Salto Dunia Wine

Salto Dunia Wine
Extra Part : Lomba 17 Agsutusan.


__ADS_3

"Dek, minggu depan ikut lomba 17 an di kesatuan kan dek? Kalau nggak, suami mu habis dikecengin sama Ayub dan Ridwan ini"


Kurang lebih, itu adalah permohonan yang diminta oleh mas Arka satu minggu yang lalu setelah ritual mereka di malam Jumat.


Tahun lalu, Wine memang tak ikut merayakan lomba di kesatuan yang kata Ocha seperti panggung dagelan dimana para tentara berubah menjadi komedian sedangkan pata istri hanya bisa mengelus dada. Berubah jadi macan pun tak bisa demi menjaga martabat suami, sedangkan menjaga kejiwaan agar tetap waras seakan sudah berada di ujung jurang.


Tak marah-marah secara terang-terangan memang, namun cubitan maut selalu mendarat di seluruh tubuh, kecuali Kais yang kata Ocha langsung menelan ludahnya dan tak berani macam-macam saat melihat perubahan ekspresi di wajah istrinya yang tengah hamil besar.


Ah, Wine bisa membayangkan rasanya menjadi Kais. Tak marah saja wajah Ocha sudah di kategorikan menyeramkan, apalagi jika sudah melotot dengan wajah pucat nya itu.


Wine ingat betul bagaimana cerita mas Arka tentang Kais saat itu. Meski masih pengantin baru, eksistensi Ocha memang tak bisa diragukan lagi. Kais yang biasanya tampak paling konyol diantara para sertu yang lain, hari itu menjadi yang paling kalem dan terkenal yang paling bucin pada istri.


Memang adik kakak yang paling akur di dunia. Tak ingin kalah dengan kakaknya yang jelas pasti menceritakan tentang hari itu pada Wine, Kais juga menceritakan bagaimana ngenes nya sang kakak yang beberapa kali di kecengin oleh Ayub dan Ridwan. Di kesatuan dimana suaminya bergabung, ada satu perjanjian yang di sepakati oleh para atasan, yaitu saat hari kemerdekaan maka semuanya akan dianggap sama rata. Melupakan pangkat mereka masing-masing. Meski hanya Ayub dan Ridwan yang benar-benar memanfaatkan dengan baik pernjanjian sedangkan para tentara lain masih terlihat segan untuk bersikap seperti itu pada sang komandan, namun rasanya tetep saja Arka yang paling nista di hari itu.


Kata Kais, tahun kemarin, karena Wine yang ada jadwal operasi, Untuk membalas dendam pada Ayub dan Ridwan yang terus menggodanya sejak pagi karena sang komandan datang tanpa istri, Arka mengikuti lomba para jomblo yang dibuat khusus hari itu, dimana hadiah paling mahal berada di lomba itu. Jiwa-jiwa para jomblo yang gajinya jelas harus di tabung untuk acara pernikahan yang entah kapan terjadi, langsung meronta-ronta melihat hadiah uang yang setara dengan harga motor.


Lombanya sangat murah bagi Arka, hanya panjat tebing dan mengambil hadiah itu yang digantung di bagian atas bersama dengan hadiah lain. Namun menjadi hal yang paling menyebalkan bagi para lentting lain. Alasannya jelas, karena sang komandan ikut dilomba ini padahal lomba ini ditunjukkan untuk para jomblo. Tak ada yang setuju dengan Ayub dan Ridwan, para tentara lain malah bergotong royong mempersilahkan bahu-bahu mereka untuk membantu Arka agar bisa naik hingga atas. Curang memang, tapi... Woy, siapa yang berani nginjek bahu komandannya sendiri?.


Saat itu diceritakan hal itu, Wine tak bisa menahan tawanya. Mas Arka waktu itu juga pulang dan tiba-tiba memberikan uang cash sebanyak 10juta kepadanya. Alasannya karena menang lomba, dan Wine tak tahu lomba mana yang dimaksud hingga Kais cerita semuanya. Jiwa senang karena mendapat duren runtuh itu langsung roboh setelah Kais cerita. Jika hadiahnya seharga motor, maka seharusnya masih ada 10 juta lebih lagi yang harus Wine terima. Namun ternyata karena merasa bersalah, 10 juta lebih itulah dibagikan kepada para anak buahnya sama rata. Ah, sayang banget, padahal bisa dipake buat bayar sekolah SD kembar tahun depan.


Turun dari lantai atas dengan Erin yang ada di gendongan. Wine menemukan Ocha yang duduk bersandar di sofa, Arsya mengusap perut besar Ocha dengan celotehan penuh sapaan yang membuat jiwa-jiwa para perempuan bisa klepek-klepek mendengarnya, apalagi bocah berumur 5 ½ tahun itu makin tampan dengan kaos super mahal yang Wine beli 3 bulan yang lalu. Tak seperti Arsya yang lembut, Aaras malah menjadikan perut Ocha layaknya drum dan jari telunjuk bocah itu dijadikan menjadi stik.


"Nanti kayanya pas anak gue keluar, dia bisa langsung gabung kosidahan"


Wine tertawa. Meski wajah Ocha terlihat sebal, namun tak menyingkirkan tangan Aaras, itu berarti Aaras melakukanya dengan lembut "Oke. Nanti gue cari ibu-ibu kosidahan yang butuh orang buat menabuh gendang. Gue daftarin nanti"


"Erin yang cantik. Nanti kalau gede jangan kaya Ibun kamu ya. Harus rada waras sedikit" Ocha mencubit gemas pipi gembul Arun yang kini berusia 2 tahun.

__ADS_1


Tak seperti kembar yang memiliki wajah campuran antara Wine dan Arka, wajah Arun benar-benar sangat mirip dengan Wine tanpa meninggalkan seinci pun untuk disamakan dengan wajah Arka. Yang ditakutkan oleh Ocha dan Anya adalah jika bukan hanya wajah saja yang menurun, tapi sikapnya juga sama. Meski ciri-ciri itu belum terlihat sekarang, Ocha akan menculik Arun diam-diam nanti saat Wine kerja. Dan mendoktrin bocah itu agar bersikap sama dengannya.


"Ibun, ayo ke ayah"


Wine mengangguk, sambil mengendong Erin sekaligus menggandeng Aaras dan menyerahkan Arsya agar di gandeng oleh Ocha, mereka semua keluar dari rumah. Jika menitipkan Aaras pada Ocha, bisa-bisa temannya itu lahiran sekarang juga.


Jarak perumahan dan skuadron yang tak terlalu jauh, membuat Wine dan Ocha memutuskan untuk naik mobil saja ke sana. Eitss.. Alasannya jelas, mereka bisa berakhir ke rumah sakit jika jalan kaki dengan kembar di pinggir jalan raya tanpa ada sosok Arka ataupun Kais.


Tadi pagi, Wine sudah ke skuadron untuk mengikuti upacara, namun harus pulang karena Anak-anak belum ada yang bangun. Sedangkan Ocha ikut pulang karena tak kuat duduk di kursi besi yang dudukannya setipis kesabaran wanita itu.


Begitu sampai di skadron, Wine membiarkan kembar yang langsung berlari menuju lapangan. Dirinya menemani nyonya Ocha yang berjalan pelan dengan satu tangan yang memegangi pinggang belakang. Di suruh di rumah saja tidak mau, alasannya sepi, karena Anya masih di Bali dan baru akan pulang hari ini. Ibu bos satu itu, rencanannya akan menetap di sana mengikuti sang suami.


"Hai abang-abang ganteng, kok nggak godain cewek-cewek yang lagi lewat sih"


Ocha memutar bola matanya. Wine mulai lagi.


"Ya elah. Nggak ada orangnya juga. Yang satu punya tenaga dalam, yang satu mayat hidup. Tapi kita bisa berubah menjadi black pink dalam sekejap mata"


"Black pink mah bening-bening mbak. Godaan kita hanya untuk yang bening-bening, Kalau situ..." Ridwan yang berada di sebelah Sultan yang menjawab. Mulut laki-laki itu benar-benar nggak ada filternya.


Namun bukan Wine namanya jika langsung tersinggung. Wine langsung menarik tangan Ridwan kemudian menyejajarkannya dengan tangannya. Jelas kopi dan susu terpampang di depan mata.


"Ngerti sekarang?" tanya Wine.


Ocha dan Sultan sontak tertawa bersamaan, berbanding terbalik dengan muka masam Ridwan yang ajaibnya selalu kalah dengan istri sang komandan jika masalah adu ucapan siapa yang paling menyakitkan.


Ridwan berdecak kesal. Perhatiannya kini beralih ke arah Erin yang berada di gendongan ibu komandan. Bersandar di bahu sang Ibun dengan mata yang masih terlihat begitu mengantuk.

__ADS_1


"Saya mau godain Erin aja mbak. Nanti saya kenalin sama ponakan saya yang mau jadi TNI juga. Lumayan nanti kalau pas gede dapat istri dari keluarga tajir" belum juga tangan Ridwan sampai ke kepala Erin guna untuk mengumpannya, rengekan kesal bocah super cantik itu terdengar.


"Nggak mau!" pekik Erin sambil melingkarkan tangannya di leher Wine.


Ridwan mengelus dadanya sendiri sambil mendongak. Semoga ada ilham berupa kesabaran yang turun dari langit. Nggak emaknya nggak anaknya sama-sama menistakan dirinya.


Gantian, kali ini Wine yang tertawa terbahak-bahak. Lagi pula, sejak dari dalam kandungan, Wine sudah mendoktrin putrinya agar tak menikah dengan angkatan udara. "Idih. Erin nggak bakal nikah sama angkatan udara. Mak nya bakal menjamin hal itu"


"Lah kenapa emang buk? Walaupun item kita juga tetep ganteng. Lagian, emaknya aja nikah sama TNI AU masa anaknya nggak boleh bu" Sultan nampak tak terima dengan ucapan Wine barusan. Selain Ridwan yang ingin menjodohkan Erin dengan ponakannya, Sultan malah ingin putranya kelak mendekati Erin sampai dapat. Cantik, pintar, tajir. Paket lengkap memang putri komandannya itu.


"Lah, nggak tahu aja. Orang emaknya aja terpaksa nikah sama TNI. Kalau suami nggak mepet juga nggak bakal jadi"


"Terpaksa tapi sampai punya anak 3 ya dek"


Deg.


Wine langsung menoleh ke sumber suara. Mas Arka dan Kais tengah berjalan mendekat ke arah mereka. Hanya ada sebuah senyuman dan kecupan jarak jauh yang Wine lempar beberapa kali ke arah suaminya itu. Bisa-bisanya mas Arka muncul pas banget sama kalimat dirinya barusan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Niat mau nulis yang on going malah nulis si Wine. heheh kangen sama tokoh satu ini.


cung yang kangen Wine juga?


kejutannya adalah bab extra part inu aku tulis sampai 2000k lebih, dan akan aku bagi 2 bab.


so, yang pengin baca kelanjutannya, komentarnya ya..

__ADS_1


kalau komentar banyak dan nyaris sama dengan yang like, akan aku up teman-teman**.


__ADS_2