Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
bab 28: Basa-basi


__ADS_3

Selama film diputar, Wine sama sekali tidak bisa fokus kelayar didepan sana. Setiap kali dirinya melirik kearah Arka yang ternyata duduk dibarisan yang sama, maka Wine akan menemukan pria itu tengah menatapnya seakan dirinya adalah putaran film yang tak boleh dilewatkan.


Setelah bertemu di depan tadi. Tak ada yang banyak bicara, Wine hanya menyapa Arka seadanya, begitu pula dengan Arka.


Seperti dirinya yang datang bersama Anya dan Ocha, Arka juga tidak datang sendiri. Pria itu datang dengan seorang wanita berambut panjang yang sepertinya seumuran dengan Arka. Dan Wine mendapati jika wanita itu juga sesekali meliriknya tak suka.


Wine yang duduk gusar langsung mendapat tendangan dari arah kursi belakangnya. Ocha yang menyadari keanehannya juga nampak bingung dan berbisik menanyakan ada apa dengan dirinya sekarang.


1 tahun. Wine pikir waktu yang sangat cukup baginya untuk melupakan Arka, namun nyatanya pertemuan mereka didepan tadi membuat jantung Wine berdetak tak karuan. Apalagi Arka sama sekali tak melepaskan dirinya dari pandangan pria itu.


Dari pada terus menganggung orang yang duduk dibelakangnya. Wine memilih untuk mengendap-endap keluar dari bioskop, meninggalkan Ocha dan Anya yang belum menyadari adanya Arka didalam gedung itu menatapnya bingung.


“Mau kemana?” bisik Ocha sambil menahan tangan Wine yang hendak berdiri.


“Ke toilet sebentar. Gue nunggu didepan ya. nikmatin aja filmnya” jawab Wine kemudian kembali berjalan menuju pintu keluar.


Berada di dalam sana hanya akan membuatnya berkeringat dingin. Setelah berada diluar, Wine langsung menuju ke toilet terdekat, membasuh mukanya mungkin akan membuat dirinya jauh lebih baik.


Kenapa setelah jauh-jauh merantau ke Jakarta dirinya malah bertemu kembali dengan pria itu?.


Scenario seperti apa yang sebenarnya tengah Tuhan rencanakan untuk dirinya?.


Wine menyalakan keran air dan mulai membasuh mukanya. Kenangan dengan Arka dulu seakan perlahan mulai muncul kepermukaan, dari mulai mereka bertemu hingga mereka memutuskan untuk berpisah, lebih tepatnya Wine yang memilih untuk menjauh. Semuanya memutar di ingatannya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Arka datang dengan wanita. Itu berarti kemungkinan besar mereka sedang berkencan karena wanita itu melingkarkan tangannya ditangan Arka, dan itu juga berarti Arka sudah berhasil move on darinya. Lalu kenapa jantungnya masih berdetak kencang setelah melihat semua itu?. menyedihkan sekali dirinya ini.


Sebelum keluar dari toilet, Wine memperbaiki terlebih dahulu make up nya yang sudah luntur barusan. Setelah ini Wine dengan kedua temannya akan mengunjungi tempat wisata lain, dan itu berarti sekacau apapun dirinya, Wine harus tetap tampil menawan seperti biasanya.


Wine berjalan keluar setelah merasa penampilannya jauh lebih baik. kembali memesan minuman kemudian lebih memilih untuk duduk diluar menunggu Ocha dan Anya menyelesaikan film yang mereka tonton.


“Gimana kabarmu dek?”


Kepala Wine sontak menoleh kesumber suara. Disana ada Arka yang berjalan mendekatinya dari arah toilet. Pria itu juga ikut keluar ternyata?.


“Alhamdulillah baik bang. Kenapa tanya lagi? kana bang udah tanya tadi”


Saat Arka malah mengambil posisi duduk didekatnya, Wine sontak menggeser tubuhnya agar ada jarak diantara mereka. kejadian tahun lalu cukup sudah, Wine tak ingin mengulanginya lagi.


“Bukan fisik kamu. Tapi hati kamu”


Wine membeo seketika. Tak pernah menyangka jika Arka akan mengajukan pertanyaan itu dipertemuan mereka pertama kali setelah putus tahun lalu.

__ADS_1


Apa Arka berniat untuk meledeknya atau menertawakannya setelah tahu kondisi dirinya yang sama sekali tidak baik sejak putus?


Kenapa menanyakan hal itu ketika dia bahkan datang ke bioskop dengan seorang wanita?


Apa pedulinya dengan kondisi hati Wine sebenarnya?.


Ah, atau mungkin dia ingin pamer jika dia berhasil move on sedangkan Wine tidak?.


Sebaik mungkin Wine menarik senyumnya paksa “ Aku ngga ngerti apa yang abang maksud. Hati aku sehat, kemarin sempat cek kesehatan sebelum masuk kuliah” jawab Wine berpura-pura tak tahu apa yang Arka maksud. Ya, lebih baik seperti itu dari pada terlihat menyedihkan.


“ Hati abang setelah hari itu sama sekali ngga pernah membaik”


Raut wajah Wine yang sebelumnya tersenyum datar seketika. Tidak tahu bagaimana dirinya harus berekspresi sekarang.


Entah ucapan itu jujur atau sebuah kebohongan, Wine tidak tahu sama sekali.


Jika kondisi Arka sama sepertinya, bukankah seharusnya dia tidak datang ke bioskop dengan wanita dan hanya berdua? Jika memang kondisi mereka sama, Arka seharusnya datang dengan sendiri atau mungkin dengan teman sesama jenis seperti Wine.


“ Abang ngga pengin masuk lagi? masih ada durasi ½ jam, lumayan bang” mengubah topik pembicaraan adalah cara jitu untuk merubah atmosfir mengerikan diantara mereka.


“ Kamunya diluar, apa lagi yang bisa abang tonton didalam?”


“Kamu sendiri kenapa diluar?”


Risih soalnya, situ ngeliatin mulu.


“Bukan genre film yang saya suka bang soalnya”


Arka tertawa. Tawa yang nyatanya detik ini pula memberikan efek yang luar biasa pada tubuh Wine. Wine bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Arka yang tertawa.


“Bener. Kamu lebih suka action dari pada romance”


Saat Arka balik menatapnya, Wine langsung mengalihkan tatapannya kearah lain. Asalkan tak bertemu pandang dengan tatapan yang selama ini begitu ia rindukan.


“ Abang lagi liburan di Jakarta?” tanya Wine balik. Sedikit takjub sebenarnya, karena setelah apa yang terjadi, mereka bisa saling bicara santai seperti ini.


“Abang dimutasi ke Halim Perdana Kusuma. Jadi sekarang tinggal di Jakarta”


Wine mengangguk paham. Mbak Alin pernah cerita padanya dulu mengenai Arka yang kini menetap di Jakarta. Namun Jakarta itu luas, Wine tak pernah berpikir jika mereka akan kembali dipertemukan di ibu kota Negara ini.


Sejenak tak ada pembicaraan diantara mereka. Wine yang berpura-pura fokus memainkan ponselnya jelas tahu jika Arka tak mengalihkan pandangan dari dirinya sama sekali. Seolah Wine adalah pemandangan indah yang tak boleh dilewatkan sama sekali.

__ADS_1


“Gimana kuliah kamu?”


Setelah 1 menit diam, Arka kembali mengajukan pertanyaan. Membuat Wine mau tak mau menoleh kearah Arka dan bali menatapnya sebentar “ Lancar bang. Ya meski sedikit pusing karena banyak yang harus dipelajari”


“Ngekost disini apa di apartemen?” Arka kembali mengajukan pertanyaan.


“Kost”


“Abang tinggal di apartemen. Kamu bisa main dan nginap kalau mau”


Wine melotot seketika. 1 tahun sepertinya sudah merubah sifat Arka seutuhnya. Kemana perginya Arka yang punya sikap dingin dan malu-malu yang ia kenal?.


Wine tersentak saat Arka tiba-tiba mencolek hidungnya.


“Jangan mikir macem-macem dek. Kadang Abang jarang pulang, makanya apartemen kosong. Kamu bisa nginep disana kalau ngga ada abang”


“E..emang apa yang Wine pikirin? Wine ngga mikir apa-apa ko bang” jawab Wine gelagapan. Sungguh malu karena Arka nyatanya masih mampu membaca pikirannya.


“Mana abang tahu. Yang jelas Wine yang Abang kenal itu memang kadang-kadang punya pikiran yang aneh-aneh”


“Itukan waktu SMA. Sekarang udah mahasiswi, udah beda dong”


Arka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Seolah mengalah saja pada Wine dan berpura-pura setuju dengan apa yang Wine katakan.


“Serius bang” sulut Wine.


“Iya, abang kamu serius yakin”


“Jangan terpaksa gitu dong”


Arka tertawa “Siapa yang terpaksa sih dek. Abang yakin Wine mah pasti udah berubah. Kali aja hatinya yang dulu nolak abang juga udah berubah”


Beuh.. pinter juga cari kesempatan dalam kesempitan.


“Mas”


Ucapan seseorang dari arah belakang membuat Wine dan Arka menoleh seketika. Di belakang mereka, wanita yang Wine lihat tadi sudah berdiri dengan memasang ekspresi tak suka padanya. Bukan hanya wanita itu, Ocha dan Anya juga berdiri disamping wanita itu dengan ekspresi tak percaya melihat Arka ada disini.


Bekasi


23 Desember 2021

__ADS_1


__ADS_2