
Pagi ini, Daren berangkat dari apartemennya menuju kantor, namun dalam perjalanan pria itu ditelepon oleh neneknya.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Ponsel Raka yang bergetar langsung membuat pria itu mengerutkan keningnya, dan dia benar-benar tidak mau mengangkat panggilan telepon dari neneknya karena dia tahu perempuan itu pasti akan membahas tentang seorang cucu menantu dan juga seorang cicit.
Maka Raka hanya mengabaikan panggilan telepon itu hingga setelah dua kali panggilan telepon tak terjawab, ponsel milik sopirnya layang berdering memperlihatkan nama pemanggil adalah nyonya rosmania.
Makassar sopir melihat Raka di kaca spion sambil berkata, "nyonya besar menelpon saya."
"Abaikan saja itu!" Perintah Raka.
Maka setelah mendapat perintah dari Raka, sang sopir pun tidak mengangkat panggilan telepon itu hingga akhirnya mereka tiba di kantor lalu Raka segera memasuki perusahaan.
__ADS_1
Begitu tiba di lantai tempat ruangannya berada, Raka mengeryit ketika ia melihat Dika dan Melisa sedang tertawa bersama-sama setelah kembali dari toilet.
"Ha ha ha... Kau menceritakan lelucon yang membuat sakit perut di pagi hari!!" Kata Melisa sambil memegangi perutnya dengan badan membungkuk Karena tidak tahan dengan tawanya.
Sementara Dika yang berdiri di samping Melisa, ia tertawa menatap perempuan itu, "ha ha ha.... Bukankah bagus memulai hari dengan tertawa? Semoga tawamu pagi ini menular sampai hari ini selesai!" Ucap Dika langsung membuat Melisa berusaha berdiri tegak sambil menatap pria yang bersama-sama dengannya.
"Baiklah, tapi aku rasa nanti malam otot-otot perutku akan terasa nyeri karena terlalu banyak digunakan!!" Ucap Melisa sebelum dia melangkahkan kakinya untuk lanjut kembali ke ruangannya ketika ia melihat Raka yang berdiri menatap ke arah mereka.
Mengikuti pandangan Melisa sehingga dia terdiam di tempatnya dengan perasaan andaikanlah tatapan yang begitu tajam yang diberikan Raka pada mereka.
Namun kedua orang itu bernafas legal ketika Raka hanya beberapa detik saja menatap mereka sebelum pria itu pergi ke ruangannya.
Ketika Melisa tiba di ruangannya, Melisa segera duduk di meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya namun beberapa saat kemudian ponsel yang diletakkan Melisa di sampingnya kini berdering.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
__ADS_1
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Melihat sebuah nomor baru yang menelepon nya, maka Melisa menjadi agak ragu untuk mengangkatnya, tetapi karena merasa cemas nomor tersebut mungkin ingin menyampaikan sesuatu yang penting, maka Melisa Akhirnya menganggarkan panggilan telepon tersebut setelah beberapa saat terdiam.
"Halo," ucap Melisa pada orang di seberang telepon dengan tatapannya yang tertuju ke layar komputernya.
"Kau memblokir nomorku?! Kau pikir jika melakukan nya maka kau bisa terbebas dariku?!" Teriak pria dari seberang telepon langsung membuat wajah Melisa menjadi sangat tegang, ia tak menyangka bahwa Daren tidak akan pernah berhenti mengejarnya.
Melisa mengepal kuat tangannya sambil berkata, "Kalau kau masih mau hidup sampai semua rambutmu menjadi putih, maka jangan menyentuh keluargaku, terutama anakku! Ini bukan sekedar ucapan omong kosong saja, jadi sebaiknya kau berhati-hati dengan tindakanmu!!"
Setelah berbicara, Melisa langsung menutup panggilan telepon itu lalu meletakkan ponselnya dalam perasaan kesannya.
"Dasar pria sialan!" Gerutu Melisa sebelum dia menenangkan dirinya sendiri lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Sementara Raka yang berada di ruangannya yang melihat adegan tersebut dan mendengarkan percakapan Melissa, ia mengerutkan keinginan dan merasa penasaran tentang siapa yang telah menelpon Melisa.
__ADS_1
Pria itu memandangi layar komputernya yang memperlihatkan tangkapan kamera yang ia pasang di ruangan Melissa secara diam-diam, "seseorang mencoba mengancamnya?" Ucap Raka segera melakukan zoom pada video yang ada di layar komputernya, tetapi karena penempatan CCTV yang berada dari depan, maka dia tidak bisa melihat nomor ponsel yang menghubungi Melissa.
Maka Raka dengan cepat mengambil ponselnya lalu kembali menghubungi seseorang, "dapatkan 2 tambahan kamera!!" Perintah rakaat pada orang di seberang telepon sebelum Dia memutuskan panggilan telepon itu dengan rasa penasarannya.