Sang Mantan Istri

Sang Mantan Istri
Pengumuman


__ADS_3

...jangan lupa like and vote...


...๐Ÿต๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿต...


...๐ŸŒน๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐ŸŒน...


โ˜˜happy readingโ˜˜


Dinda langsung masuk kedalam mobil Agam, nafasnya naik turun. Dinda menurunkan suhu Ac, ia keringatan karna berlari menghindari pertanyaan Alysia.


bukannya tidak ingin mengatakannya pada Alysia, tapi ia tidak tau bagaimana mengatakannya pada sahabatnya itu tentang masalalunya.


"kamu kenapa keringatan gitu, abis lari maraton??" goda Agam.


Dinda mengatur nafasnya dulu, sudah lama dirinya tidak berolahraga. lari sedikit ia sudah ngos ngosan.


"apa sih kamu masss, nyebelinnya kumat." sembur Dinda. "sepertinya minggu nanti aku harus nge gjm deh mass... lari dikit ku udah ngos ngosan gini, sepertinya lemak di tubuhku mulai banyak." ucapnya kemudian.


Dinda mengambil bedak dan lipstik di tasnya dan kemudian merapikan make upnya.


"lemak apanya, kamu kurus gitu." cibir Agam.


"ihhh kurus apaa mass." bantah Dinda, menoleh pada Agam yang sedang menyetir. "coba lihat pipi aku mas, mulai cabi lagi." Dinda mendekatkan wajahnya pada Agam dan menunjuk pipinya yang mulai tembem.


Cup

__ADS_1


tiba tiba Agam mencium pipi Dinda sekilas dan kembali fokus ke arah depannya.


Dinda melongo dan menyentuh pipinya, bibir Agam masih terasa di pipinya. pipinya mulai memerah merona, sudut bibirnya sedikit terangkat. hatinya berbunga-bunga, namun ia harus menahan rasa itu.


"mass... jangan cium cium kita kan belum nikah." protes Dinda pura pura kesal.


"ya udah, kita ke KUA aja sekarang." godanya lagi. "kalau nikah, bisa cium kamu setiap saat." sambung kemudian.


"ihhh dasar mesum." Dinda memukul sekali lengan Agam.


"mesum sama istri sendiri kan gak apa apa. malah dapat pahala kan." ucap Agam sembari tersenyum. "udah tiga tahun 7 bulan aku puasanya lohh sayang." Ucapnya lagi dengan wajah sendu.


"ihhhh masss... apa apaan sih, ngomong kayak gitu." Dinda memalingkan wajahnya kearah jendela dengan bibir manyun. Bulu kuduknya berdiri mengingat adegan ranjangnya dulu dengan Agam. ia ingat, bagaimana buasnya Agam.


sementara Agam tertawa kecil, entah mengapa mengoda Dinda sangat menyenangkan baginya. terutama saat Dinda memanyun kan bibirnya, dia terlihat sangat mengemaskan.


Beberapa saat kemudian.


Mereka pun sampai di kantor, Semua karyawan menyambut kedatangan Agam dan juga Dinda.


tangan Agam terus mengengam erat tangan Dinda, awalnya Dinda merasa risih dan malu dengan karyawan lain. tapi sekarang ia sudah mulai terbiasa.


ia tau beberapa karyawan tidak suka ia bersama dengan Agam. tapi ia masa bodo, ia tidak peduli pada mereka yang tidak menyukai hubungannya dengan Agam.


saat akan berjalan ke lift tiba tiba Agam menghentikan langkahnya. membuat Dinda bingung dan menatap wajah Agam.

__ADS_1


"mass... kenapa berhenti?? lift udah buka." tanya Dinda.


"sebentar." jawab Agam singkat. pandangan Agam beralih pada karyawan karyawannya. "perhatian semua, ada sebuah pengumuman yang harus saya sampaikan pada kalian." Para karyawan yang tadi menundduk hormat, memberanikan mengangkat wajahnya ke depan melihat presdir.


"2 bulan lagi Aku dan Adinda putri kami akan menikah. semua karyawan serta ob, kalian harus menghadirinya." ucap Agam.


Dinda kaget, Ia tidak menyangka akan mengumumkan pada karyawan secepat ini.


"mass." panggilnya pelan..


Agam menoleh padanya dan kemudian tersenyum.


"ayo." Agam mengengam kembali tangan Dinda dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift.


sementara karyawan karyawan berhaburan, dan langsung heboh dengan pengumuman dari presdirnya itu.


"*wahh, Dinda hebat yah akan nikah dengan tuan Agam." ucap karyawan A irih.


"Dinda dan tuan Agam pasti jadi pasangan serasi. Tuan Agam tampan dan Dinda cantik." timpal karyawan B ikut senang.


"kamu lihat cincin di jari Dinda, aku yakin itu pemberian dari Tuan Agam." timpal Karyawan C.


"ia ia aku tadi lihat. Cincinnya pasti mahal banget, berlian merah gitu." puji Karyawan B.


"harapan aku udah gak ada dong." Karyawan A frustasi dengan wajah sendu*.

__ADS_1


...bersambung...


__ADS_2