Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 22 : Wine Pulang.


__ADS_3

Cerita ini bakal tamat dalam waktu dekat ya. Masalah yang di singgung kemarin nggak jadi, wkwkw (suka-suka eke banget ya) nggak berani soalnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 bulan setelah apa yang Wine janjikan pada Baba untuk pulang kini sebentar lagi akan terlaksana. Kebetulan Wine dan Arka mendapatkan libur ditanggal yang sama, maka dari itu keduanya sepakat untuk mengunjungi ayah.


Masalah mengenai di skadron yang pernah Arka katakan nyatanya tak separah dan berhasil di selesaikan dalam waktu 1 minggu. Entah Wine tak tahu apa masalahnya, karena saat akan menjelaskan apa yang terjadi menggunakan banyak istilah dalam pesawat, Wine memilih untuk membahas hal lain. Ya hanya masalah mengenai pesawat baru yang nyatanya bekas dari negara lain yang membuat Arka murka karena biaya perawatan pesawat akan semakin mahal.


Memasukan semua keperluan kedalam tas, Wine melirik kearah kedua anaknya yang kini tengah duduk didepannya dengan dahi berkerut.


"Kita mau ke akung baba ya bun?" tanya Aaras.


Wine mengangguk.


"Akung Baba itu yang punya banyak mainan pesawat ya bun?" lanjut Arsya dengan mata berbinar karena bisa bebas memainkan miniatur pesawat di rumah kakeknya.


Wine kembali mengangguk. Ada sedikit perbedaan dengan reaksi kembar saat akan ke rumah ibu dan ke rumah baba. Jika ke rumah ibu yang sudah beberapa kali mereka kunjungi, Arsya dan Aaras akan tersenyum lebar sambil menunggu didalam mobil meski Wine masih mengemas barang-barang, sedangkan sekarang saat untuk ke dua kalinya Wine akan mengajak kembar ke rumah baba sejak mereka lahir, membuat Aaras dan Arsya sedikit bingung dengan sosok yang akan mereka datangi. Ya, sejak Ada kembar, Wine baru 2 kali ini pulang ke rumah baba. Pertama saat kembar masih berumur 5 bulan, dan kedua adalah sekarang saat kembar sudah berumur 3 tahun.


"Iya. Arsya seneng nggak?"


tak mengangguk dan tidak juga menggeleng, Arsya malah mengedikkan bahunya. Bocah laki-laki ini pasti bingung karena dibuatnya.


"Kalau abang? seneng nggak?" pertanyaan Wine kali ini tertuju pada Aaras.


" Di sana ada Ilham sama Aelin bun? ada nenek juga?"


"Nggak ada, karena kita mau ke rumah akung-baba, bukan ke rumah nenek yang ada Ilham sana Aerin"


"Abang pelna ke lumah akung-baba bun?"


Wine menutup tas besarnya. perlengkapan baju anak-anak dan mas Arka untuk 3 hari ke depan sudah masuk kedalam tas semua"Pernah. Tapi dulu sekali, waktu abang sama dek masih bayi. Tapi adek sama abang ingetkan muka akung-baba? kan kadang akung telfon"

__ADS_1


Arsya dan Aaras mengangguk mengiyakan.


"Udah siap semua? ayo keburu macet" Arka yang baru saja menyalakan mobil, muncul dari balik pintu kamar. Suaminya ini mengambil tas barang mereka kemudian kembali turun ke lantai 1 sambil menggandeng Aaras. Wine ikut menyusul dengan Arsya yang ia gandeng.


Begitu semua barang masuk ke dalam mobil, Arka melirik sebentar ke arah Wine dengan senyuman tipis.


"Jangan senyam senyum. Kesambet nanti. Udah buru jalan" Ucap Wine.


Arka mengangguk. Untuk pertama kalinya mereka akan pulang ke rumah komandannya dulu dengan Wine yang mengajak duluan. Biasanya mau sesusah apapun Arka mengajak untuk mengunjungi baba, Wine akan menolak dengan berbagai alasan. Orang tua istrinya ini hanya tinggal 1, maka Arka tak ingin Wine kehilangan babanya dalam kondisi yang belum membaik.


"Tumben ngajakin duluan dek" tanya Arka lagi begitu mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki jalan raya.


"Nggak usah pake ditanya segala. Nanti adek berubah pikiran nih bang. Bukan balik ke rumah baba, kita malah bisa nyasar sampai Jogja nih"


Arka tertawa " Kayanya calon anak ayah membawa keberkahan untuk hubungan ibunya sama babanya"


Wine tak menjawab, pandangannya kini menetap ke luar jendela melihat apa saja yang bisa ia lihat sepanjang jalan. Meski dirinya yang berniat untuk mendatangi sang ayah dengan sangat yakin, nyatanya keraguan kini menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit. Meski sudah bertahun-tahun lamanya, Wine masih saja takut untuk menemui sang ayah. Lagi dan lagi kejadian dulu kala adalah penyebab dari rasa takutnya.


Wine mengangguk. Mengetahui jika kedua putranya saja tak begitu mengenal sosok baba, sudah menunjukkan seegois apa sikap Wine selama ini. Untuk anak ke tiganya yang mungkin bisa saja berjenis kelamin perempuan seperti yang diharapkan Arka, Wine tak mau hati bayi yang begitu bersih harus terkena noda hitam dari ibunya sendiri. " Berarti aku keren kan mas sekarang?"


Arka tertawa. " Iya udah. dari dulu kamu mah emang udah keren"


Wine ikut tertawa. Apa yang di ucapkan Arka sebelumnya memang ada benarnya.


**


Rumah berlantai 2 yang menyimpan banyak kenangan buruk bagi Wine kini berdiri kokoh didepannya. Baba sepertinya kembali mengecat tembok rumah dengan warna yang sama. Rumah yang Wine tinggalkan semenjak kuliah dalam kondisi cat yang berwana kusam kini terlihat layaknya rumah baru.


Begitu memasuki halaman, bab terlihat duduk di gazebo yang berada di atas kolam ikan, bermain catur dengan sosok pria yang bahkan hanya dari caranya duduk membuat Arka tersenyum lebar. Bang Jaka juga ada di sini sekarang.


"Bang Jaka ya mas?"

__ADS_1


"Iya. tadi mas ngasih kabar ke dia kalau mau ke rumah komandan".


Begitu mobil terparkir sempurna, Wine keluar dari mobil setelah Arka membukakan pintu dan mengangguk seakan tengah memberikan kekuatan kepada istrinya ini. Di gendongannya ada Arsya yang tertidur pulas sedangkan Aaras sudah berlari menuju gazebo saat melihat kolam yang berisi ikan mas. Selain musik, Aaras sangat tertarik dengan hewan yang jika digoreng kering rasanya akan sangat lezat itu.


" Widih.. Aura Kasih dateng nih. eh bukan, Maudy Ayunda. Eh bukan juga, ternyata Wine yang dateng ya" sapa bang Jaka.


Seharusnya dalam posisi seperti ini Wine seharusnya tertawa mendengar ucapan Jaka, Tapi nyatanya Wine hany tersenyum tipis kemudian kembali memasang wajah datar. Pandangan Wine kini tertuju ke arah pria yang hampir seluruh rambutnya berwarna putih namun masih memiliki badan tegap.


"Baba" Arka mencium tangan baba. Suaminya ini mencolek Wine agar mengikuti apa yang baru saja dilakukan Arak.


"Sehat ba?" tanya Wine sambil mencium tangan ayahnya.


"Alhamdulillah sehat. Masuk dulu yuk, taruh Arsya di kamar kamu"


Wine mengangguk. Arka yang berniat untuk mengambil Arsya dalam gendong Wine mengalah saat istrinya ini menggelengkan kepala.


"Aku aja mas, kamu ngobrol sama baba aja disini ya, tolong liatin Aaras juga takut nyemplung dan berenang sama ikan" Ucap Wine kemudian langsung melenggang masuk ke dalam rumah.


Bagian dalam rumah tak ada yang berbeda, foto keluarga masih terpajang begitu besar di dinding yang membuat siapa saja yang masuk ke rumah ini langsung bisa melihatnya. Di ruang tamu masih ada lemari berisi banyak piala olimpiade matematika yang Wine menangkan saat SD dan SMP, lemari yang juga menjadi saksi bisu dari tamparan baba yang berakhir membuat Wine nyaris mati di area balap saat SMA.


Ketika masuk ke dalam kamar Wine yang memang terletak di lantai 1, semua barang yang ia tinggal masih berada di tempatnya masing-masing. Wine meletakan Arsya pelan di kasur kemudian menatap foto keluarga yang juga dipajang di kamarnya.


"Hai mah. Wine pulang" ucap Wine pelan.


"Hai mah. Arka juga pulang"


Wine menoleh ke sumber suara. Suaminya itu yang sebelumnya berdiri diambang pintu kini berjalan mendekati Wine dan memeluk istrinya dari belakang.


"Kamu hebat dek" ucap Arka.


**

__ADS_1


yey tinggal beberapa bab lagi ya. Berhubung di season 1 hubungan Wine sama Babanya masih buruk, jadi di season 2 ini akan ditutup dengan hubungan Wine sama babanya.


__ADS_2