Sang Mantan Istri

Sang Mantan Istri
Masih Ngambek


__ADS_3

...Jangan lupa like and vote...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...⚘⚘⚘...


🌺happy reading🌺


Malam hari


Sepulangnya dari perusahaan. ia melihat wanitanya tengah tertawa bersama mamanya di ruang keluarga. mereka terus terusan berbicara. Agam melihat papanya sebagai obat nyamuk di sana. Papa Agam hanya menonton sesekali melirik Dinda dan istrinya dengan menghela nafasnya.


tampaknya papanya tertekan berada di tengah tengah dua wanita itu. Agam pun bergabung dengan orang tuanya dan duduk di sebelah Dinda..


cup


tanpa permisi Agam mengecup kening Dinda. Dinda langsung menatap nya dengan mata melotot.


"apa sihh mass cium ciumm... ingatt, kita belum menikah." tegur Dinda masih kesal. bukan kesal karna di cium Agam namun ia masih kesal tadi pagi Agam mengatainya Gembul.


Wanita mana yang tidak kesal di katai gembul oleh pasangannya. mana Ada wanita gembul mengemaskan. kalau bayi gembul yah wajar mengemaskan. kalau dia apanya cobaa yang mengemaskan, malah ia akan terlihat jelek dan tidak menarik lagi.


kan banyak kasus kasus yah kan, wanita di tinggalin pasangannya. karna wanita sudah tidak menarik lagi. maka dari itu Dinda mengutamakan penampilan dan juga badannya. ia harus tetap langsing dan juga cantik. satu jerawat saja, ia sudah panik.


walau cantik wanita juga harus pintar yang lain, bukan hanya pinta perawatan. contohnya memasak, pendidikan tinggi dan juga pandai cari duit. jangan hanya cantik saja laki laki bakalan kabur kalau wanitanya gak bisa ngapa ngapain.


"masihh ngambek yah sayang." Agam mencubit hidung Dinda..


"maa..." keluh Dinda langsung memeluk mama Sinta dengan wajah memelass.


"Gam...! masuk kamar sana mandi, gak malu apaa badan bau malah cium anak mama yang cantik ini." usir mama Sinta dengan ketus.


"gak bau kok ma, masih wangi." Bantah Agam.

__ADS_1


mamanya bener bener keterlaluan menjatuhkan harga dirinya di depan wanita yang di cintainya. nih mama kandung apa mama tiri??


"gak usah protess.. sanaa mandii, ganggu aja." Sembur mama Sintaa. mama Sinta beralih ke Dinda. "lanjut dong cerita sayangg.. mama penasaran nih." mama sinta menunggu melanjutkan ceritanya yang terputus karna kedatangan Agam.


Dinda menghela nafasnya dulu. "waktu di inggriss, Dinda bareng Bima terus sahabat Dinda."


"Bima siapa Din??" potong Mama Sinta.


"sahabat Dinda ma.. kami udah bersahabatan sejak aku SD hingga sekarang. Bima yang bantuin saat aku di sana, makanya Dinda tidak pernah kesulitan di negara orang.." jelas Dinda.


Agam mendengarnya merasa cemburu, ternyata saat Dinda pergi ada laki laki yang terus bersamanya.


"wahh, denger cerita kamu mama ingat sahabat mama juga namanya Wiliam." timpal mama Sinta mengingat kembali masalalu bersama sahabatnya itu.


hem


suara deheman suaminya membuyarkan lamunannya.


"cihhh... nih juga lalat ganggu orang mau nostalgia saja." sungut mama Sinta..


"kalau nostalgia, kita dulu sih papa gak keberatan, tapi nostagia nya laki laki lain papa akan marah lo... mama tau kan kalau papa marahh seperti apa."


"coba aja marahh, tapi jangan salahkan mama kaalau satu minggu papa tidurnya di luar." ancam mama Sinta yang langsung nyali papa Hermawan menciut. manaa pernah ia marah dengan istrinya, yang ada bisa habis di remuk remuk oleh nya.


"udahhh jangan berantemm, entar darah tingginya kumat." sela Agam menengahi perdebatan orang tuanya.


"apa sihh nih anak kamu, makin tua makin kurang ajar aja." sungut Mama Sinta.


"anak aku, anak kamu juga kali." ucap Papa hermawan dengan suara alay.


Dinda menahan tawanya, bukannya menyeramkan melihat orang tua Agam berdebat malah sangat lucu. seakan akan ia sedang menonton drama komedi secara live.


Agam menghela nafasnya dan kemudian menarik tangan Dinda dan membawanya ke lantai atas, Dinda pun menurut dan tidak menolak Agam menariknya. mereka pergi secara diam diam saat orang tuanya sedang berdebat.

__ADS_1


di dalam lift.


tawa Dinda pecah, ia sudah menahannya dari tadi.


"kenapa papa dan mama mu semakin kocak sajaa." Dinda tertawa lepas memegang perutnya yang sudah sakit.


Agam tersenyum senang melihatnya. hal kecil bisa membuat wanitanya senang seperti itu.


Dinda terus tertawa hingga sampai di depan kamar nya tangannya terus mengandeng tangan Agam seolah lupa ia sedang ngambek pada kekasihnya itu.


"udah gak marah lagi dengan mas..?" tanya Agam.


seketika Dinda menghentikan tawanya dan kemudian menghempaskan tangan Agam dengan kasar.


"gakk." ucap Dinda ketus lalu masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya.


Agam menghela nafasnya dengan berat, ia menyesal menanyakan pertanyaan itu. mengapa ia mengingatkan padanya ia sedang ngambek padanya. benar benar bodoh. Agam melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan malas dan terus mengerutuki kebodohannnya.


**bersambung


.


.


.


.


.


(malass ahhh, udah gak ada yang votee nih☹☹)


Ayo dong votenya, kan authornya jadii semangat nulisnya**.

__ADS_1


__ADS_2