
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, VOTE DAN JUGA KALAU SUKA CERITA NYA DI JADIIN FAVORIT YAH.....
KOMENTAR NYA JUGA, AGAR AUTHORNYA SEMANGAT NULISNYA.
TERIMA KASIH
...................
Di pagi hari perlahan mata indah dinda terbuka saat matahari sudah bersinar di langit. Saat mencoba bangun, perutnya terasa berat, ia mengarahkan tatapannya keperutnya ada sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
Dinda mencoba membalikkan badannya, ia melihat suaminya masih tertidur pulas, badannya hanya tertutupi oleh selimut begitu juga dengan tubuhnya. Ia kembali mengingat kejadian semalam.
Agam telah mengambil hakny sebagai suami. Dinda terus menatap wajah tampan milik suaminya. Ia tersenyum bangga karena telah memberikan paling berharga pada dirinya untuk suaminya.
Seketika wajah dinda berubah memucat saat mengingat kejadian semalam kemungkinan akan membuatnya hamil.
"Kemarin mass agam gak pakai pengaman kan??" Gumamnya kawatir..
Jika hamil, pernikahan mereka belum di ketahui banyak orang. Mertuanya sudah merencana kan merayakan resepsi pernikahaan mereka. Namun dinda belum siap, orang orang mengetahui dirinya telah menikah. Ia meminta menundanya dulu.
Dinda yang ke takutan akan hamil langsung membangun kan suaminya, menguncang guncang badannya.
"Mass... bangun mass..." teriaknya.
Merasakan sesuatu menganggunya agam mulai mengeliat dan perlahan membuka matanya. Ia langsung tersenyum melihat wajah istrinya.
__ADS_1
"Ada apa sayanggg? Apa kau mau lagi?" Tanya agam dengan suara parau khas bangun tidur.
"Ihhh masss mesummm..." dinda kesal memukul bahu suaminya.
"Auuu....!" Jerit àgam mengusap bahunya. "Kokk di pukul sih sayangg." Keluhnya.
Dinda mengerucutkan bibirnya kedepan, ia semakin kesal. "Mass... semalam kita sudah melakukannya... apa aku akan segera hamil??" Tanya nya langsung tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Hamiillll...!" Agam tersenyum lagi. Tangannya mengusap perut dinda dengan lembut. "Aku harap benih benih nya langsung jadi."
Tangan dinda memukul keras tangan agam di perutnya, ia semakin kesal dengan perkataan suaminya. Hingga agam menarik tangann nya lagi dan mengelus merasakan nyeri akibat pukulan dari istri kecilnya itu.
"Siap gak siap kamu harus hamil... kamu kan sudah jadi istri, engak apa apa kan kalau hamil. Mama papa juga udah pengen banget punya cucu." Ucap agam dengan lembut tangannya merapikan rambut dinda.
"A aku takut mass..."
"Takut kenapa?"
Dinda terdiam lama, ia membalikkan badannya berbaring terlentang tatapannya mengarah ke langit langit kamarnya.
"Kata orang melahirkan sakit mass.. sampai sampai mempertaruhkan nyawa. Aku takut akan hal itu."
Agam tersenyum kecil meraih tangan istrinya dan mengenggamnya.
__ADS_1
"Aku akan selalu menemani mu sayang.. kalau perlu kamu bisa mengigit tangann ku saat kamu kesakitan melahirkan anak kita." Tangan agam menarik dinda menghadap arahnya.
Wajah dinda kembali memucat saat suaminya mengesek gesekan benda keras di bagian i****. Ia tau suaminya akan melakukan hal itu.
"Mass mau ngapain??"
Kali ini agam memperlihatkan senyum nakalnya. Saat bangun sih boy juga ikutan bangun karna melihat badan istrinya hanya di tutupi selimut.
"Mau Buka kemasan." Jawabnya.
Dinda menahan wajah agam yang akan mencium. "A aku gak mau mass... semalam mas udah ngelakuin nya banyak kali. Ini ku masih perih banget." Tolaknya dengan tegas.
Agam tidak mengenal capek melakukannya.. andai dinda tidak merengek untuk tidur agam pasti akan melakukannya sampai pagi..
"Sebentar saja sayang... aku akan melakukannya dengan pelan." Bujuk agam.
Belum dinda menjawab agam sudah menerkam nya tanpa ampun. Kamar itu pun di penuhi suara ******* mereka. Dinda merasakan kenikmatan yang tidak bisa di ungkap dengan kata kata.
Agam begitu pintàr melakukan hal itu, agam melakukannya dengan lembut. Keringat mereka sudah bercampur jadi satu.
Yang kata nya sebentar, kini sudah sejam agam baru pelepasan. Agam menjatuhkan badannya di samping dinda.
"Katanya bentar." Sindiri dinda dengan bibir manyun.
"Abisss enak sayang..."
__ADS_1