
...Jangan lupa like and vote...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...⚘⚘⚘⚘...
🌺happy reading🌺
Agam dan Dinda tiba di kantor, saat di lobby utama. karyawan memberikan hormat pada Agam dan Dinda. Dinda merasa risih di perlakukan seperti itu. Dinda melihat Cika dan Natasya, ia ingin menghampiri nya. namun Agam memengang erat tangannya.
"mass lepassin dong, aku mau samperin cika dan Natasya." bisik Dinda.
"nanti sajaa." ucap Agam.
Dinda mengendus kesal memayunkan bibirnya. tatapannya terus tertuju pada ke dua sahabatnya yang tengah menudduk hormat sama dengan karyawan lain.
"pengen peluk mereka, mass Agam benar benar menyebalkan." gerutu Dinda dalam hati.
pintu lift terbuka, Agam dan Dinda masuk ke dalam lift. mereka terus bergandengan tangan.
Di dalam lift Dinda akan menekan tombol ke lantai tempat ia bekerja.
"mass...!" pekik Dinda saat akan menekan tombolnya. Agam menekan tombol ke lantai ruangan kerjanya.
"mulai hari ini, kamu adalah sekretaris ku.." ucap Agam.
"what...! sekretarisss." pekik Dinda matanya langsung melotot. " gak ahh masss, aku gak mauu. aku mau kerja di tempat aku dulu. aku gak mau jadi sekretaris kamu mas." tolak Dinda mentah mentah, Dinda menarik tangannya dan melipat di dadanya.
"sayang..." panggil Agam dengan suara lembut. "cobalah mengerti, kita sudah berpisah selama tiga tahun. berat rasanya harus berjauhan dengan mu. aku ingin terus dekat dengan mu." bujuk Agam sembari mengelus kepala Dinda.
Dinda menghela nafasnya dengan berat. dengan terpaksa menerimanya menjadi sekretaris Agam.
..........
jam makan siang.
Diam diam Dinda meninggalkan meja kerjanya dan menuju kantin, ia sudah buat janji dengan kedua sahabatnya.
__ADS_1
sampai di kantin, ia merasa risih dengan sikap karyawan lain padanya.. mereka menundukk hormat seakan akan ia adalah Agam presdir perusahaan ini.
Melihat Natasya dan chika duduk di sudut kantin, ia melangkah cepat menghampiri kedua sahabatnya.
"ehhh adaa nyonya presdir." goda Natasyaa melihat kedatangan Dinda.
"apa sih." sembur Dinda dengan wajah kesal. ia pun duduk di tengah tengah ke dua sahabatnya itu.
"emang nyonya presdir." timpal Chika tertawa kecil.
"siapa nyonya presdirr sihh?? ngacoo." omel Dinda semakin kesal.
"emang belum jadi nyonya tapi bentar lagi jadi nyonya tuan Agam kan." Ucap Natasya terus mengoda Dinda.
"Diemm...! di sini aku mau makan, mau lepas rindu dengan kalian. tapi rupanya kalian bikin aku kesal." geram Dinda. Dinda memanggil pelayan dan memesan makanan.
"kami beruntung punya sahabat kayak kamu Din, gara gara kamu jadian sama tuan Agam kita jadi naik jabatan." celetuk Chika.
Dinda yang sedang makan, langsung tersedak mendngar perkataan Chika. Natasya segera mengambil air putih pada Dinda dan menepuk nepuk pundaknya.
"what... kalian naik jabatan." pekik Dinda.
Dinda yang tadinya kesal, jadi senang. rupa rupanya menjadi kekasih Agam membuat ke dua sahabatnya naik jabatan. Natasya menjadi wakil manajer ke pemasaran. sedangkan Chika wakil manger ke uangan mengantikan Nindy yang sudah di pecat dann kini berada dalam penjara bersama ke dua wanita yang mencelakai Dinda sebulan lalu.
drtttt
ponselnya berdering, terlihat nama mas Agam di layar ponselnya. segera Dinda menekan tombol icon hijau di layaranya dan kemudian menempelkan di telinganya.
"Ada apa mass???".
"......."
"Aku lagi di kantin mass, bareng natasya dan chika."
"......"
"Aku laper banget mass, makanya aku ke kantin duluan.. nih aku beliin mas juga makanan kok.."
__ADS_1
Dinda mematikan telponnya secara sepihak ia kembali kesal. mengapa Agam jadi posesif gini sih padanya. Agam marah marah padanya di telpon. karna ia ke kantin sendiri tanpa meminta ijin padanya. Agam takut Dinda bakalan di goda oleh karyawannya.
"aku balik duluann yah." Dinda mengambil kresek berisi makanan untuk Agam. "Rahwana udah marah marah." keluhnya lalu berdiri.
"Rahwna??" Ucap Natasya dan Chika bersamaan dengan wajah bingung.
"Mas Agam." jawab Dinda dan kemudian pergi dengan berjalan cepat.
.........
di ruangan Agam.
Dinda masuk tanpa mengetuk pintu.
"ada apa sih mass marah marah gitu, emang salah kalau aku pergi makan dengan Natasya dan chika." omel Dinda baru depan pintu, ia kemudian berjalan menghentakk hentakkan kakinya dengan kasar.
Agam menghela nafasnya... seharusnya ia yang marah pada Dinda yang pergi tanpa izinnya.
"sayang." panggil Agam dengan suara lembut.
Dinda duduk di kursi depan meja kerja Agam, makanan di belinya tadi di letakkan nya di atas meja.
"kenapa kamu makannya bareng teman teman kamu, trus mas gak di ajak." tanya Agam menahan kekesalannya.
"maaf mass, tadi aku mau ngajak mas makan ke kantin tapi tadi aku ngintip mas lagi sibuk banget makanya aku pergi duluan. mas gak usah marah marah gitu aku udah beliin mas makanan kok." gerutu Dinda.
"mas gak marah sayang." bantah Agam.
"sekarang gak marah tapi tadi di telpon." jawab Dinda ketus. DInda membuka box makanan di belinya tadi. "mas makan dulu." Dinda menyerahkan box makanan pada Agam.
"suapin dong sayang." pinta Agam dengan suara manja.
"ihhh manja banget sih."
"sama calon istri sendiri kan gak apa apa."
walau kesal dengan Agam, Dinda tetap menuruti permintaan Agam. Dinda dengan sabar menyuapi Agam hingga makanannya habis.
__ADS_1
BERSAMBUNG