
...Jangan lupa like and vote...
...๐๐๐๐๐...
...๐๐๐...
๐ธhappy reading๐ธ
Natasya dan cika menemani Dinda di rumah sakit, sedang kan Agam berangkat kekantor, karna ada meeting. Agam sengaja memanggil ke dua sahabatnya itu menemani Dinda.
setelah kepergian Agam, ke dua sahabatnya langsung melontarkan banyak pertanyaan padanya.
"*kamu punya hubungan apa dengan tuan Agam?" natasya penasaran.
"tuan Agam kok perhatian gitu sama kamu Din?" Cika tidak kala penasaran.
"kamu pacaran yah dengan tuan Agam??"
"kamu dan tuan Agam sudah kenal lama yahh??"
"bunga mawar yang di antar asisten Roy itu kiriman dari Tuan Agam yah."
"Din.. kok diam sihh, jawab dong*."
silih berganti Cika dan natasya menanyakan hubungannya dengan Agam. Dinda diam membisu, bukan tidak ingin menjawab melainkan banyaknya pertanyaan dari ke dua sahabatnya itu.
"mau jawab yang mananya...?? nanya tuh satu satu, pusing tau jawab pertanyaann kalian itu." gerutu Dinda dengan bibir manyun
ke dua sahabatnya tertawa kecil secara bersamaan. Dinda kalau ngomel ngomel bukannya mereka takut malah mengemaskan kayak bayi.
"ihhh malah ketawa." sungut Dinda pura pura kesal.
mana bisa ia kesal dengan kedua sahabatnya itu. walau mereka baru saling mengenal, mereka sama dengan ke dua sahabatnya Bima dan Alysia yang sudah bersahabat dari kecil. mereka sama sama kocak.
"aku aja nih yang nanya dulu, kamu jawab yah Din. apa hubungan kamu dengan Tuan Agam?" tanya Natasya mewakili pertanyaan Cika.
Dinda kembali terdiam lama, ia bingung harus jawab apa. apa ia harus mengatakan semuanya pada ke dua sahabatnya?? tentang hubungannya dengan Agam di masalalu.
"loh kok Diam sih." gerutu Cika yang menunggu lama jawaban pertanyaan mereka.
"mmmm...!" mulut Dinda terasa berat mengeluarkan suara nya.
__ADS_1
"mmm apaaa Dinda, cepat jawab?? kami bisa bisa mati penasaran nih." timpal Natasya yang tidak sabarann..
Dinda menghela nafasnya dengan kasar, ia sudah yakin mengatakan semua nya kepada kedua sahabatnya.
"sebenar___"
tok
tok
tok
suara ketukan pintu, tatapan mereka teralihkan ke arah pintu, Dokter dan suster masuk dann akan memeriksa keadaan Dinda. dalam hati Dinda bernafas lega karna rahasianya masih aman. berbeda dengan kedua sahabatnya mengerutu dalam hati. ia gagal mengetahui hubungan Dinda dengan Agam Atasan mereka.
..........
setelah kepergian dokter, Dinda tertidur pulas setelah di berikan suntikan obat pada infusnya. Efek samping pada obatnya bikin mengantuk berat.
kedua sahabat Dinda masih beerada dalam kamar perawatannya.
.......................
siang harinya
di sore harinya ia baru terbangunn, ia melihat Agam sedang tidur di sofa tampak ia kelelahan. semalam ia tidak tidur menjaganya.
Dinda terus memperhatikan Agam. jika saja kakinya tidak sakit, mungkin ia akan menghampirinya menatap wajah tampan nya lebih dekat.
Dinda merasa bahagia dengan perhatian Agam padanya. keraguan nya pada agam sedikit demi sedikit berkurang, pintu hatinya mulai terbuka untuk menerima Agam kembali mengisi nya.
Apa ia harus menerimaaa Agam kembali?? Perhatian dan cinta Agam ia bisa merasakannya. ia tau Agam tulus padanya.
...........
ke esokkan harinya
Dinda sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, infusnya sudah di lepas semalam. kondisi Dinda sudah membaik hanya saja ia harus seminggu sekali memeriksa kakinya. .
"kamu pulang ke rumah mas saja ya." ucap Agam.
"ahh...! aku pulangnya kerumah ku saja mass." tolak Dinda.
__ADS_1
"kalau kamu pulang siapa yang akan menjagamu, kamu tidak boleh banyak gerak. kamu pulang di rumah mas saja, mas takkan tenang kalau kamu pulang ke rumah kamu. siapa yang akan mengurus mu di sana." gerutu Agam.
"tapi mas...
"gak ada tapi tapian." sela Agam. "kamu ingat, aku akan menjaga mu. aku sudah berjanji di depan ayah mu akan selalu menjagamu selamanya." ucap Agam dengan tegas.
Dinda menghela nafasnya, mau tidak mau ia harus pulang ke rumah Agam. rumah yang pernah di tempatinya tiga tahun lalu. Rumah yang penuh dengan kasih sayang dari mertuanya. mengingat mertuanya Dinda tiba tiba merindukan mereka.
"mass..." panggil Dinda pelan.
"ia... ada apa.??" tanya Agam yang sedang sibuk merapikan barang barang Dinda yang akan di bawa pulang.
"mama papa kemanaa mas?? Dinda kangen mereka." tanya Dinda dengan suara lirih, matanya kembali berkaca kaca. Dinda ma gitu Dikit diki nangis, marah nangis, seneng juga nangis๐คฃ.
"loh kok nangis lagi." Agam menghentikan aktivitasnya dan beralih ke Dinda mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Dinda kangen mama papa." rengek Dinda sudah terisak isak.
"husss...! jangan nangis dongg.. kalau kamu sembuh kita susul mama dan papa ke sana." saran Agam. "mama papa juga sama rindu dengan mu. mereka pasti bahagia melihat mu." ucap Agam.
"mama papa juga merindukan Dinda??"
"yaa... bahkan mama sakit sakitan karna merindukanmu." jawab Agam.
"mas kapan kita kesanaaa, Dinda pengen ketemu mama dan papa." pinta Dinda.
"minggu depan saja gimana? kebetulan mas ada urusan pekerjaan di sana. sekalian juga periksaa kaki kamu disana...??"
Dinda langsung menjawab anggukkan, dan kemudian memeluk Agam. "makasih yah masss..."
Agam terdiam kaget karna tiba tiba Dinda memeluknya. beberapa saat kemudian Dinda melepaskan pelukannya karna sadar apa yang ia lakukan.
"Maaf mas." Dinda menundukk malu, pipinya memerah menahan malu.
...**bersambung...
VISUAL NATASYA**.
VISUAL CIKA
__ADS_1