
...Jangan lupa like and vote...
...๐๐๐๐๐๐...
...๐ต๐ต๐ต...
๐ฎhappy reading๐ฎ
Bima geram melihat Dinda di seret kasar oleh Agam. Bima mengejar Dinda saat meraih tangan Dinda dan menariknya.
langkah Agam terhenti dan membalikkan badannya dengan wajah memerah marah. terlebih saat tangann Dinda di sentuh laki laki itu lagi.
"lepaskan tangan Dinda." ucap Bima sama geramnya dengan Agam.
"kau yang lepaskan tangan Dinda." balas Agam lalu maju mendorong kasar Bima.
Bima yang memiliki badan sedikit kurus terdorong sedikit kebelakang tangannya terlepas dari tangan Dinda.
"Bim.." lirih Dindaa. Dinda kemudian menatap kesal Agam. "masss kamu apa apaan sih." bentak Dinda.
ini yang dia tidak sukai oleh Agam. Agam tidak dapat mengontrol emosinya dan juga tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
"wahh... karna laki laki ini kau membentakku." murka Agam. ini kali pertama Dinda melihat Agam semaarah itu padanya. "kau sama saja dengan Tania, pengkhianat."
Mata Dinda memerah, ia sangat marah Agam menyebut wanita yang telah menghancurkan rumah tangga nya dulu.
"kau membandingkan aku dengan wanita itu." Geram Dinda. air matanya telah mengalir membasahi pipinya. "kamu keterlaluan mas." Dinda menghempas tangan Agam di pegelangan tangannya. "jangan menyamakan ku dengan penipu itu. wanita hina itu tidak bisa di bandingkan denganku." Suara Dinda meninggi.
wajah amarah Agam berubah pias ia merasa bersalah telah mengatakan itu pada Dinda.
"dan kau harus tahu, Laki laki yang kau kira selingkuhanku adalah Bima sahabatku. kami sudah bersahabat dari kami kecil, dan kau tidak berhak melarang dia untuk bertemu dengan ku." Ucap Dinda penuh penekanan.
__ADS_1
Dinda kemudian kembali ke meja tadi dan mengambil tasnya. dan kemudian berlari pergi.
ia sakit hati Agam mengatakan hal itu padanya.
Agam yang merasa bersalah akan mengejar Dinda, namun Bima menghalanginya.
"jangan mengejarnya, biarkan dia sendiri." ucap Bima dengan ketus.
"siapa kau, berani sekali kau mengaturku." jawab Agam dingin.
"aku sahabat Dinda. aku adalah orang yang paling tau tentangnya. jika kau ingin mengejarnya ia tidak akan memperdulikan mu, biarkan ia sendiri dulu. sampai amarahnya reda." ucap Bima dan kemudian melangkah pergi.
..................
beberapa hari kemudian
sudah hampir seminggu Dinda tidak masuk kerja. ia masih kesal dengan Agam. ia tidak mau bertemu Agam dulu.
Dinda duduk termenung di kamarnya. tiba tiba ponselnya bunyi.
drttt
pandangan Dinda teralihkan di ponselnya yang berada di meja riasnya. Dinda mengambilnya.
"alysia."
gumam Dinda melihat nama tertera di layar ponselnya.
Segera Dinda menyentuh ikon hijau, namun sebelumnya ia mengusap air mata di pipinya dan menghela nafasnya.
"*halo caa."
__ADS_1
"Din, kamu sekarang dimanaa?? bisa jemput aku di bandara.. sekarang aku di bandara dengan Alya." ucap Alsyia di telpon.
"ha...! kamu di bandara." pekik Dinda. "kok kamu pulang ngak ngabarin dulu sih." gerutu Dinda.
"aku sengaja, biar kejutan." jawab Alysia.
"mmm...!! kamu bener bener yahh.. tungguin aku kalau gitu aku ganti baju dulu." Ucap Dinda.
"ia aku tunggu... tapi jangan lama lama yah." jawab alysia*.
panggilan pun berakhir.
Dinda langsunng menganti baju dengan Dres pink panjang selutut tanpa lengan. dengan ikat pinggang bentuk pita melingkar di perutnya. Dinda terlihat sangat feminim di tambah dengan rambut di biarkan terurai.
Setelah siap, Dinda mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Ia melangkah buru buru hingga sampai di dekat mobilnya.
belum masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman rumahnya, seseoranng memanggi namanya.
"Dinda." suara yang tidak asing di telinganya, Dinda membalikkan badannya. wajahnya langsung berubah masam melihat orang yang sangat di kenalnya telah berdiri di hadapnnya.
"ngapain kamu kesini??"
**bersambung
Bagi votenya yahhh para readerss maniss semanis diriku.
wkwkwkwwww
terima kasih telah membacaaa...
mohon maaf yah lama nunggu upnya**
__ADS_1