
Cukup lama Melisa memeluk putranya, sampai akhirnya Melisa menyeka air matanya dan melepaskan pelukan mereka lalu dia menatap putranya, "Baiklah, ibu akan menceritakan semuanya padamu, tapi saat ini kita harus makan dulu. Nanti setelah sarapan baru kita berbicara lagi, sekarang pergi bersiap-siap!" Ucap Melisa pada putranya sebelum perempuan itu berdiri lalu pergi meninggalkan kamar putranya.
Fernando terdiam di tempatnya memandangi kepergian ibunya sebelum pria kecil itu turun Dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi, Fernando melihat pakaian yang ada di dalam lemarinya, semuanya dilipat dan digantung dengan sangat rapi.
Fernando terdiam beberapa saat memperhatikan semua pakaian dalam lemari sebelum Dia memutuskan untuk mengambil pakaian rumah yang berwarna serba kuning.
Setelah berganti pakaian, Fernando keluar dari kamarnya bertepatan dengan Melisa yang juga keluar dari kamar hingga Melisa cepat-cepat menghampiri putranya.
"Ayo sayang," kata Melisa segera memegang tangan putranya lalu mereka turun ke ruang makan untuk sarapan.
Sarapan pagi itu seperti biasa saja, saling berbincang-bincang tentang sesuatu yang akan dilakukan oleh setiap orang pada hari itu.
Mereka makan selama 30 menit sebelum semuanya bubar dari meja makan dengan Novia yang pergi mengantar suaminya yang mau pergi bekerja, sementara Melisa dan Fernando pergi bersama putranya ke arah taman untuk jalan-jalan.
__ADS_1
Taman mereka tidak terlalu luas, tapi di sana ada bunga-bunga yang ditata dengan rapi dan juga kolam ikan serta kursi yang disediakan di tengah-tengah kolam hingga Melisa dan putranya duduk di kursi tersebut.
Setelah duduk, Fernando langsung menatap ibunya dengan tatapan intensif, karena dia menunggu perempuan itu berbicara padanya.
Melisa juga menatap putranya, dan dia tahu pria kecil berusia 4 tahun lebih itu sudah tidak sabar lagi untuk mendengar ceritanya.
'Apakah ini hal yang baik untuk diceritakan pada anak kecil berusia 4 tahun?' pikir Melisa dalam hati dengan mata yang terasa panas dan perih hendak meneteskan air matanya.
Sebab itu, Melisa dengan cepat berbalik lalu dia mengalihkan tatapannya ke atas langit yang tampak cerah.
Melisa lalu berkata, "Ibu sangat takut akan melukai hatimu, Kau adalah Putra kecilku yang baru berusia 4 tahun, jadi ibu selalu berusaha untuk menjaga perasaanmu dan tidak melibatkanmu dalam masalah orang dewasa, tapi--"
Meski saat ini ia merasa lucu dengan ekspresi Putranya, tetapi Melisa berusaha menahan diri agar tidak tertawa di depan putranya karena dia tahu pria kecil itu sedang sangat serius.
"Sayang, Ibu tahu kau Putra ibu yang sangat jenius, kau bisa melakukan segala sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang dewasa. Ibu sangat bangga padamu, dan ibu sangat beruntung memiliki Putra sepertimu, tetapi Ibu benar-benar cemas Ketika harus mengatakan padamu tentang masalah yang benar-benar berat yang dihadapi oleh ibu," kata Melisa masih berusaha membujuk putranya agar pria kecil itu melupakan pembahasan mereka.
__ADS_1
Tetapi Fernando menggelengkan kepalanya, "tidak! Aku bilang aku tidak mau lagi melihat ibu menangis, jadi ibu harus membiarkanku mengetahui semuanya dan biarkan aku membantu ibu!!!" Tegas Fernando dengan wajah yang tampak memerah karena menahan amarahnya.
"Sayang,,," Melisa tidak tahu lagi harus berkata apa, dia benar-benar kalah setiap kali menghadapi putranya.
Sudah berkali-kali dia mengatakan pada putranya supaya tidak penasaran dengan masalah orang dewasa, tapi sepertinya terlalu sulit mengendalikan putranya.
"Kalau Ibu tidak mau berbicara, aku sendiri yang akan mencari tahunya!!" Tugas Fernando kini berdiri dan hendak pergi meninggalkan ibunya ketika Melisa dengan cepat menahan tubuh Perempuan itu dan menarik Fernando ke pelukannya.
"Maafkan ibu sayang, ibu akan menceritakannya sekarang, tapi kau tidak boleh memarahi ibu dan tidak boleh membenci ibu. Kau juga tidak boleh bertindak sesukamu tanpa persetujuan dari ibu. Apa kau mengerti?!" Tanya Melisa.
"Ya, aku mengerti!" Jawab Fernando dengan nada suara yang bersungguh-sungguh.
Melisa menjadi menyesal telah berjanji pada putranya, tetapi sekarang Dia tidak punya langkah untuk mundur sehingga Melisa pun akhirnya berkata, "Ayo ikut ibu ke kamar biar Ibu perlihatkan sesuatu padamu."
Selah berbicara, Melisa kemudian membawa putranya ke kamarnya dengan langkahnya yang terasa begitu berat dan terlalu cemas untuk menceritakan segalanya pada Fernando.
__ADS_1
Sambil melangkah, Melisa memperhatikan raut wajah putranya yang mana Putra kecilnya tampak begitu serius dan bersemangat untuk mendapatkan kebenaran dari Melisa.
Hal itu membuat Melisa menghela nafas sambil terus melangkahkan kakinya dengan tangan menggenggam erat tangan Fernando.