
...Jangan lupa like and vote...
...π·π·π·π·π·π·...
...ββββ...
πhappy readingπ
2 minggu sudah Dinda berada di Jerman, gips di kakinya sudah di lepas oleh dokter beberapa hari lalu, kini ia bisa berjalan dengan normazl lagi tampa mengunakan tongkat. Dokter yang menangani kakinya sangat hebat, kakinya pulih dalam waktu cepat.
kakinya sudah pulih, Dinda mulai berolahraga joging. ia berlari kecil memutari halaman depan rumah yang sangat luass.. berat badannya naik berapa kilo, ia harus menurunka ke angka normal lagi.
tanpa di sadarinya Agam sejak tadi memperhatikannya dari atas balkong. Agam meninggalkan balkon dan turun kebawa dan menghampiri Dinda.
Dinda melakukan pemanasan dulu sebelum lari, ia belum menyadari Agam berada di belakangnya.
"apa kau gila berolahraga seperti itu, sementara kakimu baru saja sembuh." omel Agam.
suara Agam mengangetkannya, hampir saja ia melompat sakiing kagetnya. Dinda membalikkan badannya dengan wajah kesal.
"Apa sih mass, ngagetin aja... mass mau bikin aku jantungan, teruss aku mati muda gituu.." balass Dinda juga mengomeli Agam bibirnya sudah manyun ke depan.
__ADS_1
wajah Agam yang terlihat kesal berubah piass, mendapatkan omelan balik oleh wanitanya. mengapa Dinda semakin galak saja?? padahal waktu menjadi istrinya Dinda tidak pernah melawan...
"maaf mass gak bermaksud begitu."
"terus kenapa mas tiba tiba ada di belakang aku, mass sengaja kan buat aku kagett.." sembur Dindaa dengan kesal.
"mass gak bermaksud gitu sayangg.. tadi mass lihat dari atas kamu olahraga, mass kesini mau ngelarang kamu olahraga dulu. kaki kamu kan belum sembuh." ucap Agam dengan suara lembut, berbeda dengan tadi.
"ini kaki aku mass, aku bisa ngerasainn kaki ku baik baik saja. kalau kakiku sakit, mana mungkin aku olahraga mass.." Ucap Dinda. "kalau aku gak olahraga lagi, bisa bisa makin melar aku mass... coba lihat." Dinda menunjuk pipinya. "pipiku sudah seperti bakpau. dan ini." Dinda memperlihat kann lengannya yang berlemak. "liatt mas lemakku. aku semakin gendut mass. kalau gak olahraga bisa bisa badan aku makin melarr."
"mass gak peduli kok kamu gemuk sayang, mass tetap cinta." goda Agam menyentuh pipi Dinda. "malah mass suka pipi gembul mu ini.. kamu makin gemess." kata gembul seharusnya Agam tidak mengucapkannya. Jangan di tanya lagi raut wajah Dinda seperti apa. wajah Dinda memerah, bibirnya semakin manyun ke depan. bukannya menyeramkan malah semakin mengemasskan.
"yaa...!! sayangg..." jawab Agam tidak menyadari Dinda semakin kesal. ia mengira Dinda senang di katain gembul olehnya.
"mass jahatt." sungut Dinda lalu pergi meninggalkann Agam dan masuk ke dalam rumah.
"ehhh loh kok maraah." gumam Agam bingung dengan Dinda yang semakin marah. Agam pun mengejar Dinda masuk ke dalam rumah.
ia melihat Dinda tengah di peluk oleh mama Sinta. Dinda menangis segukan di dalam pelukann mamanya. melihat kedatangan Agam, mama sinta langsung menatap tajam arah anaknya itu.
glekk
__ADS_1
melihat tatapan mama nya. perasaannya langsung tidak enak..
"mama...!! masaa masss Agam ngatai Aku gembul." keluh Dinda terisak isak.
Apakah ada yang salah dengan kata gembul?? mengapa Dinda sangat marah di katai hal seperti itu.?? Agam semakin bingung di buatnya.
"sayangg.." panggil Agam.
"kamu yah Gam, keterlaluan. Dinda udah nerima kamu, bukannya di buat bahagia malah bikin dia nangis lagi." omel mama Sinta. "apa maksud kamu ngatai Dinda gembul... apa kau tau kata gembul adalah kata hinaan untuk kami kaum perempuan." lanjut mama sinta.
" aku gak tau itu maa..." Agam mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
mengapa jadi seperti ini?? niatnya ingin menegur Dinda yang berolahraga kenapa jadi dia yang di omelin.
"sabar... wanita memang selalu benar.. kita sebagai lelaki selalu salah di mata mereka." bisik papa Hermawan.
"paa...!" tegur mama Sinta.
"mama denger ya."
bersambung
__ADS_1