Sang Mantan Istri

Sang Mantan Istri
Makan siang


__ADS_3

pukul 12 siang


waktu makan siang semua karyawan bergegas ke kantin untuk mengisi perut mereka begitu juga dengan dinda. ia sudah janjian dengan sahabatnya natasya makan siang bareng.


mereka akan bertemu di kantin. dinda mengajak cika makan bersama. cika pun ikut dengannya kekantin. sesampai di kantin, natasya sudah duduk di sana, dinda dan cika menghampirinya. mereka pun langsung memesan makanannya.


"bagaimana kafe bibi mu??" tanya dinda saat mereka tengah menunggu pesanan.


"baik, malahh kafe bibi udah punya cabang." jawab natasya semangat.


minuman mereka datang terlebih dahulu, dinda langsung meminumnya.


"coba lihat kafe bibi." natasya memperlihat layar hpnya. di situ ada foto kafe, yang sangat cantik berbeda tiga tahun yang lalu.



dinda tersenyum melihat kafe bibi natasya.


"aku akan kesana lain waktu..." dinda melirik ke cika. "apa kau mau ke kafe bibi natasya cik??" tanya dinda pada teman satu devisi dengannya.


"iaa, aku mau. kapan kita kesana??" .


"minggu, gimana??".


"okeey.. minggu yah."


"setelah ke kafe kita ke mall yuk nonton atau shopping gitu." usul natasya. natasya dan cika mulai akrab.


"yaaa.. aku setuju.: jawab cika.

__ADS_1


saat tengah perbincangan mereka karyawan karyawan di kantin heboh. Agam dan asisten nya memasukki kantin. wajah dinda berubah masam melihat mantan suaminya itu. bersamaan kedatangan agam pesanan mereka pun datang. dinda langsung mengambil dan memakannya dengan cepat..


asisten roy mengusir orang yang duduk di dekat meja dinda dan ke dua temannya.


agam pun duduk, matanya terus memandangi mantan istrinya.


menyebalkan kenapa dia harus duduk disana sih.


gerutu dinda dalam hati.


"coba lihat presdir kita tampan bingitzz." bisik cika pada kedua temannya.


"biasa saja." jawab dinda ketus sambil mengunyah kasar maakannya.


"hee pelan pelan makannya, entar keselek tau rasaa." tegur natasya.


"iaa... kaya kuli ajaa makannya." timpal cika menahan tawanya.


"tuh kann, aku bilang makannya pelan pelan." natasya menepuk nepuk punggung dinda sedangkan cika memberikannya air putih. "makan tuh pelan pelan biar gak keselek."


"ia ia bawel." gerutu dindaaa.


agam yang duduk tidak jauh dari mantan istrinya, ingin menghampirinya. namun ia memahannya, melihat banyak karyawan di sini.


"aku balik yah." setelah minum dinda berpamitan, ia sudah tidak tahan berlama lama di kantin. hatinya panass, bertemu mantan suaminya lagi.


ia mengira sudah move on dari cinta dan sakit hatinya. namun teernyata tidak, hatinya sakit bertemu dengannya lagi. ia pun pergi meninggalkan ke dua temannya. ia mengabaikan teriakan natasya.


"heyy.. kok pergi gitu aja." teriak natasya.

__ADS_1


"dinda aneh banget."


"ia emangg dia aneh."


.................................


"aku harus mencari pekerjaan baru, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."


gumamnya dalam hati. saat ini dinda berada depan lift, menunggu pintu lift terbuka. air matanya terus berjatuhan, ia sudah menahannya dari tadi. namun segera di hapus dari wajahnya.


pintu lift pun terbuka ia pun masuk saat pintu lift akan tertutup tiba tiba kembali terbuka lagi. terlihat agam langsung masuk kedalam lift, melihat agam, dinda akan melangkah keluar namun tangannya di tarik agam hingga membuatnya mundur kembli pintu lift pun tertutup, dinda menghempas tangan agam di pegelangan tanganya. matanya menatap tajam mantan suaminya.


"apa kau tidak punya malu lagiii, jangan menyentuh dan menganggu ku lagi." sembur dinda kesal.


"aku merindukan mu sayang." agam tidak memeperdulikan perkataan dinda, ia langsung menarik dinda kedalam pelukannya. ia sangat merindukan wanita itu.


dinda terdiam di dalam pelukann agam, pelukan yang sudah tidak di rasakan selama tiga tahun. pelukan hangat dan penuh cinta yang selalu di rindukanya. menghirup aroma maskulin di badan mantan suaminya menghipnotis hati dan pikirannya.


"aku mencintaimu sayangg.. maafkan aku telah menyakiti hatimu." ucapan agam menyadarkan dinda, segera dinda mendorong badan agam agar terlepas dalam pelukannya.


plakk.


tangan dinda melayan keras di pipi kiri agam, mata dinda memerah, rahangnya mengerass. namum satu sisi ia sedang menahan malu. bisa bisa ia menikmati pelukan mantan suaminya itu.


"laki laki brengsekk... jaangan menyentuh ku." geram dindaa.


lift pun terbuka, dinda langsung berlari keluar. air matanya sudah menetes mengalir deras membasahi pipinya. ia masuk ke dalam toilet dan menangis sejadi jadinya.


"aku tidak boleh terbuai dengan kata katanya lagii.. dia suami orang, aku haruss mencari pekerjaan baru segera.. aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2