuk kekamar dengan mbak Alin mengekor dibelakangnya.
“ Dek besok-besok direkam ya kalau pak Arka telfon”
“ Buat disebarain di skadron”
“ Kasihan dong pacar Wine”
“ Makan gratis mbak tambahin 1 minggu”
“Deal” Wine langsung menjabat tangan Alin sebagai tanda terima.
“Ngga ada akhlaknya emang lo dek” mas Akhtar tertawa sambil mengelus dadanya sendiri. Mungkin pacarnya mbak Alin itu sedang mengucapkan mantra ‘amit-amit punya pacar macam Wine. Ngga ada akhlaknya’.
****
Sekolah hari ini jelas berbeda dari hari-hari sebelumnya. Wine yang datang dengan tongkat untuk membantu berjalan menjadi sorotan banyak siswa lain. Wine yakin kabar mengenai dirinya yang mengalami kecelakaan di arena balap minggu lalu pasti sudah menyebar seantero sekolah. Pak Muis yang berpapasan dengannya menatapnya canggung sebelum akhirnya berjalan mendahuluinya menuju ruangan guru.
Biarkan saja. Biar pria itu tahu dan paham semua yang terjadi adalah dampak dari ucapannya kemarin.
“ Wine, hiks hiks”
Anya yang entah datang dari mana tiba-tiba menubruk tubuhnya sambil menangis sesenggukan. Sedangkan Ocha hanya berdiri sambil menepuk pundaknya dua kali. Ocha memang sudah melihat kondisinya kemarin, sedangkan Anya tidak bisa datang kerumah sakit karena berada di rumah neneknya yang jauh dari kota. Acara ke perpustakaan minggu lalu memang batal karena Anya langsung pergi ke rumah neneknya setelah pulang dari sekolah.
“ Lo udah sehat? Kenapa masuk kalau jalan aja belum bisa?” Ocha berkata sambil mengambil tas ransel milik Wine.
__ADS_1
“ Minggu depan udah mau ujian. Gue ngga mau ngga lulus terus kerantai di sekolah ini satu tahun lagi.”
Ocha mengangguk. Anya yang masih sesenggukan kini membantunya berjalan menuju kelas.
Enak betul memang menjadi orang sakit, Ocha dan Anya yang memiliki tingkat kepedulian yang sangat minim ini berubah dalam sekejap.
“ Masih di rumah ibu?”
“ Masih. Terimakasih “ Wine duduk setelah Ocha menarik kursinya sedikit menjauhi meja.
“ Kalau lo masih belum bisa jalan sampai ujian selesai, lo ngga bisa ikut study tour dong Win?” tanya Anya yang mulai bisa meredakan tangisnya.
Wine mengangguk. Dirinya jelas akan memilih untuk tidak ikut acara itu ketimbang membuat kedua temannya ini kerepotan karena harus melimpahnya kesana kemari.
“ Ngga. Tapi ngga papa sih, toh gue pasti bakal punya kegiatan lainnya”
“ Tumben banget lo. Biasanya paling sedih kalau ngga bisa ikut acara sekolah yang berbau jalan-jalan” Ocha dengan radar keponya mulai beraksi. “ Kegiatan sama siapa lo?” tanyanya lagi.
“ Bang Arka”
Anya mengerutkan dahinya “ Bang Arka? Tentara yang jemput kita di kantor polisi itu?”
Wine mengangguk. Ocha yang sebelumnya berdiri langsung menarik kursi dan duduk tepat disamping Wine.
“Ada apa lo sama tuh tentara?”
“ Gue pacaran sama dia”
Setelah kalimat itu terlontar. Anya yang sebelumnya duduk tenang langsung berubah layaknya orang yang kerasukan, heboh sendiri yang membuat beberapa siswa yang berada dikelas ini melirik penasaran. Secepat kilat Wine menarik Anya agar kembali duduk. Jika ada yang tahu Wine pacaran dengan mas-mas, sekolah ini pasti akan heboh untuk kedua kalinya.
“ Serius lo?” Anya mengerjapkan matanya berulang kali.
“ Serius lah. Emang gua keliatan bercanda sekarang?”
“Ngga sih” Anya menggelengkan kepalanya.
Ocha yang sebelumnya terlihat penasaran hanya menganggukkan kepala seolah ini bukanlah kabar yang mengejutkan. Sahabatnya ini mungkin sudah menebak ada yang tidak beres antara Wine dan bang Arka.
“ Ko lo ngga kaget Cha?” tanya Wine.
“ Kalo lo ngga pacaran sama bang Arka, gue mungkin bakal kaget”
“ Maksudnya?”
Ocha mengembalikan kursi yang ia duduki, kemudian duduk dikursinya sendiri yang memang berada tepat didepan Wine “ Ngeliat lo yang masih idup sekarang padahal sampai nekat ke arena balap. Itu berarti ada yang aneh. Dan jawaban mbak Alin kemungkinan lo lagi suka sama orang”
Wine langsung menjitak kepala Ocha dari belakang “ Yak! lo jadi ikut-ikutan sama mbak Alin, mas Akhtar ngomongin keanehan gue ngga mati?!”
Ocha tak membalas jitakan Wine, hanya mengangguk kemudian mengeluarkan buku matematika dan mulai mengerjakan soalnya.
Emang ngga ada akhlaknya mereka bertiga. Nyumpahin gue mati. orang yang ngga punya akhlak itu, emang temenan sama orang yang ngga punya akhlak juga.
__ADS_1
Bekasi
5 Desember 2021