
3 minggu kemudian
dinda sudah berada di kediaman mertuanya, dinda yang ceria berubah menjadi murung karna peristiwa itu terjadi padanya. ia masih menyalahkan dirinya akan kehilangan janinnya. di tambah foto dan pesan di kirim seseorang padanya. hatinya bagaikan di remuk remuk kuat kuat bagaikan kertas.
selama itu juga dinda mendiami suaminya. agam yang tidak tau akan kesalahannya bingung dengan sikap dingin dinda padanya. berkali kali dirinya menanyakan kesalahannya namun dinda tetap saja diam.
papa hermawan dan mama sinta bingung dengan sikap dinda pada agam. mereka sering menanyakan masalah apa namun dinda tetap saja diam. bibir nya terkunci rapat. mereka pun menyerah tidak dapat memaksa dinda, suatu saat dinda akan mengatakannya.
kini dinda berada di halaman belakang, udara di sana cukup menenangkan pikirannya yang sedang kacau. ia memandangi bunga bunga indah di sana. dari jauh agam mengawasinya, ia sedih melihat istrinya yang dingin padanya.
ke esokkan harinya.
di pagi harinya.
dinda bersiap siap akan kekampus saat turun ia di kagetkan dengan kedatangan tamu yang tidak di undang. kedua mertuanya tengah duduk di ruang tamu.
suaminya juga berada di sana, dengan pelan dinda berjalan mendekat dengan penasaran, mengapa ada wanita itu di rumah ini.
wanita itu sedang menangis, dinda kaget melihat ekspresi mertuanya menahan amarah.
begitu juga dengan suaminya.
"mass... mass tolong tanggung jawablah." pinta wanita itu memohon.
deg.
tanggung jawab apa yang di maksud wanita itu, apa yang sudah di buat agam sehingga wanita itu meminta pertanggung jawabannya.
"kau sudah menjebakku tania." seru agam penuh amarah.
"aku tidak menjebakk mu mass... kita melakukannya sama sama mau..." tania berdiri menghampiri agam dan mengengam tangan agam. "ini anak mu masss.. kau harus bertanggung jawab." tangan satu menyentuh perutnya.
degg.
mendengar wanita itu hamil, saat ini hatinya tengah hancur berkeping keping bagaikan sebuah kaca yang pecah.
__ADS_1
dinda yang berdiri di balik tembok pun keluar, semua kaget akan kedatangan dinda tiba tiba. mata dinda menatap tajam agam dan juga tania. tatapan penuh kebencian.
ia teringat foto foto mesra agam dengan tania dan juga pesan.
*suami mu sedang bersama ku.
*bersiap siaplah melepaskannya... agam adalah mililku...
*kau lihat foto foto kami. aku baru saja memuaskan suami mu.
*aku harap setelah kau membaca pesan ini, kau meninggalkan agam. agam hanya milikku, kau hanyalah orang ketiga di dalam hubungan kami.
air mata dinda mengalir deras membasahi pipinya, hatinya sangat sakit mendapati kenyataan pahit ini. mengapaa suaminya membuat dirinya mencintainya.
"Aku hancur berantakan, aku hampir tidak dapat bernafas, dengan patah hati yang masih berdetak ini. mengapaa mass mengaapa kau membuatku mencintaimu, jika kau masih mencintainya. jika saja aku tidak mencintaimj hati ku takkan sesakit ini." gumamnya dalam hati.
"dindaa.." orang tua agam berdiri melihat kedatangan menantunya.
begitu juga dengan agam.
"apa maksud ini semua maass..." tanya dinda dengan suara pelan. "apa benar dia sedang hamil??" dinda menunjuk tania yangg sedang duduk di sofa.
"aku memang sedang hamil dan anak yang aku kandung adalah anak mass agamm. kau harus terima itu semua, aku tidak apa apa jika menjadi madu mu." yang menjawab pertanyaannya adalah tania.
"taniaa..." bentak agam geram dengan tindakkan tania.
dinda tersenyum sinis menatap tania. "kau wanita hebatt, hamil dari suamiku." cibirnya. "kau bisa memiliki nya, aku akan melepaskannya untukmu. aku tidak akan pernah rela harus di madu." ucap dinda penuh penekanan.
"sayangg... apa maksud mu??". tanya agam pelan, ia syok mendengar perkataan agam.
"kau sudah tau apa maksudku mas." dinda menghapus air mata di pipinya, ia berusaha untuk tidak menangis.. "bertanggung jawablah mass, tapi sebelumnya kau ceraikan aku dulu." perkataan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
tengerokannya sampai sakit, dadanya terasa sesak mengatakan cerai. hatinya bagaikan kaca yang hancur berkeping keping.
"dindaa...!" lirih mama sinta, mata nya berkaca kaca.
__ADS_1
dinda tersenyum terpaksa. "mama jangan mengkhawatirkan ku, dinda baik baik saja."
"sayangg mama mohon jangan berpisah dengan agam... mama mohon." tangis mama sinta pecah.
bukkkkk
agam tiba tiba tersungkur jatuh di lantai, ia kaget saat papanya menonjok wajahnya.
"papaa...!" pekik agam.
"kenapa papa harus memiliki anak bajingan seperti mu haa..." papa hermawan mencengkram kerah baju agam, matanya menatap agam seolah olah akan membunuhnya. ia sangat kecewa dengan anak satu satunya itu.
"sudah pa sudah.." walau mama sinta kecewa ia tidak rela jika anak satu satunya di pukul oleh suaminya.
sementara dinda yang sudah tidak tahan berada di sana, ia beranjak pergi menuju kamarnya dengan agam.
sesampainya di kamar dinda membereskan barang barangnya dan memasukkannya ke dalam koper, ia sudah memutuskan pulang kerumah lamanya.
dinda pun keluar dari kamar dengan membawa koper besarnya. saat sampai di ruang tamu, mereka yang tengah berdebat kaget melihat dinda membawa koper.
"kamu mau kemana sayang??' agam menghampiri dinda.
"segeralah urus perceraian kita." ucap dinda dengan tegass...
"i itu tidak akan terjadi dindaa... aku takkan menceraikanmu." tolak agam dengan tegas.
"baiklahhh... biar aku yang mengurusnya." ucap dinda lalu pergi.
agam akan meraih tangann dinda namun tania menghalanginya.
"babby untuk apa kau menghalanginya, sekarang kau harus bertanggung jawab dengan kehamilan ku ini." ucap tania.
agam geram menghempaskan tangan tania.
"pergi kamu dari sinii... aku tidak ingin melihat mu lagi." teriak agam penuh amarah.
__ADS_1
bersambung