
pukul 5 sore
sebagian karyawan sudah pulang. dinda, yang tidak fokus bekerja memutuskan untuk pulang. ia tidak memperdulikan ocehan seniornya karna pekerjaannya tidak di kerjakan oleh dinda.
ia malas berdebat dengan mereka yang seenaknya padanya. sekarang mereka harus lembur karna berkas berkasnya akan di berikan ke pak elang manager keuangan.
pekerjaan dinda sudah selesai, dinda bisa pulang cepat menjernihkan pikirannya yang sedang kacau. kepalanya sampai berdenyut denyut.
tibanya di lobby ia melihat langit sudah berubah jingaa, dan ada bagian awan gelap di atas sana. sepertinya hujan akan turun, segera dinda berjalan cepat menuju mobilnya. belum sampai di mobilnya hujan pun turun dengan deras nya, langsung membasahi pakaian yanh di pakainya.
hari ini benar benar sial. gerutunya dalam hati.
sesampai di mobil, ia kaget mendapati ban mobilnya bocor. mobil baru di pakai nya sebulan lalu.
"lohh kok bocorrr... ahhh ngeselin nih mobil." dinda menendang ban mobil saking kesalnya.
ia pun berlari kembali lobby dengan badan sudah basah kuyup, untuk berteduh. ia akan memesan taxi. soal mobilnya ia akan meninggalkannya di parkiran kantor, ia akan memanggil montir besok.
ia mengigil kedinginan, bibirnya sudah berubah kebiruan. dinda mengambil ponsel di tasnya dengan tangan gemetar. karna tangannya licin ponselnya terjatuh di lantai.
hari ini aku benar benar sial.
gerutunya dalam hati. ia mengambil ponselnya di lantai, malangnya nasibnya ponselnya mati. bagaimana ia bisa memesan taxi ponselnya mati..
tiba tiba seseorang memasangkan sebuah jas hitam dari belakang padanya, dinda kaget dan membalikkan badannya.
"mas agam..." lirih dinda.
__ADS_1
agam tersenyum, mendengar dinda memanggil nya dengan mass saat mereka menikah dulu.
beberapa detik kemudian dinda tersadar dan akan melepas jas agam dari tubuhnya, namun agam menahan tangannya.
"jangan di lepass... kau akan sakit karna kedinginan."
dinda memutar bola matanya dengan malas, dan wajah cemberut.
mobil BMW M8 Competition berhenti tepat di depan lobby.
"masuk ke mobil, aku akan mengantar mu pulang." ajak agam.
"aku tidak mau ikut dengan mu." tolak dinda ketus.
"aku akan mengendong mu, kalau kau tidak masuk kedalam mobilku." ancam agam.
"aku tidak mengancam mu, aku hanya tidak ingin kau sakit karna kedinginan. ayo masuk lah."
"aku tidak mau... lebih baik aku sakit dari pada harus satu mobil dengan suami orang. aku gak mau di katai pelakor yah." ucap dinda penuh penekanan.
pingggg
suara klakson mobil mengalihkan pandangan dinda, sebuah mobil sport hitam berhenti di depan mobil Agam. kaca mobilnya di turunkan, senyum dinda mengembang melihat pemilik mobil itu.
"bimaa..." pekik dindaa.
"cepetan masukk." titah bimaa.
__ADS_1
dinda kegirangan kedatangan bima. baginya bima adalah pahlawan baginya. ia bisa menghindari mantan suaminya. baru melangkah satu kali, tiba tiba agam mengendongnya ala bridal styl dan membawanya kedalam mobil.
"hey...!! apaa apa an kamu." dinda berontak memukul dada agam. "turun kan aku laki laki brengksek." agam tidak memperdulikannya. ia langsung memasukkan dinda kedalam mobilnya.
mungkin ini keterlaluan, ia tidak ingin dinda pulang bersama laki laki lain. ia juga akan menjelaskan pada dinda tentang tania. ia tidak ingin masalah berlarut larut dan melebar kemana mana.. ia harus menyelesaikan kesalah pahaman hari ini juga.
Agam pun masuk kedalam mobilnya. ia pun memberi tugas menahan bima agar tidak mengikutinya. dinda terus teriak di dalam mobil.
"kau laki laki brengsek yang pernah aku temuii.... turun kan sekaranggg."
"aku akan menurunkan mu saat kita tiba di rumah." ucap agam dengan santai.
"dasar laki laki menyebalkan, aku tidak ingin ikut dengan mu." teriak lagi dinda penuh amarah.
cup
agam sudah tidak tahan melihat bibir merah mantan istrinya itu. ia mengecupnya sekilasss..
dinda terdiam, mata sipitnya membesar menatap mantan suaminya itu.
beberapa detik terdiam, tiba tiba.
plakkk
dinda kembali menampar agam.
"dasar bajingan." geram dindaaa semakin kesal.
__ADS_1
...bersambung...