
2 semester yang Wine pikir akan berakhir dengan penuh drama akhirnya berakhir juga. Selama satu tahun lebih Wine nyatanya masih terus berusaha untuk baik dengan posisi Arka yang tidak ada disisinya. Mungkin memilih untuk merantau ke Jakarta dan tinggal di kost khusus wanita membuat Wine bisa perlahan melupakan pria itu.
Dengan sebuah senyuman karena kembali mendapat IPK memuaskan. Wine bersenandung riang di lorong kampus.
Tujuannya kali ini jelas fakultas MIPA yang berada dibelakang fakultas kedokteran. Anya tadi mengabari jika dirinya sudah berada disana, Ocha juga sudah selesai dengan semua urusannya, hanya tinggal menunggu Wine untuk bergabung dengan mereka, kemudian pergi ke bioskop untuk menonton film yang tengah di puja oleh generasi muda mudi tahun ini.
“Stop. Boleh tanya sesuatu?”
Wine melihat pria yang menghadang langkahnya dari atas hingga bawah. Siapa lagi jika bukan Ainan, kakak seniornya yang sangat tampan yang dielu-elukan oleh semua mahasiswi di fakultas kedokteran ini kecuali Wine seorang. Jika dilihat dari penampilannya, bang Arka bahkan jauh lebih tampan dari pria ini.
“Nanya apa?” Wine memasang wajah datar dengan tangan yang dilipat didepan dada. tak peduli sama sekali dengan belasan pasang mata yang menatap kearah mereka berdua.
“Apa agenda lo hari ini?”
“Gue ngga mau jawab dan lo ngga perlu tahu”
tak perlu repot-repot menyingkirkan tangan Ainan yang membentang didepannya. Wine lebih memilih menunduk dan menerobos dibawah tangan kanan Ainan.
Namun bukan Ainan jika pria menyerah begitu saja. Di Fakultas ini, percayalah cuman Wine yang berani memanggilnya dengan sebutan ‘lo’ alih-alih ‘kakak’.
“Kalau hari Minggu?”
Ainan kembali menghadang Wine, yang membuat Wine meniup poninya sebal. “Gue ulangi. Lo ngga perlu tahu. Ngga penting juga”
“Kata siapa? Penting dong menurut gue. Apa lagi kalau urusannya sama gadis cantik begini kaya lo”
Wine tertawa sarkas. “Lo tahu, gue udah punya pacar” bohongnya. Andalannya selama 2 semester ini bagi siapa saja pria yang berani sekali mengajaknya kencan atau menjalin hubungan “Dia tentara. Kalau dia tahu habis lo ditangan dia”
Kali ini Ainan yang tertawa “ Hello, udah 2 semester Win. Ya kali gue percaya, kalau lo punya pacar pasti setidaknya dia jemput lo sekali”
“Terserah lo aja kalau ngga percaya. Awas gue mau lewat!”
“Ketemu di kafe hari Minggu jam 8. Baru lo boleh lewat”
"Gue nggak bakal dateng " Wine membalikan badannya dan berjalan menuju pintu satunya. Namun Ainan yang keras kepala itu kembali menghadangnya.
“Jam 8 pagi. Ngga boleh lupa. Kalau ngga”
“Apa?”
“Gue bakal sebarin siapa bapak lo dan apa yang udah bapak lo lakuin 8 tahun yang lalu” bisiknya kemudian berlalu pergi dengan mengerlingkan satu matanya.
Sial memang. Entah dari mana Ainan bisa mendapatkan info itu. laki-laki itu selalu saja menjadikannya senjata untuk memaksa Wine melakukan apapun yang pria itu inginkan.
__ADS_1
Jika saja Wine tak memikirkan ayahnya yang mungkin akan direndahkan oleh anak buahnya jika hal itu tersebar. Wine pasti sudah menolak mentah-mentah, tak peduli apa yang akan Ainan lakukan dengan hal itu.
Dengan raut wajah sebal, Wine keluar dari gedung fakultas yang nyatanya sudah ada Ocha dan Anya didepan sana. Wajah mereka berdua tak kalah kesalnya karena menunggu Wine terlalu lama.
“Lama banget sih sinden! Ngapain aja lo?” Cecar Ocha begitu Wine berada dihadapan mereka.
“Habis diperas gue sama setan”
“Jadi bener. Gedung lo ada setannya ya?” Anya yang entah dari mana selalu mendapat cerita-cerita horor itu merangkul tangannya erat sambil menatap ngeri gedung fakultas kedokteran.
“Banyak. Dan sekarang setannya mau makan lo. Aukkk”
Anya langsung berlari kencang menjauhi mereka, membuat Wine dengan tingkat kejahilannya berlari mengejar Anya yang berteriak ketakutan. Sedangkan Ocha hanya berjalan santai dibelakang mereka lengkap dengan ekspresi datar dan gelengan kepala. Khas Ocha yang kita tahu selama ini.
***
“Serius? Dia jadiin itu buat ngancem lo?”
Setelah mereka sampai di bioskop, Wine menceritakan semuanya mengenai ucapan Ainan barusan. Dan Ocha yang terkenal dengan pemarahnya itu meremas nota pembeli tiket erat.
“Kalau lo bilang dari tadi. Gue botakin palanya itu”
Wine tertawa, ia mengangguk setuju “Sekali dua kali ngga masalah. Tapi kalau sampai 3 kali, gue botakin juga kepalanya. Kalau ngga gue bikin dia ngulang disalah satu matkul”
“Nanti gue sikat dulu mulutnya sebelum di botakin” Anya juga ikut tersulut emosi.
“Pakai sikat yang buat nyikatin kaki kuda. Ngga usah gue cuci dulu”
Wine kembali tertawa. Masih ada sekitar 20 menit sebelum film diputar. Wine, Ocha dan Anya lebih memilih untuk duduk diluar sambil menikmati popcorn yang nyatanya sudah hampir habis setengah.
“Beuh.. kalau Ergan tahu sifat lo macam begini An. Gue yakin dia bakal mutusin lo” Ocha kembali bicara.
Ocha juga mendapat IPK yang lebih baik dari semester sebelumnya, nyaris sempurna malah. Hal itu yang membuat gadis ini terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Ocha lebih banyak bicara tepat setelah mereka sampai di gedung bioskop. Bukan cuman IPK yang bagus, film yang akan mereka tonton juga akan menampilkan aktor kesukaan Ocha sebagai pemeran utama. Bahagia sekali harinya ini.
“Ngga dong. Dia bakal semakin jatuh cinta sama gue”
“Ya kan lo sama dia 11 12” timpal Wine.
Perihal mencari pacar seperti yang Anya sudah niatkan sejak sehari sebelum ujian masuk Univ dulu, Anya benar-benar mencari pacar tepat setelah semester pertema berakhir.
“Ngomong-ngomong gue denger ada yang naksir Ocha loh”
Perhatian-perhatian, gossip Anya akan dimulai.
__ADS_1
Wine langsung duduk mendekat, tidak peduli dengan raut tak terima Ocha karena namanya dijadikan bahan gossip kali ini. “Siapa, Siapa? Dari fakultas mana?”
“MIPA juga sama. Namanya kalau ngga salah Adit”
“Lo kenal Cha?” tanya Wine langsung ke orang yang menjadi bahas gossip mereka berdua.
“Gue nggak ada hubungan apapun sama dia. Ngga usah nambah-nambahin gossip”
Anya membulatkan matanya “ Jadi lo juga tahu, lo digosipin sama dia?”
Wine bertepuk tangan. takjub dengan Ocha yang biasanya tak terlalu peduli dengan kondisi disekitarnya tahu jika namanya digosipin oleh orang lain. “Tumben lo sadar?”
Ocha mendengus sebal “Ya sadar lah. Gue punya telinga.”
Siapa yang bilang ngga punya telinga?. Wine juga tahu, kedua telinga yang tak diberi anting sama sekali itu masih terpasang di kepala temannya. Meski punya telinga, Ocha biasanya akan berpura-pura tak dengar dan tak tahu jika namanya menjadi bahan gossip.
“Ko lo dengernya gossip gue mulu sih? Gossip Wine ngga pernah lo denger?” tanya Ocha pada Wine.
Anya melambaikan tangannya “Beuh gossip dia mah setiap hari diperbarui”
“Dikira aplikasi diperbarui” Wine tertawa. Begitu pula dengan Ocha dan Anya.
Jangan tanya memang mengenai kabar angin dengan tokoh Wine di seluruh fakultas. Wine yakin seluruh fakultas pasti tahu siapa dirinya sakin banyaknya gossip orang yang tampan ditolak berulang kali oleh Wine.
Wajah cantik itu memang terkadang menguntungkan, tapi juga merugikan.
Tawa mereka berhenti tepat saat pemberitahuan horoskop tempat mereka nonton telah dibuka.
“Udah mau dimulai. Lo pada masuk dulu. Gue mau pesan minuman sama popcorn lagi”
Setelah mendapat anggukan dari Ocha dan Anya, Wine kembali ke meja kasir dan berniat untuk memesan kembali, namun baru beberapa langkah, dirinya tak sengaja menabrak orang lain hingga membuat popcorn miliknya yang sisa sedikit jatuh dan berhamburan kemana-kemana.
“Maaf ngga sengaja” Wine membungkuk beberapa kali, kemudian berganti menjadi jongkok dan mulai membersihkan beberapa popcorn yang berserakan.
“Maaf saya tidak sengaja, bisa permisi sebentar?” ucap Wine sambil berharap jika manusia didepannya ini akan menyingkir sejenak agar Wine bisa lebih leluasa untuk mengambil beberapa popcorn yang berada diantara sela kaki yang menggunakan sepatu berwarna hitam ini.
“Wine?”
Merasa namanya dipanggil, Wine mendongakkan kepalanya. Mata membulat seketika saat menyadari pria yang tengah berdiri didepannya ini, pria yang baru saja ditabraknya adalah pria yang sudah lebih dari 1 tahun tak Wine lihat.
Jangan tanya bagaimana jantungnya berdetak saat kembali melihat Arka.
Arka Birgantara Mahersa.
__ADS_1
Bekasi
22 Desember 2021