
...Jangan lupa like and vote...
...🏵🏵🏵🏵🏵🏵...
...💮💮💮💮...
🌸happy reading🌸
setelah sarapan bersama, Agam dan Dinda berangkat bersama ke kantor. Sampainya di kantor, mereka ketempatnya masing masing. Agam masuk kedalam ruangannya sedangkan tempat Dinda berada di depan ruangan Agam sebagai sekretarisnya.
Dinda langsung mengerjakan beberapa berkas di meja kerjaanya. Setelah selesai, Dinda merapikannya dan akan ke ruangan Agam meminta tanda tangannya.
tok
tok
"masuk."
Dinda pun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan dan berhenti di samping meja kerja Agam.
"mass... tolong tanda tangan." Dinda menyerahkan beberpaa map pada Agam.
bukannya mengambil map nya Agam menarik tangan Dinda, Dinda yang kaget dan tidak dapat menahan tubuhnya. Dinda pun terjatuh duduk di paha Agam.
__ADS_1
"masss." pekik Dinda dengan mata melotot menatap Wajah Agam yang hanya beberapa senti dengan wajahnya.
Agam tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.
"sayang...!! apa boleh, pernikahan kita di majukan.. sungguh aku tidak bisa menunggu 5 bulan lagi... 5 bulan sangatlah lama, aku sudah ingin memiliki mu seutuhnya." pinta Agam.
Wajah yang tadi terlihat kesal berubah pias mendengar permintaan Agam yang menginginkan pernikahan mereka di majukan. Dinda memutar bola matanya dengan malas, dan menghela nafasnya.
"5 bulan gak lama kok mass.. sabar sajaa."
Dinda merasa belum siap harus menikah buru buru. ia harus mempersiapkan dirinya matang matang. terlebih menghilangkan rasa trauma akan kegagalannya dulu.
"tapi aku sudah gak tahan lagi sayangg... aku tidak bisa berjauhan dari mu."
cup
"mas." Dinda menyentuh bibirnya, pipinya memerah merona. "ihhh apa sih cium cium." Dinda memukul pelan bahu Agam. "sudahh, sudah lepaskan aku.. pekerjaan ku masih banyak. dan sebentar lagi jam makan siang, aku sudah janjian makan siang bersama dengan ica dan kak Andra." ucap Dinda berontak pelan.
Mendengar nama Andra, Agam menaikkan satu Alisnya.
"siapa Andra??" tanya Agam menyipitkan matanya..
"lepasin aku dulu dong." pinta Dinda merasa tidak nyaman berada dipangkuan Agam. terlebih saat merasakan sesuatu yang keras di bawa sana. semakin membuatnya tak nyaman.
__ADS_1
"bilang dulu siapa Andra." Agam Menyudutkan Dinda.
Dinda menghela nafasnya dengan berat. "teman aku." jawab Dinda mengalah. "apa kau ingat 3 tahun lalu laki laki yang telah kau pukul."
Agam mencoba mengingat tiga tahun lalu, laki laki yanh pernah di pukulinya.
"saat kau masih bersama mantan kamu tuh." Sindir Dinda menatap sinis dirinya. "apa kau lupa, pada malam terakhir kita bertemu dulu." Dinda mencoba mengingat.
"Laki laki yang mengantar mu pulang saat malam itu." Agam sudah mengingatnya.
Dinda mengangguk dengan wajah datar. "yaa, namanya kak Andra.." jawabnya. "semalam dia datang kerumah dan mengajakku makan siang nanti." ucap Dinda.
Agam menyipitkn matanya, wajahnya memerah menahan marah. "laki laki itu datang kerumah mu semalam??" tanya Agam penuh penekanan.
"iaaa maass..." jawab Dinda juga penuh penekanan. "tapi aku ngajak ica dan Alya makan siang bersama kok mass. kalau mas mau ikut juga boleh, mass kan bisa kenal kak Andra. sempat bisa jadi teman akrab. kak Andra juga pengusaha seperti mas." ucap Dinda dengan santai tidak menyadari ucapannya itu semakin membuat Agam kesal.
Agam Mencoba menahan amarahnya, tidak ingin membuat Dinda tersinggung dan akhirnya bertengkar lagi seperti kemarin kemarin.
"apa kau lupa siang nanti ada meeting di hotel golden." Agam mengingatkan jadwal meetingnya dengan client saat makan siang nanti.
"haaa meeting." pekik Dinda. Dinda menepuk jidatnya karna ia lupa dengan jadwal yang seharusnya dirinya lah yang mengingatkan bukan lah Agam. "maaf mass aku lupa..."
**bersambung.
__ADS_1
maaf yah upnya lama...
entah mengapa ku gak semangat nulisnya**.