Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
22


__ADS_3

Setelah mengantar putranya ke sekolah, Melisa kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantor menggunakan sebuah taksi.


Hari ini dia sengaja tidak membawa mobil, karena hari ini adalah hari Sabtu dan dia cemas dia akan diajak lagi untuk pergi bersama-sama dengan orang kantor neng habiskan waktu sebelum kembali ke rumah, lalu dia merasa trauma dengan cara para perempuan di kantornya memperlakukan mobilnya.


Setelah tiba di kantor, Melisa langsung mengerjakan pekerjaannya, Tetapi beberapa saat kemudian tiba-tiba saja Dika yang baru saja kembali bertemu marsita kini menghampirinya sambil berkata, "kau disuruh pergi membuatkan kopi untuk CEO!"


"Ah, baik," Ucap Melisa yang merasa heran kenapa dia disuruh membuatkan kopi untuk pria itu, Namun karena hal tersebut adalah kesempatan yang baik maka Melisa pun dengan cepat berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya.


Baru saja Melisa pergi, Jessica langsung mengangkat wajahnya menatap Dika sambil berkata, "Kenapa Melisa disuruh membuatkan kopi untuk CEO kita?"


"Entahlah, tapi Kak marsita menyuruhku untuk memberitahu Melisa membuat kopi untuk CEO. Kalau kau penasaran, pergi saja temui kam marsita dan tanyakan padanya," ucap Dika yang jelas tahu bahwa perempuan bernama Jessica itu pastilah sedang cemburu pada Melisa.

__ADS_1


"Hah, Aku tidak percaya ini, kita semua sudah bertahun-tahun di sini tapi belum pernah ada satupun diantara kita yang disuruh membuat kopi untuk CEO, tapi Melisa yang baru saja datang langsung memiliki kesempatan untuk keluar masuk ruangan CEO?" Ucap Jessica dengan nada suara yang sangat kesal karena tentunya orang yang dekat dengan CEO memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk dipromosikan.


Sementara CEO mereka paling membenci seseorang yang tidak berkepentingan masuk ke dalam ruangannya, bahkan jika mereka memiliki pekerjaan yang perlu dikonsultasikan dengan CEO, mereka hanya bisa memberikannya pada marsita supaya perempuan itu yang mewakili mereka bertemu dengan CEO.


"Benar juga, semenjak Melisa datang, aku pikir CEO memberikan perhatian yang jauh lebih baik pada Melisa. Sekarang aku tiba-tiba merasa bahwa kedua orang itu mungkin saja memiliki hubungan, atau mungkin Melisa melakukan sesuatu untuk merayunya?" Ucap seorang perempuan yang lainnya.


"Hah,, kau benar, sebentar lagi posisi asistensi CEO akan ditentukan, tapi kenapa sekarang aku merasa bahwa percuma untuk berjuang karena kemungkinan besar melisalah yang akan menduduki posisi itu!"


Sedangkan Melisa yang saat ini berada di dapur, ia kembali memberikan bubuk pada minuman yang akan diantarkannya pada CEO, Lalu setelah itu, dia mengaduk minuman tersebut.


"CEO menyukai kopi buatanmu," tiba-tiba sebuah suara dari belakang membuat Melisa berbalik menatap orang yang datang yang ternyata adalah marsita.

__ADS_1


"Benarkah? Padahal saya hanya membuatnya sesuai yang Kak marsita perintahkan, tapi baguslah kalau CEO menyukainya," ucap Melisa sambil terus mengaduk kopinya sebelum dia meletakkan sendoknya.


Marsita yang memperhatikan itu kini mengerutkan keningnya, "kau tidak menggunakan mesin pembuat kopi?" Tanya marsita yang mana di tempat itu ada mesin pembuat kopi yang biasa digunakan untuk membuatkan kopi bagi CEO.


"Ah,," Melisa tersenyum, "Tentu saja aku menggunakan mesin pembuat kopi, tapi aku rasa gulanya terlalu sedikit jadi aku masih menambahkan sedikit gula," ucap Melisa sebelum dia mencuci sendok yang baru saja ia gunakan mengandung minuman CEO lalu meletakkannya di tempat sendok.


Setelah itu, Melisa pun meninggalkan dapur lalu pergi menuju ruangan CEO dengan marsita yang mengerutkan keningnya memperhatikan sendok yang baru saja diletakkan oleh Melisa.


'Gulanya kurang?' pikir marsita dalam hati, tetapi dia tidak terlalu lama memikirkannya dan hanya membuat kopi untuk dirinya sendiri.


😭😭😭 Bocoran bab berikutnya akan terbit di YouTube dengan #noveltoraja

__ADS_1


__ADS_2