
drtttt
drttt
drttt
hp dinda bergetar di atas meja samping tempat tidurnya, menandakan pesan masuk. dinda mengambil hpnya dan membuka pesan baru itu.
"apa ini." pekiknya.
mata dinda melotot saat melihat isi pesannya, hpnya langsung terjatuh dari tangannya, karna syok melihat isi pesan dan juga beberapa foto.
begitu juga tubuhnya seolah tidak bertulang, ia meringsut duduk di lantai memeluk lutut dan membenamkan wajahnya. dinda menangis histerissss, hati nya hancur berkeping keping, seakan akan ribuan pisau menusuk hatinya saat melihat isi pesan dan foto foto itu.
"auuuuuu....!" jerit dinda, ia merasakan keram dan nyeri di perut bawahnya, ia meremasss perutnya. wajahnya berubah pucat dan keringat dingin membasahi wajahnya. "sakitttt.... perutku sakittt.." keluhnya, baru kali ini ia merasakan sakit perut seperti ini.
pandangan dinda mulai memudar, rasa sakit sudah tidak dapat lagi di tahan. akhirnya dinda pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. darah segar mengalir derass membasahi bagian belakangnya.
.................
agam baru turun dari mobilnya dengan penampilan kacau, ia memasuki rumahnya dengan langkah cepat. ia kawatir dengan istrinya, pasti menunggunya.
"wanita sialan, beraninya dia menjebakku." gerutu agam dalam hatinya.
entah apa yang terjadi padanya, yang biasanya berpenampilan rapi kini penampilannya kacau. hanya author dan agam lah yang tahu kejadian semalamš¤£.
"agamm... kau dari mana sajaa?? kenapa kau baru pulang??" ribuan pertanyaan orang tuanya saat melihat kedatangan agam.
agam tidak menjawab pertanyaan orang tuanya, ia berlari menaiki tangga, perasaannya tidak enak tentang istrinya.tidak mendapatkan jawaban, papa dan mama agam mengejar anaknya hingga sampai depan kamarnya.
ceklek
mata agam langsung membulat sempurna saat pintu kamarnya terbuka. begitu juga orang tuanya berdiri di belakangnya.
ia melihat dinda tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri. di tambah banyak darah di bajunya.
"dindaa..." pekik mama sinta.
agam berlari masuk dan membawa dinda ke pangkuannya, menepuk nepuk pipinya agar sadar.
"sayanggg.... kau kenapaaa...?" panik agam.
"sebaiknya kita bawa dinda ke rumah sakit agam." usul papa hermawan.
agam mengangguk dan kemudian mengendong dinda ala brydal styla. mama sinta syok saat melihat darah darah menetes di badan dinda.
"ayo maaa...!" papa hermawan membantu istrinya berdiri, ia tau istrinya syok. ia juga syok dengan dinda, namun ia harus tetap bersikap tenang.
"paa... dindaa." lirih mama sinta mata berkaca kaca dan tanpa berkedip tangannya mengengam erat tangan suaminya, ia takut menantu nya kenapa kenapa.
"iaa sayanggg... kita doakan semoga dinda baik baik saja."
*
*
__ADS_1
*
*
*
...Rumah sakit...
sudah satu jam agam dan orang tuanya di depan ruang icu. dinda berada di dalam, mereka menunggu kabar dinda dari dokter.
agam berjalan mondar mandir di depan pintu sesekali mengintip di balik kaca pintu memperlihatkan dinda sedang di tangani. sementara orang tuanya duduk di kursi panjang. papa hermawan menenangkan mama sinta yang terusan menangis.
ceklek
akhirnya dokter keluar dari ruangan icu, agam dan orang tuanya langsung menghampiri dokter wanita yang sudah parubaya itu. mereka langsung menanyakan ke adaan dindaa.
wajah dokter itu terlihat murung, mereka bisa membaca berita buruklah yang akan mereka dengar.
"apa anda suami pasien??" tanyanya ke agam.
"ia ia dokk dia istri sayaa... bagaimana keadaan istri saya??"
dokter menghela nafasnya dulu sebelum berbicara lagi.
"apa anda tau istri anda hamil??". tanya nya lagi.
"hamil.." lirih agam dengan wajah bingung. ia mengeleng gelengkan kepalanya. "saya tidak mengetahui kehamilan istri saya dok."
"apa menantu saya hamil dok.??" timpal mama sinta penasaran.
"keguguran... istri saya keguguran." pekik agam nada frustasi.
"ahhh haaaa... dindaaa.....!" teriak mama sinta sangat syok dan kemudian pingsan suami dan anaknya kaget melihat mama sinta pingsan
"mamaa...!!" pekik papa hermawan menangkap badan istrinya yang hampir terjatuh di lantai. "sayangg sadarlahh." ia menepuk nepuk pipi istrinya.
sementara agam mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa bersalah yang di alami istrinya, suami macam apa dia tidak mengetahui kehamilan istrinya.
*
*
*
*
*
dinda sudah di pindahkan ruang perawatan, karna masih terpengaruh oleh obat bius dinda belum sadar. agam duduk di samping bangkar istrinya tangann mengengam erat tangan istrinya berkali kali menciumnya. matanya bengkak dan sembab, anaknya pergi begitu sajaa. anak yang sudah di idam idamkannya.
"maafkan mas sayang... mass bukan suami yang baikk." ucapnya masih sangaf bersalah dengan istrinya.
andai saja dirinya tidak mendatangi wanita itu, mungkin saja dinda takkan mengalami keguguran.
ceklek
papa hermawan dan mama sinta masuk kedalam kamar dinda. mama sinta yang masih lemah, dibantu dengan kursi roda. mereka menghampiri menantunya.
__ADS_1
"agam, bagaimana kau tidak mengetahui istrimu sedang hamil... dan kemana saja kau semalam haaa...!" sembur mama sinta penuh amarah.
"sudah ma... sudah, jangan menyalahkan agam, semuanya sudah takdir yang maha kuasa." ucap papa hermawan menenangkan istrinya.
"ayaahhhh...!!" lirih dinda suara pelan.
agam dan orang tuanya menatap arah dinda.
"dinda kamu sudah sadar sayang." pekik agam.
"anakku sayang kamu sadar nak." ucap mama sinta.
"ayahhhhhhh...!"
agam mengengam tangann dinda dan menciumnya.
"sayanggg... aku di sini."
perlahan dinda membuka matanya, matanya masih menyesuainya cahaya lampu. pandangan nya mulai jelas, orang pertama di lihatnya adalah suaminya.
"mass...!!" lirihnya
"kamu sudah sadar sayang." ucap agam senang.
"sayanggg... kau baik baik saja nakk...??" tanya papa hermawan.
dinda mengangguk pelan kesadarannya belum sempurna.
"a aku dimana??" tanyanya dengan suara lemah.
"kamu di rumah sakit sayang." jawab mama sinta, ia bisa bernafas lega menantunya sudah sadar.
dinda melihat wajah suaminya lagi. tiba tiba ia mengingat sms dan foto foto sebelum ia pingsan.
segera dinda menarik tangannya dengan kasar, matanya berkaca kaca ia menatap agam penuh kebencian.
"kamu kenapa sayang." pekik agam.
dinda tidak menjawab ia mengalihkan tatapannya ke arah mertuanya.
"kenapa dinda ada di sini pa ma??" tanya dinda.
"dindaa...!! apa kamu tau kamu hamil??" tanya papa hermawan.
dinda mengeleng gelengkan kepalanya dengan wajah bingung.
"tidak paa... kenapa memangnya pa??? apa dinda sedang hamil?".tanyanya ke papa mertuanya.
"kamu mengalami keguguran sayang." jawab papa hermawan.
"keguguran...!" lirih dinda... "a aku keguguran." pekiknya kemudian. "aku tidak mengetahui keberadaannya dan anakku meninggalkan ku begitu saja." cairan bening berjatuhan dari matanya. tangis dinda pecahh, ia tidak menyangka sakit perutnya beberapa hari lalu bukan gejala menstruasi melainkan gejalah keguguran.
"hikssss... hikssss anakku maaa anak ku paaa.." dinda histeriss..
agam panik segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
...bersambung...
__ADS_1