Sang Mantan Istri

Sang Mantan Istri
kerja kafe


__ADS_3

keesokkan harinya


dinda tengah sibuk membersihkan kamar dan beberapa ruangan di rumahnya. ia sengaja menyibukkan dirinya agar tidak mengingat kejadian semalam. hari ini hari sabtu tidak ada jadwal kuliahnya.


drtttt


drtttt


drtttt


(panggilan telpon)


dinda segera mengambil hp di saku celananya. melihat nama natasya di layar segera di angkatnya.


Dinda : ada apa syaa??"


natasya: kamu dimana din?? ihh jahat pisan ninggalin.


dinda : maaf sya... kemarin aku ada urusan makanya buru buru pulang..


natasyĆ  : oo... sekarang sibuk gak, kalau engak bantuin aku. aku lagi di kafe bibi ku nih, lagi rame di sini din, aku dan bibi elin kualahan. karyawannya cuma satu orang.


Dinda : baiklah... aku akan kesana.


natasya : makacih sahabatku.. aku tunggu yah.


Dinda : ia. udah dulu yah, aku mau siap siap.


natasya : ok.


(panggilan berakhir)


tidak ada salah nya membantu natasya, lagi banyak pikiran gini. bakalan kepikiran jika dirinya berada di rumah seharian. segera dinda mandi, setelah mandi dinda memakai pakaiannya.


dinda memilih memakai celana jeanz dan juga jaket hitam, ia berencana membawa motor ke kafe bibi natasya.


selesai berias, dinda bergegas pergi. dinda mengeluarkan motor metiknya dari bagasi. ia menghidupkan dulu mesin memanaskannya dulu karna sudah berapa bulan motornya tidak di gunakan.


tengah sibuk memanaskan motornya. dinda tidak menyadari seseorang telah masuk ke dalam halaman rumah dan melangkah menghampirinya.

__ADS_1


"dindaa..!!" panggil seseorang yang suaranya begitu familiar di telingannya.


dinda menoleh ke arah suara. ia kaget melihat agam sudah berdiri di dekatnya, dinda menatap agam penuh kebencian segera mematikan mesin motornya.


"ada apa ke sini mas?" tanyanya ketus.


terdengar helaan nafas agam.


"kenapa kamu tidak pulang ke rumah??" tanya agam.


dinda mengendus kesal. "ngapain balik ke rumahnya mass.. maless harus tinggal bareng pembohong." sindirnya penuh penekanan.


"soal kemarin aku akan menjelaskannya." seru agam.


"sudahlah mass, semuanya sudah jelasss. mas tidak perlu menjelaskannya." dinda melangkah menuju teras agam mengikuti kemana ia pergi. dinda mengambil tas di atas kursi dan kemudian mengunci pintu rumahnya. "jika mas, akan menikah dengannya tolong ceraikan aku dulu." pintanya kemudian.


"i itu tidak mungkin dinda... aku takkan mungkin menceraikanmu."tolak agam dengan tegas.


dinda tersenyum sinis. "kenapa... bukannya mas akan menikah dengannya." berkali kali dinda menghela nafasnya agar tidak menangis, di depan agam. matanya mulai berlinang linang.


"a aku memang mencintainya dinda, tapi it_"


"sudah mass... aku tidak ingin mendengarnya lagi." teriak dinda sambil menutup telinga dengan ke dua tangannya. air mata tidak dapat di tahannya lagi. dinda menghela nafasnya lagi dan kemudian menaiki motor metiknya.


"dinda, dengerin penjelasan ku dulu... kamu salah paham dinda.."


dinda langsung melajukan motornya meninggalkan halaman rumahnya. ia tidak mau mendengar penjelasan agam lagi. mendengar agam mencintai wanita itu hatinya hancur berkeping keping.


air matanya terus berjatuhan di pipinya. ia terus menangis di jalan. dinda sadar rasa cinta ke suaminya mulai tumbuh. dan hatinya sangat sakit mengetahui agam memiliki kekasih di belakangnya.


"laki laki brengsekk..!" teriak dinda sambil memukul stir motornya. saat melewati sebuah danau, dinda menghentikan motornya. dan kemudian ke pinggir danau. hati dan pikirannya sangat kacau.


dinda duduk di atas rumput dan kemudian mengambil batu dan melemparnya ke danau.


"mass agam sialaannn... aku membenci mu..." teriak dinda sekeras kerasnyaa. kebetulan danau itu sepi. danau akan ramai di sore hari saat ini pukul 10 pagi.


setelah merasa puas berteriak dan sudah tidak menangis. dinda melanjutkan perjalanannya menuju kafe bibi natasya.


sesampai di kafe ia mencoba menampilkan wajah cerianya. dinda paling pintar menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1



dinda memarkirkan motornya terlebih dahulu. benar kata natasya kafe nya ramai pengunjung. terlihat natasya dan satu karyawan kewalahan. dinda pun menghampiri natasya, saat masuk kafe. para pengunjung pria menatap ke arahnya. seperti di kampus para mahasiswa terpesona dengan kecantikannya begitu juga saat di kafe.


puk


dinda menepuk pundak natasya. natasya langsung menoleh.


"dindaa... kamu sudah datang??"


"aku kan sudah berdiri disini pastinya aku sudah datang." goda dinda tersenyum. "Tak semua tawa berarti bahagia, tapi sering kali tawa adalah penutup hati yang tengah terluka."


dinda berusaha untuk tetap tegar.


"aku bantuin apa nih??" dinda menawarkan diri.


" ganti pakaian kamu dulu gie.. kayak yang aku pakai ini." natasya memamerkan baju khusus karyawan di kafe bibinya.


"bajunya di mana??". tanyanya.


"sini aku anter." natasya membawa dinda ke dalam. beberapa saat kemudian dinda keluar mengunakan pakaian yang sama dengan temannya itu.


dinda mulai melayani para pengunjung. banyak yang memanggil dinda untuk mencatat pesanan. ada juga yang modus, mau pesan malah minta no dinda atau mengodanya. namun dinda bersikap cuek pada pengunjung seperti itu.



pukul 5 sore. kafe sudah mulai sepi. dinda duduk sambil mengibas ibas buku menu karna merasa kepanasan.


"capekk nihh syaa.." keluh dinda.


"aku juga capeekkk.." balas natasya duduk di sebelah dinda.


bibi natasya keluar membawa cake coklat lumer untuk mereka bertiga dengan satu karyawan bernama rini.


"bibi bawain kalian cake spesial..". bibi meletakkannya di atas meja.


aroma cake, membuat air liur mereka hampir menetes.


dengan cepat mereka mengambil dan memakannya hingga habis tidak tersisah.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2