Sang Mantan Istri

Sang Mantan Istri
Rumah sakit


__ADS_3

...**JANGAN LUPA LIKE AND VOTE...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...⚘⚘⚘...


🌺happy reading🌺


Agam menurunkan Dinda di kursi meja makan, wajah Dinda masih terlihat cemberut. Di dalam lift, Dinda meminta Agam menurunkannya. ia akan berjalan mengunakan tongkat yang di bawahnya saja. ia tidak mau di lihat oleh orang tua Agam saat Agam mengendongnya. Namun Agam tidak menurunkannya, ia tetap membawanya ke ruang makan.


"selamat pagi putri mama." sapa mama Sinta senang. tiga tahun belakangan ini, ini kali pertamanya ia merasakan sehat di tubuhnya. perpisahaan Agam dan Dinda membuat kesehatannya menurun. Namun sekarang Dinda telah kembali dan segera akan menjadi menantunya lagi.


"selamat pagi ma." balas Dinda berusaha untuk tersenyum.


"mau makan apa sayang??" tanya mama Sinta.


"roti ajaa maa, sama selai kacang." mama sinta mengambilkan roti dan mengolesi dengan selai kacang dan memberikannya dengan Dinda, ia juga menuangkan susu putih di gelas Dinda.


"untuk aku mana maaa??" tanya Agam dengan wajah memelass, berharap mamanya mengambilkan sarapan untuknya.


"ambil sendiri saja sanaa, jadi laki laki kok manjaa." ucap Mama Sinta ketusss.

__ADS_1


Agam mengendus kesal. Apa dia mama kandungg?? mengapa seperti ibu tiri saja. pikir Agam melihat mamanya sangat memanjakan Dinda. rasa kesalnya tidak bertahan lama saat melihat senyum terpancar ke dua wanita yang sangat di cintainya itu.


tawa Dinda dan mama Sinta terdengar di ruang makan itu. papa Hermawan hanya fokus membaca koran dan sesekali meminum kopi yang sudah tersedia di depannya. sesekali melirik ke dua wanita itu, yang terus saja berbicara.


"Gam... nanti kamu bawa Dinda ke rumah sakit xxxxx yahh untuk periksakan kakinya yahh.. dokter di sana hebat hebat semua, mama yakin kaki Dinda akan cepat sembuh di tangani oleh dokter rumah sakit itu." ucap Mama Sinta.


"ia maa... semalam Aku udah buat Janji doket Robert." jawab Agam.


"ahhhh....!! hari ini ke dokterr? besok besok sajaa lah mass.." pekik Dinda lalu menolaknya.


"kenapa sayangg... semakin cepat kamu ke dokter kan semakin cepat juga kaki kamu sembuh." Tukass mama Sinta.


"bukankah mass Agam harus ke kantor." Dinda melirik Agam yang duduk di sebelahnya.


dua jam kemudian Agam membawa Dinda ke rumah sakit terbaik di Jerman. Gips Dinda di ganti yang baru oleh dokter sana. dokter juga memberikan suntikan obat Ke tubuh Dinda. setelah itu mereka pun meninggalkan rumah sakit.


"mass kita jalan yuk." pinta Dinda dengan suara manja.


"mmm...! mau kemana sayang..?" tanya Agam yang tengah fokus menyetir.


"kemanaa aja maasss..."

__ADS_1


"mau ke taman grunewald???" saran Agamm.


"terserah mass sajaaa. yang penting kita jalann jalan.."


Agam mengangguk pelan dan kemudian ia melajukannya menuku Grunewald sebuah taman. Grunewald adalah sebuah taman kota yang sangat hijau dan asri di Berlin. Dibangun di atas area seluas 3000 hektar, taman ini terletak di sisi barat Berlin dan dipisahkan oleh Sungai Havel.


Mereka pun sampai Grunewald, Dinda sangat senang melihat taman itu. ia dibuat terkagum-kagum oleh hijaunya rerimbunan pohon yang ditata sedemikian rapi namun tetap menimbulkan kesan alami. Selain rimbun oleh pepohonan, area itu juga dipenuhi arena terbuka publik yang bisa dimanfaatkan untuk berolahraga, berpiknik bersama keluarga atau sahabat, arena bermain anak, dan bahkan pertunjukan seni dan budaya jalanan.


"apa kau suka?? tanya Agam sedang membantu Dinda berjalan menggunakan tongkatnya.


"suka banget mass... mass kita duduk di sanaa yuk??" tunjuk Dinda sebuah kursi panjang mengarah ke sungai yang sangat indah. Agam mengangguk.


kini mereka tengah duduk sambil memandangi sungai di depannya. dan juga pemandang indah di sekitar mereka, Dinda begitu sangat senang berada di tempat itu..


banyak anak anak juga bermain di tempat itu, tanpa sengaja Dinnda melihat anak balita berusia mungkin dua tahun kejar kejara dengan ke dua orang tuannya. balita itu sangatlah cantik, memiliki pipi gembul.


"andaii anak kita gak pergi yah mass, mungkin anak kita sudah sebesar anak itu." Agam mengarah kan pandangannya ke arah Dinda menatap.


Agam membawa Dinda ke dalam pelukannya. jika mengingat hal itu, ia merasa amat bersalah, karna mendatangi Tania, ia kehilangan anaknya.


"suatu saat kita akan memiliki nya."

__ADS_1


...bersambung...


__ADS_2