Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Bab 14: Pengakuan


__ADS_3

“ Abang ngga mau makan?”


Wine bertanya karena sejak tadi yang dilakukan Arka hanyalah menatapnya yang tengah menyantap potongan daging. Tidak mengajukan pertanyaan apapun, hanya diam dan menatapnya seolah takut jika dirinya akan menghilang kapan saja.


“ Abang ngga laper. Kamu aja ya makan. Nikmatin semua yang ingin kamu makan”


“ Nikmatin gimana kalau diliatin mulu” dumel Wine yang jelas terdengar oleh Arka karena dirinya sengaja mengucapkanya dengan suara yang keras. Namun alih-alih membiarkan makan dengan tenang, Arka masih saja menatapnya hingga membuat Wine memilih untuk meletakan pisau dan garpu ditangannya.


“ Kenapa ngga dimakan?”


“ Wine kasih abang 3 kesempatan buat tanya. Jadi tanyakan semuanya sekarang!”


Arka tersenyum. Senyuman pertama yang Wine lihat hari ini.


“ Abang ngga mau tanya apa-apa. Jadi kamu makan saja”


“ Jangan ngeliatin Wine kalau begitu”


Setelah mendapat anggukan dari Arka, Wine mulai menyantap makanan pertamanya ini. pertengkaran dengan baba dirumah sakit dengan topik yang jelas hanya sekitar kenapa Wine melakukannya sedikit menguap saat bersama dengan Arka. Pria yang mengaku tidak lapar itu kini malah terlihat fokus dan sangat lahap memakan segala hal yang telah dipesan.


“ Abang belum makan juga hari ini ya?”


Wine melihat Arka menganggukkan kepalanya.


“ Abang ngga bisa makan hari ini”


“Kenapa? Banyak banget kerjaannya ya?”


“ Banyak. Dan juga mikirin kamu seharian sampai abang lupa buat makan”


Wine mencebikkan mulutnya tak percaya. Mau sekalem apapun pria, semua sama saja sangat pandai untuk membuat wanita jatuh hati.


“ Bang”


“Hmm?”


Wine mengulum senyumnya saat Arka yang biasanya enggan untuk balik menatapnya, kini tengah menatapnya hanya dengan satu kali panggilan saja. Biasanya meski Wine terus bertanya Arka hanya menjawabnya seadanya tanpa menatapnya sama sekali.


“ Abang serius ngga mau tanya apapun sama Wine?”


“Maksud kamu nanya tentang kecelakaan?”


Wine tidak menggeleng juga tidak mengangguk. Matanya menatap iris mata Arka yang entah kenapa malam ini terlihat lebih tenang dari pada biasanya. Pria itu balik menatapnya dengan senyuman yang sungguh bisa membuat siapa saja wanita jatuh hati pada pria ini.


“ Kalau abang mau tanya hal itu Wine siap buat jawab”


Arka meletakan pisau dan garpunya. Menopang dagunya dengan kedua tangan kemudian menganggukkan kepalanya.


“ Apa yang kamu pikirin buat ngelakuin hal itu?”


Mengikuti posisi Arka. Wine juga menopang dagunya dengan kedua tangan “ Abang bilang baba suka sama orang yang memiliki rencana kan? Aku juga tahu. Karena itu rencana Wine adalah hilang dari muka bumi ini. ya.. setidaknya itu bisa membuat baba merasa menyesal seumur hidupnya”


Tak ada bantahan seperti orang-orang biasanya saat Wine mengatakan mengenai tujuan hidupnya. Arka menatapnya tenang, setenang air danau yang tak terjamah oleh tangan-tangan jahil manusia.


“ Saat kamu di arena balap dan satu detik sebelum kamu menabrakkan mobil. Wajah siapa yang terlintas pertama kali?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Abang” Wine menjawabnya dengan jujur.


Bahkan sesaat sebelum pertandingan, Wine juga mengingat semua kenangannya bersama Arka.


“ Kalau mikirin abang, kenapa kamu malah pergi sama pria tadi di rumah sakit?”


Wine tahu siapa pria yang dimaksud oleh Arka. Maka dari itu bukan Wine jika langsung menjawabnya tanpa bersikap menyebalkan terlebih dahulu.


“ Dia lebih ganteng dan lebih muda dari pada abang. Kan keren gitu, kalau keluar dari rumah sakit gandengannya yang bening dan ganteng”


Arka tak menjawab apapun, tatapannya masih setenang sebelumnya hingga membuat Wine sedikit waspada sekarang. Ada apa dengan pria ini sekarang?.


“ Wine bercanda bang. Cuman abang yang paling ganteng kok. Ngga ada yang lain”


Tak ada yang berubah, Arka hanya tersenyum kemudian mengangguk. Ekspresinya masih sama tenangnya.


“ Boleh abang minta kamu berjanji satu hal ke abang?”


Wine mengangguk. Di ‘iyain’ saja agar suasananya tak canggung seperti ini. Wine lama-lama bisa mati duduk kalau terus dipandang dengan tatapan tenang Arka.


“ Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Arena balap bukan tempatmu, apalagi sampai kamu merokok. Jika terjadi sesuatu, datang ke abang seorang.”


“Cuman ke abang? Ngga boleh ke yang lain?”


“ Ya! hanya ke abang”


Satu hal baru lagi yang Wine ketahui. Arka adalah orang yang begitu protective terhadap siapa saja yang pria itu sukai. Dan kali ini Wine menjadi salah satu anggotanya.


“ Bang”


“Hmm?"


Arka menggeleng, kembali mengambil pisau dan garpu dan mulai melanjutkan acara makan yang sempat terhenti tadi.


“ Pernah”


Wine juga kembali melanjutkan acara makan malamnya. Mengobrol sambil makan malam dengan Arka adalah hal yang akan menjadi hobinya mulai malam ini.


“ Kapan?” Tanya Wine lagi.


“ Sekarang”


“Maksudnya?”


“ Sekarang abang lagi pacaran. Sama kamu kan?”


Wine tersedak seketika, cepat-cepat mengambil minum dan meneguknya hingga habis tak tersisa. Kalimat macam apa yang barusan ia dengar?. Wine menggelengkan kepalanya saat Arka kini malah tertawa melihat dirinya yang tersedak tadi.


“ Bercanda abang luar biasa”


“Siapa yang bercanda?. Dengan kamu yang tiba-tiba datang ke skadron padahal sudah pergi sama cowok ganteng dan bening. Itu berarti kamu setuju sama ajakan abang sebelumnya kan?”


Wine menggeleng tegas. Untuk masalah ajakan kemarin, Wine benar-benar akan menolaknya. Untuk saat ini, hubungan diantara mereka sudah cukup. Tidak lebih dari sekarang.


“Big no untuk jadi istri angkatan udara”

__ADS_1


“ Kenapa begitu?”


“ Ngga mau aja. Lagi pula Wine balik lagi ketemu abang itu cuman karena Wine pengin bandingin aja, lebih enakan ngobrol sama abang apa sama mas Akhtar”


Arka meneguk es teh manisnya sekali “ Ah.. Jadi namanya Akhtar, hasilnya lebih nyaman mana?”


“Abang” Wine menjawabnya tegas. Membuat pria yang duduk didepannya ini tersipu malu untuk pertama kali.


***


Setelah acara makan malam gratis tadi. Wine jelas menolak untuk diantar pulang oleh Arka. Dirinya tak ingin pulang, tidak ingin bertemu babanya untuk beberapa hari kedepan. Maka dari itu disinilah mereka berada. Mobil Arka terparkir dihalaman rumah ibu yang notabennya adalah rumah dari Alin anak buahnya sendiri.


Arka menolak untuk keluar, hanya berniat untuk mengantarkan Wine saja tadi sampai gebang namun berakhir hingga mobilnya masuk ke halaman rumah berlantai 2 ini. mau tak mau karena disambut oleh sang tuan rumah, Arka turun dari mobil dan membantu Wine berjalan mendekati wanita yang berdiri dengan wajah sangarnya lengkap dengan sapu yang ada ditangan.


Tepat saat dirinya membantu Wine keluar dari mobil, wanita yang memanggang sapu itu melemparkan sapunya kesembarang arah kemudian langsung memeluk tubuh Wine erat. Bukan hanya wanita yang Wine panggil dengan sebutan ibu, namun pria yang Wine panggil dengan sebutan ayah juga ikut memeluk gadis itu erat.


“ Ya Allah anakku”


Arka kini tahu alasannya kenapa Wine lebih memilih diantara ke rumah ini ketimbang ke rumahnya sendiri. Rumah ini hangat, kasih sayang yang didapat ditempat ini jauh lebih besar ketimbang dirumahnya sendiri.


“ Ya Allah nak, sakit banget pasti kakinya ya?”


Tak ada yang langsung mencerca Wine mengenai alasan kenapa kejadian malam tadi terjadi dirumah ini. semuanya bertanya mengenai keadaan gadis ini sekarang, membantunya berjalan masuk kemudian duduk berkumpul di ruang tamu.


Disana Arka juga melihat Alin— anak buahnya yang kini memandangnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Seakan bertanya ‘apa yang bapak lakukan dengan adik saya?’ hanya dengan tatapannya.


“ Ini siapa Win?”


Arka menoleh saat pertanyaan yang ditunjukan kepada Wine dari ibu Alin. Tersenyum canggung kemudian menyalami tangan kedua tuan rumah ini.


“ Ini namanya Arka bu. Wakilnya baba, atasnya mbak Alin”


“ Malam om, tante” Lanjut Arka. Entah kenapa dirinya kini seolah tengah bertemu dengan orang tua dari pacarnya. Gemetar karena deg degan sekaligus takut karena mata Alin kini menatapnya jahil.


“ Malam nak Arka. Makasih ya sudah anterin Wine ke sini”


“ Makasih juga bu. Karena dia yang nyelametin anak bontotnya ibu juga” ucap Alin.


Arka terhenyak saat tangannya tiba-tiba digenggam oleh ibu. Wanita itu terus mengucapkan terimakasih tanpa henti yang membuat Arka merasa tak enak sendiri. Dirinya tak melakukan apapun. Kata terimakasih itu seharusnya tak ditunjukkan untuknya.


“ Makasih ya nak. Karena setidaknya Wine masih bisa selamat karena tetap makai seatbelt.” Kali ini pria yang dipanggil ayah oleh Wine dan Alin yang bicara.


Merasa tak berbuat apapun untuk menyelamatkan Wine, mata Arka langsung tertuju kearah Wine yang kini malah asik duduk sambil makan keripik singkong.


“ Kan Wine udah bilang tadi bang. Wine mikirin abang pas di arena balap. Jadi kalau aku mati, Wine pikir setidaknya muka Wine harus masih kelihatan cantik waktu abang melayat nanti. Eh, malah masih hidup”


“Wine!”


“Wine!”


“Wine!”


Alin, ibu dan Ayah mengucapkannya bersamaan. Arka bahkan hanya bisa membeo mendengar kata melayat yang begitu mudah diucapkan barusan.


Wine tetaplah Wine. selalu ada yang tidak beres dengan jalan pikirannya.

__ADS_1


Bekasi


4 Desember 2021


__ADS_2