
...jangan lupa like and vote...
...๐ต๐ต๐ต๐ต๐ต๐ต...
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
๐ฎhappy reading๐ฎ
"sayang... maafkan aku." ucap Agam dengan raut wajah sedih. ia merasa bersalah, atas penghinaannya waktu lalu. Agam mencoba meraih tangan Dinda.
Namun Dinda yang masih kesal, menepis tangan Agam dengan kasar dan kemudian memalingkan wajahnya dengan bibir manyun. ia masih ingat jelas perkataan Agam beberapa hari lalu yang menyamakannya dengan Tania.
"Sayang." Panggil Agam dengan wajah memelass. "jangan seperti ini, kau boleh menghukumku tapi ku mohon jangan mendiamkan ku dan menghindariku seperti ini. lebih baik kau menghina atau memukul ku saja.. aku tersiksa sayangg kau memperlakukan ku seperti ini." ucap Agam.
Dinda menatap Agam, wajahnya masih terlihat kesal. "sudah ngomongnya." ucap Dinda ketus. "udah yahh... aku haruss pergi, aku ada urusan penting." Dinda menatap sejenak jam di pegelangan tangannya.
"kau mau kemanaa?? aku akan mengantarmu." Tawar Agam dengan wajah masih memelass.
"gak usahh, aku bisa pergi sendiri." tolak Dinda sambil menaikkan dagunya. "pergi sanaa, jangan temui aku dulu... aku masih kesal dengan mu." Usir Dinda dengan dingin.
"sayanggg... aku sangat merindukan mu." Agam memohon.
"sudahlah kalau kamu mau tetap di sini." ucap Dinda dengan malass. Dinda kemudian membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil.
"sayanggg... kamu mau kemanaa?? biar aku mengantar mu." Bujuk Agam dengan nada frustasi.
"ke bandara." jawab Dinda.
__ADS_1
"Bandara..." pekik Agam lalu menahan pintu mobil yang akan di tutup di tutup Dinda. "kau akan meninggalkanku lagi..??" Agam mengira Dinda akan pergi keluar negri lagi.
Dinda menghela nafasnya dengan kasar. "aku ke bandara mau jemput Ica sahabat aku. mass berharap yah aku ke luar negri lagi." Dinda terlihat semakin kesal.
"bukan seperti itu sayang."
Dinda mendorong pelan Agam. "udah dehh mass pergi sana, mas buat aku makin kesal." Dinda menutup kasar pintu mobilnya, lalu melajukan mobilnya.
"sayang..." Agam mengetuk getuk kaca mobil Dinda namun Dinda tidak memperdulikannya.
mobilnya pun melaju dengan kencang meninggalkannya.
Agam berdiri di depan pagar rumah Dinda, ia terlihat sangat frustasi dan juga merasa bersalah dengan yang di lakukan pada Dinda beberapa hari lalu.
.........
Alsyia dan Alya telah menunggunya di depan pintu Bandara.
Dinda langsung turun dari mobilnya, Alysia melihat Dinda menghampiri Dinda dan memeluknya.
"maaf yah Din repotin kamu." Ucap Alysia.
"gakk kokk.. kamu sama sekali gak ngerepotin aku." Ucap Dinda setelah alysia melepas pelukannya.
"heyy.. anak manisss..." Dinda mengalihkan pandangan nya ke Alya. Dinda sangat gemas dengan balita itu yang sudah berusia dua tahun lebih.
"Hay Aunty." balas Alya dengan suara cadel khas anak kecil.
__ADS_1
"ayo ke mobil." Dinda mengambil Koper Di tangan Alysia. dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.
"Biar aku saja Din."
"gak apa apa aku saja." tolak Dinda.
setelah memasukkan koper, mereka pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara.
"kita makan dulu yuk." ajak Dinda.
"ia Din.. kamu tau aja aku lagi lapar.."
"ia lah, kamu kan kayak aku. gak suka makan saat lagi di pesawat." Dinda melirik Alsyia dan tersenyum.
"makan bakso yuk Din.. sejak di sanaa aku gak pernah makan bakso.. kangen makan baksoo." usul Alysia..
"iaa." jawab Dinda. "bakso mass Udin mau gak??"
"mas Udin masih jualan??."
warung bakso mas Udin tempat langganan Dinda, Alysia dan Bima saat sma dulu.
"ia dongg.. malah warungnya makin rame sekarang."
"wajarlah rame, bakso mas Udin gak ada duanya.. baksonya enak banget bikin ketagihan terus makannya."
Mobil Dinda melaju menuju warung bakso dekat Sma nya dulu.
__ADS_1
bersambung