
Raka terdiam beberapa saat menatap Melisa sebelum pria itu berkata, "kau,, Apakah kau sudah memaafkanku? aku butuh jawaban itu."
Melisa sangat terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Raka, tetapi perempuan itu juga mengerti bahwa Raka sangat ingin mendapatkan kata maaf darinya sehingga Melisa menganggukkan kepalanya.
"Kalau aku tidak memaafkanmu, aku tidak akan menyusulmu sampai ke sini, aku sangat cemas setiap hari karena takut kau tidak akan bangun lagi dari tidurmu, tetapi untunglah hari ini kau sudah kembali. Aku harap kedepannya kita bisa menjadi teman dan menjadi orang tua yang baik untuk Fernando," ucap Melisa.
Raka memperlihatkan wajah yang datarnya setelah mendengar ucapan Melissa, ia tidak puas dengan jawaban perempuan itu, karena kata 'teman' yang dikatakan oleh Melisa membuatnya sangat terganggu.
"Apakah kau tidak mau merubah status teman? Tidak Bisakah kita lebih dari itu?" tanya Raka sambil mengulurkan tangannya dengan susah payah meraih tangan Melisa dan menggenggam tangan Melisa.
Melisa tertegun menatap pria yang terbaring di atas tempat tidur, perempuan itu merasakan jantungnya terus berdegup amat kencang, tetapi bibirnya begitu sulit untuk menjawab pertanyaan pria itu seakan-akan ada gejolak perasaan yang saling bertabrakan di dalam hatinya.
Melihat Melisa yang hanya terdiam, maka Raka pun mengerti hingga pria itu menganggukkan kepalanya, "aku mengerti, begini saja sudah cukup untukku," ucap Raka sambil melepaskan pegangannya pada tangan Melisa lalu Raka memejamkan matanya sebagai pertanda bahwa dia telah mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
Ada rasa kecewa dalam hati Melisa melihat Raka yang mengabaikannya, tetapi perempuan itu juga tidak mengatakan apapun dan dia hanya berdiri lalu pergi ke dapur untuk memeriksa bubur yang sedang ia masak di rice cooker.
'Ada apa denganku? Kenapa hatiku sangat tidak tenang?' ucap Melisa dalam hati sambil duduk di dapur memandangi rice cooker yang masih memperlihatkan lampu berwarna merah yang menandakan kalau masakan Melisa belum jadi.
Perempuan itu duduk dengan tidak tenang selama beberapa saat sampai lampu rice cooker berubah menjadi kuning barulah Melisa kemudian mengambil mangkok dan menyediakan makanan untuk Raka.
Setelah itu, Melisa pergi menuju ranjang Raka dan melihat Raka sementara berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
"Aku menyiapkan bubur untukmu," ucap Melisa sambil duduk di samping ranjang Raka untuk membantu pria itu makan.
Jadi lebih baik menghindari Melisa daripada dia harus melukai perempuan itu dan membuat Melisa kembali menjauhinya.
"Kau tidak mau ku suapi?" tanya Melisa sambil menatap Raka.
__ADS_1
"Aku jauh lebih nyaman kalau perawat yang melakukannya," ucap Raka langsung membuat Melisa menganggukkan kepalanya sambil meletakkan makanan di atas meja lalu perempuan itu segera keluar dari kamar.
Melisa berjalan menuju area istirahat perawat sambil mengepal kuat tangannya, dan saat ini hatinya benar-benar tidak tenang seakan akan hatinya sedang di porak-porandakan oleh sesuatu yang begitu jahat.
Meski begitu, Melisa tetap berusaha menahan diri sampai akhirnya ia tiba di ruang istirahat para perawat.
"Maaf, pasien di kamar nomor 7 membutuhkan bantuan kalian," ucap Melisa.
"Pasien kamar nomor 7?" ucap salah seorang perawat yang berbicara dengan mata berbinar-binarnya.
"Biar aku yang melayaninya!!" ucap perawat yang lain sambil berdiri untuk pergi bersama Melisa ketika perawat yang lainnya datang menghentikannya.
"Dia itu seorang CEO, jadi dia lebih membutuhkan perawat senior sepertiku, biar aku yang pergi!!!" tugas perawat yang lain sebelum dia langsung mengikuti Melisa.
__ADS_1
Berjalan kembali ke kamar nomor 7 sambil berlomba-lomba untuk melayani Raka.
Meski begitu tidak mengatakan apapun dan dia hanya menahan perasaannya dalam hati supaya tak diketahui oleh orang lain.