
Bukan pertama kalinya memang dirinya terbangun dengan posisi Arka yang sudah tidak ada dikamar, biasanya pria itu sudah pergi kerja pagi-pagi jika Wine mendapat shift malam. Seperti sekarang Wine terbangun pukul 07.00 dengan posisi suaminya dan kedua anak kembarnya yang sudah tidak ada didalam kamar. Dari lantai bawah juga tidak ada suara drum yang terdengar membuat Wine langsung bangun begitu saja. Lebih baik ada suara ribut ke dua putranya, jika sunyi sepi seperti ini, Wine malah dibuat ketar-ketir karena biasanya ada saja ulah yang kedua anak itu lakukan.
Begitu keluar dari kamar, Wine berpapasan dengan bunda yang keluar dari ruang kerja Arka. Wanita itu tersenyum ramah kemudian memeluk Wine hangat.
“Bunda seneng mau dapat cucu baru lagi. pasti kamu banyak banget pikiran kemarin ya sampai lupa ngasih tahu bunda?. padahal bunda ada didepan kamu”
Wine membalas pelukkan hangat bunda, sedikit merasa bersalah karena tak memberitahu sejak awal “Maaf ya bun. Pikiran aku kacau banget kemarin”
“Iya bunda tahu. Ya udah, sarapan dulu gih, bunda mau ke kamar dulu sebentar”
Wine mengangguk. Begitu bunda masuk ke kamar, Wine menuju ruang kerja Arka guna melihat apa yang sedang dilakukan kedua bocah itu di dalam hingga tak menimbulkan suara apapun.
Begitu pintu terbuka, Wine melihat Arka yang langsung menutup laptopnya dan tersenyum kearahnya. Dilantai Arsya dan Aaras asik mewarnai gambar macam-macam hewan souvernir dari acara kemarin.
“Pantes anteng.” Ucap Wine sambil masuk ke ruang kerja Arka.
“Udah makan?” tanya Arka lembut. Pria itu sudah menggunakan seragam kerja bersiap untuk pergi ke skadron.
“Belum, nggak terlalu laper, malah mual sekarang” jawab Wine jujur. Sejak pukul 3 dini hari dirinya sudah mual dan baru berhenti menjelang adzan subuh.
“Tapi harus tetep makan ya dek”
Wine mendekat kearah Arka dan berdiri tepat didepan pria itu “Siap komandan” jawabnya sambil memberi hormat. Arsya yang melihatnya juga langsung berdiri dan mengikuti gerakan Wine. Sepertinya kelak Arsya benar-benar akan mengikuti jejak ayahnya.
"Udah mau berangkat?" tanya Wine, ia merapihkan seragam yang dikenakan suaminya. Lali beralih ke rambut suaminya yang kini disisir ke belakang. "Silau men" Canda Wine sekaligus mengejek dahi lebar suaminya ini.
Arak tertawa, ia mencium dahi Wine sebentar kemudian beralih kepada ke dua putranya. " Baik-baik ya di rumah. Nanti malam pas bunda kerja ada ayah di rumah"
Arsya dan Aaras mengangguk bersamaan. Keduanya mencium punggung tangan Arka bergantian lalu kembali berbaring di atas karpet melanjutkan aktifitas mewarnai mereka.
Wine mengekor Arka yang berjalan ke luar dari rumah. Ekspresi Arka sejak kembali dari skadron kemarin memang terlihat sedikit berbeda. Seperti kembali ada masalah di sana.
"Mas kamu nggak apa-apa kan?" tanya Wine akhirnya.
Arka yang tengah menggunakan sepatu, tersenyum tipis " Ketahuan ya dek"
"Banget. Ada masalah ya mas? kapt Ayub baik-baik aja kan?"
"Kapt. Ayub baik. Masalah? ada. Cuman sekarang mas mau pastiin dulu baru cerita sama kamu ya dek"
__ADS_1
Wine mengangguk. Mencoba untuk percaya pada suaminya ini " Hati-hati ya mas. Kalau ada masalah bagi sama adek ya. Kita cari solusinya bareng-bareng"
Arka mengangguk. Sekali lagi mencium kening Wine sambil mengelus perut istrinya sebelum akhirnya mengucapkan salam dan keluar dari rumah.
Tepat setelah Arka keluar, Ocha dan Anya tiba-tiba langsung menerobos masuk ke rumah. Wine melipat ke dua tangannya di depan dada " Kado, kado, oh kado. 1 jutaaa" ucap Wine lengkap dengan nadanya.
"Berisik. Belum ada toko yang buka jam segini" Ocha langsung menarik tangan Wine agar duduk di sofa ruang tamu.
"Nyantai aja Win. Anggap rumah sendiri" lanjut Anya.
"Gelo. emang rumah gue" Wine menggelengkan kepalanya. Itu adalah kalimat yang dulu sering kali dirinya ucapkan saat masuk ke rumah salah satu sahabatnya ini.
Ocha yang duduk di samping Wine langsung mengelus perut Wine " Lo beneran hamil Win?"
"Nggak mau jawab. Kado 1 juta dulu"
"Pe'a!" Ocha langsung memukul kepala Wine dengan bantalan sofa. Aaras dan Arsya tidak ada. Mereka bisa berbuat bar-bar sekarang.
Melihat Ocha yang sudah kesal, Wine tertawa terbahak-bahak tak peduli sama sekali dengan tatapan maut ke dua sahabatnya ini.
"Iya. Gue hamil" Ucap Wine setelah lelah tertawa.
Anya langsung pindah duduk disebelah Wine" Seriusan?"
"Anak siapa?" tanya Anya.
Tak menjawab, Wine hanya langsung melempar bantal dan mengenai wajah Anya. Wanita itu kini balik tertawa terbahak-bahak.
"Nggak ada akhlaknya emang ini bocah. Jangan begitu, aset daycare ini, lumayan kalau masukin murid baru gue dapet tip" ucap Ocha.
Wine melongo mendengar ucapan Ocha. Wine juga memukul Ocha dengan bantalan sofa yang membuat wanita ini kembali tertawa.
Asem. Pada balas dendam kayanya nih!.
"Pada balik gih. Kerja" Wine menunjuk jam yang menempel di dinding. Jam menunjukkan pukul 07.15. Seharusnya ke dua temannya ini sudah sibuk berangkat kerja.
Ocha menggeleng " Gue izin berangkat siang"
"Gue masih cuti melahirkan" jawab Anya.
__ADS_1
Wine menggelengkan kepalanya. Jika seperti ini dirinya hanya perlu sabar saja menghadapi kedua orang ini.
"Ngomong-ngomong baba udah tahu Win?"
Pertanyaan Ocha barusan sontak membuat ekspresi Wine berubah seketika. Semalam dia juga ingat dengan ayahnya, namun Wine belum mengirim pesan apapun pada pria yang 4 bulan lalu baru saja memutuskan untuk pensiun dini. Wine terkadang menghubungi ayahnya hanya sekedar agar Aaras dan Arsya mengenal sosok Baba sebagai kakek mereka. Namun dibanding dengan menelfon baba, Wine lebih sering menghubungi ibu dan ayah atau kalau tidak menelfon bunda.
"Belum ngasih kabar ya lo?" tebak Ocha.
"Harus ya?"
"Mau gue pukul beneran ini orang. Mau gimana pun kakek dari anak lo masih berhak tahu"
Wine mengangguk. Merogoh ponselnya kemudian mengetikan pesan kepada babanya. Hanya dengan mengirim satu gambar, ceklis dua berubah menjadi warna biru. Satu pesan masuk kedalam ponsel Wine.
Baba :
Selamat ya Win. Alhamdulillah, semoga kamu, Arka dan anak-anak di lindungi oleh Allah selalu. Doa yang terbaik dari baba buat kamu.
Wine :
Terimakasih ba. Terus sehat agar bisa lihat cucu barunya ya ba.
Ocha menepuk bangga punggung Wine. Setidaknya hubungan Wine dan ayahnya sedikit membaik sejak Wine menikah dan memiliki anak.
Suara drum yang terdengar menandakan anak-anak sudah turun dan bermain di ruang bermain. Ocha dan Anya langsung berjalan menuju Ruang bermain anak-anak meninggalkan Wine yang kini masih tetap di ruang tamu.
Wine menyalakan kamera ponselnya dan merekam dirinya sendiri.
"Hai Baba. Aduh Wine jelek banget karena belum mandi " Wine tertawa sendiri "Wine nggak bakal bisa bicara kalau nelfon baba. makanya—" Wine menarik napasnya dalam, baru kali ini ia berniat mengirimkan rekamannya untuk sang ayah "Makanya Wine kirim video aja ya ba. Sehat terus ya ba, nanti kalau Wine dan mas Arka libur Wine bakal pulang. Baba pasti kecewa karena kemarin Wine sempet pulang ke rumah ibu tapi malah nggak pulang kan bu?. Karena jika Wine pulang dengan beban sebanyak itu, Wine malah takut bakal inget kejadian dulu. Wine, Arka sama anak-anak sehat ba. Jadi baba harus sehat juga ya"
Setelah merekam dirinya sendiri, Wine mengirim video nya ke baba. Ceklis yang sebelumnya abu-abu langsung berubah menjadi biru. 1 menit setelahnya satu stiker jempol dikirim baba. Wine tersenyum melihatnya. Meski hanya mengirim setiker jempol, Wine tahu babanya pasti tersentuh dengan video yang Wine kirim barusan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pengin aku tamatin, tapi ada 1 masalah lagi yang pengin aku angkat. Jadi masih berlanjut aja deh..
Wkwkw lagi coba pengin ikut event.
Ayo tinggalkan jejak kalian ya. Soalnya aku tuh nggak bisa kalau bikin cerita sampe berpuluh-puluh episode apalagi 100 buat cerita tema romance begini. Susah uy.
__ADS_1
Kalau temanya kerajaan mungkin bisa. Karena pasti ujungnya balas dendam.
wkwkw udah ah curcol mulu aku 🤭