
...Jangan lupa like and vote...
...💮💮💮💮💮💮💮...
...🌹🌹🌹🌹...
🏵happy reading🏵
Di warung bakso mas Udin.
Dinda, Alsyia dan Alya tengah duduk di dalam warung dan sedang menunggu bakso yang sudah mereka pesan.
"tempatnya beda banget yah Din..." Alysia terus tersenyum memandangi setiap sudut warung itu yang dulunya kayu sekarang sudah di ganti dengan bata. jika di bilang ini bukan seperti warung tapi sudah seperti kafe atau restoran.
"iaa ca.. aku aja kaget pertama kali datang kemari..." jawab Dinda.
Pandangan Alysia kini beralih pada Dinda, raut wajahnya kini berubah serius.
"Din, aku boleh minta bantuan kamu gak.?" Ucap Alysia ragu ragu meremas kedua tangannya.
"bantuan?? kamu mau minta bantuan apa Caa?? pasti aku akan bantuin kamu." jawab Dinda.
terdengar helaan nafas Alysia. "Gini Din, untuk sementara waktu apa boleh aku numpang tinggal di rumah kamu Din. setelah mendapatkan Apartemen aku akan pindah Din." Ucap Alysia malu malu.
__ADS_1
Saat keluarganya mengetahui ke hamilannya. mereka langsung mengusir Alysia menghapusnya dari kartu keluarga. Alysia yang memiliki sedikit tabungan dari almh ibunya pun memilih ke Jerman melanjutkan hidupnya.
di masa kehamilannya ia tetap bekerja dan juga kuliah. Alysia tidak pernah berpikiran mengugurkan kandungannya. ia telah menyayangi anaknya saat di kandungan. ia sudah ikhlas dengan apa yang terjadi padanya.
Alysia bekerja menjadi Asisten Desainer. Bosnya itu sangat baik padanya tidak menyulitkannya dalam bekerja.
"janganlah càaa... kamu gak usah cari Apartemen, tinggal bareng aku saja.. aku senang lo kamu mau tinggal bareng aku." Bujuk Dinda. "apa lagi ada Alya, aku jadi gak kesepian lagi." lanjut Dinda dengan semangat.
Obrolan mereka terhenti sejenak saat pelayan datang membawakan pesanann mereka. Dinda memesan bakso mercon dengan kuah Cabe, sementara Alysia memesan Bakso Beranak dan juga kuah cabe dan Alya hanya di berikan bakso pentolan di beri sedikit kecap manis.
"siap siap entar sakit perut." ucap Dinda sambil tertawa kecil. ia merasa senang bisa ketempat ini lagi bersama sahabatnya. kebahagiaan mereka terasa belum lengkap tanpa Bima. sejenak ia bisa melupakan masalahnya dengan Agam.
"iaa.. tapi gak apalah, sekali kali." jawab Alysia yang juga tertawa kecil..
"mommy, ini apaa??" pertanyaan Alya mengalihkan pandangan mereka berdua.
karna tidak pernah melihat makanan seperti itu, Alya menolak.
"aku gak mau, maunya Pasta." tolak Alya menutup mulut dengn tangannya.
"coba dulu sayang. kalau gak suka, muntahin saja." Dinda tidak menyerah. ia sangat ingin melihat anak Sahabatnya bisa memakan makanan kesukaannya dan juga mommynya.
Dengan berat hati, dan ragu perlahan Alya membuka mulutnya. segera Dinda menyuapinya.
__ADS_1
"gimana???" tanya Alysia saat bakso sudah di mulut putrinya.
Wajah Alya yang cemberut, langsung berubah. matanya berbinar binar.
"enak mom." senyum Alya mengembang.
"makanya jangan langsung tolak, coba dulu." ucap Alsyia.
Alya tidak memperdulikan cibiran mommynya ia melanjutkan makan baksonya. Dinda dan Alsya pun memakan bakso mereka hingga habisss.
Bibir mereka sampai merah dower karna kepedasan. keringat membasahi wajah mereka.
Alsyia yang akan membayar makanan nya di tolak Dinda. Dinda yang akan membayarnya. Alsyia sempat menolak namun Dinda memaksa meneraktirnya.
Dengan terpaksa Alsyia mengalah, ia tau berdebat dengan Dinda takkan ada habis nya. sudah di pastikan ia akan kalah dengan sahabatnya itu.
Dinda pun kekasir dan Akan membayar pesanannya tadi.
"maaf neng, sudah di bayar oleh den itu." pegawai kasir menunjuk arah seseorang yng duduk di pojokkan.
Dinda mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk kasir. wajahnya langsung berubah masam saat melihat Agam di sana yang tersenyum lebar.
Huhhh...
__ADS_1
Dinda menghela nafasnya dengan kasar, dan berjalan menghentak hentakkan kakinya menuju luar tempat mobilnya terparkir. Alysia dan Alya sudah menunggunya dekat mobil.
Bersambung