Satu Malam Dengan Pria Asing

Satu Malam Dengan Pria Asing
70


__ADS_3

Daren berdiri di pinggir kapal Sambil memandangi sebuah penyu yang mendekat ke arah kapal yang ditempati oleh Darren.


Di samping kiri kanan Daren ada 10 orang yang memegang senjata menatap ke arah penyu yang semakin mendekat.


Setelah penyu tersebut Kini tiba di kapal yang ditempati oleh Darren, maka raka dengan mematikan mesin penyu itu lalu mengikatkan tali penyunya ke kapal yang ditempati oleh Darren sebelum dia berdiri menatap Darren.


"Di mana uangku?!" Tanya Daren sambil menatap tajam pada Raka.


"Kau sudah mendapatkan fotonya, sekarang perlihatkan padaku di mana Putraku!!" Ucap Raka langsung membuat dareng tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha....! Aku mau melihat uangku lebih dulu! Dan kalau kau tidak menurut, maka anak kecil itu akan berada dalam bahaya!!" Ucap Daren langsung membuat Raka menggertakan giginya karena dia tidak mau membahayakan keselamatan Fernando.


Maka Raka dengan cepat mengambil koper berisi uang lalu membawanya samping penyu dan membukanya untuk diperlihatkan pada Daren.


Setelah itu, Raka kembali menatap Daren, "Sekarang di mana Putraku?" Tanya Raka.


"Bagus, itu benar-benar uang cash, tapi apakah jumlahnya benar 2 miliar?" Tanya Daren Sambil memandangi uang cash yang ada di dalam koper yang tidak diikat dan tidak dibungkus dengan plastik, namun dihamburkan saja seperti itu.


Raka tersenyum konyol dengan pertanyaan daren, "tentu saja 2 miliar, kau bisa melihat seluruh isi koper ini adalah uang!!" Tegas Raka.


"Aku juga ingin melihat keasliannya!" Ucap daren yang tentunya tidak mau Jika ia dibohongi oleh Raka dengan memberikan uang palsu.


Mendengar ucapan Daren, maka Raka dengan cepat mengambil beberapa lembar uang dalam koper lalu menyerahkannya pada seorang pria yang ditugaskan Daren untuk mengambil uang tersebut.


"Setelah itu, Daren bersama rekan-rekannya memeriksa keaslian uang itu sebelum Daren mengganggukan kepalanya dengan puas lalu memberi kode pada salah satu bawahannya agar mengambil koper besar yang tadi ia bawa dari apartemen.


Setelah itu, koper tersebut diberikan pada Daren hingga Daren memegang koper tersebut sambil tersenyum, "putramu ada di dalam koper ini. Aku akan melemparkannya padamu dan lemparkan juga koper uang itu padaku!" Perintah darrent langsung membuat Raka menggertakan giginya karena tak menyangka bahwa Fernando akan dimasukkan ke dalam koper.


Meski begitu, Raka tidak begitu bodoh untuk langsung mengikuti perintah Daren, tetapi pria itu berkata, "Aku ingin memastikan bahwa yang ada di dalam koper itu benar-benar anakku!!"


"Dasar!!" Daren tertawa sambil mengulurkan tangannya membuka sedikit koper tersebut sehingga memperlihatkan sebuah wajah pria kecil yang tampak menangis dalam koper.


Meski Raka hanya bisa melihat mata putranya, tapi pria itu langsung mengenali mata Fernando sehingga Raka tidak membuang-buang waktu dan segera membereskan koper berisi uang.


Setelah itu, Raka melemparkan kopernya ke atas kapal milik Daren bersamaan dengan Daren yang langsung mendorong koper berisi Fernando ke arah Raka.


Melihat itu, maka Raka dengan cepat minimang koper tersebut, tetapi karena terlalu berat maka koper itu terjatuh ke dalam laut bersamaan dengan Raka yang juga terjatuh ke dalam laut menyelamatkan putranya.


Dare yang tersenyum melihat Raka yang berusaha menyelamatkan Fernando, iya tersenyum mengejek dengan kebodohan Raka, "kau benar-benar ayah yang baik, tapi sayang sekali hidup kalian sampai di sini saja!!" Ucap Daren seraya memberi kode pada orang-orang yang bersamanya agar menembaki Raka dan Fernando.


Dor dor dor...


Raka sangat terkejut dengan suara tembakan yang diarahkan pada mereka, hingga pria itu dengan cepat memutari kapal dengan tangannya menarik koper berisi putranya.


Tetapi sayang sekali ketika ia sedang berenang, kaki kirinya terkena tembakan hingga membuat darah keluar dan menyatu dengan air laut.


Meski begitu, Raka tidak terlalu lama memperdulikan masalah kakinya yang tertembak dan dia hanya terus berenang untuk menyelamatkan putranya.


Dor dor dor...


Suara tembakan masih terus berbunyi hingga membuat Raka semakin mempercepat berenangnya.


Sayangnya, tubuhnya harus terkena tembakan lagi bagian belakang, tetapi Raka tidak memperdulikannya dan ia masih terus memaksakan diri untuk berenang sambil menarik koper berisi putranya.


Pria itu bersembunyi di bagian bawah kapal hingga membuat daren menggertakkan giginya.


"Lajukan kapalnya! Dan tabrak mereka!!" Perintah darren langsung membuat seorang pria yang ada di sana dengan cepat pergi ke arah kemudi kapal untuk menjalankan kapalnya.


Sementara Daren, ia berdiri sambil melihat ke bagian bawah kapal untuk mencari keberadaan Raka, Tetapi dia tidak menemukan pria itu karena Raka sudah bersembunyi sambil mengeluarkan putranya dari dalam koper dan melihat Fernando terikat di bagian tangan dan kaki serta mulutnya di bekap.


Maka Raka dengan cepat melepaskan selotip yang menutup mulut putranya, "kau bisa berenang?" Tanya Raka.


"Iya," jawab Fernando langsung membuat Raka cepat-cepat melepaskan tali pada tangan dan kaki putranya.


Setelah talinya terlepas, Raka pun bernafas dengan lega melihat putranya sambil mengabaikan sebelah kakinya yang mati rasa Karena tertembak di bagian paha.


Tetapi ketika mereka baru bernafas lega, saat itu tiba-tiba saja sebuah dorongan dari belakang langsung membuat Raka berbalik dan mendapati bahwa kapal mulai melaju untuk menabrak mereka.


Sementara itu, mereka tidak bisa berpindah ke samping kapal karena hal itu akan membuat mereka dengan cepat ditembak oleh Darren sebab tidak ada cekungan di bagian samping kapal.


Maka Raka pun dengan cepat berenang mengikuti Fernando yang juga sudah berenang menjauhi kapal hingga tangannya ikut ditarik oleh Fernando meski tarikan Fernando tidaklah berarti apa-apa untuk tubuh Raka yang jauh lebih besar dari tubuh Fernando.


Selain itu, kaki Raka yang tertembak juga menyulitkan neraka untuk berenang lebih cepat lagi, bahkan belakangan juga terasa begitu sakit setiap kali ia bergerak, Tetapi dia masih tetap memaksakan diri untuk terus berenang bersama putranya.


Beberapa saat kemudian Ketika Raka sudah tidak sanggup lagi untuk terus berenang, untungnya ada seorang pria yang muncul dari dalam laut sambil membawa sebuah motor dan langsung menarik kedua orang itu ke atas motor selam sebelum kembali menyelam ke dalam laut.


Sedangkan di atas kapal yang sudah melaju, Daren berdiri sambil melihat ke bawah kapal untuk menemukan Raka dan Fernando kalau-kalau kedua orang itu muncul ke permukaan air.


Tetapi bukannya Raka dan Fernando yang muncul ke permukaan air, malah ada sekelompok pria yang menggunakan motor selam air yang muncul ke atas permukaan air dan menembaki mereka.


Dor dor dor.....


Suara tembakan itu langsung membuat Daren terjatuh lalu dia pun menarik koper miliknya ke dalam bangunan kapal untuk melindungi diri.


Sementara para pria lain yang disewa oleh Darren, Mereka pun kembali menembaki para pria yang menembak dari laut, tetapi ketika prara pria itu ditembaki, mereka semua langsung masuk ke dalam laut menggunakan motor selam mereka dan menghilang entah di mana sebelum muncul secara tiba-tiba dan kembali menembak ke arah kapal.


Dor dor dor...

__ADS_1


Suara tembakan terus terdengar di tengah laut dan satu persatu dari para pria yang bersama-sama dengan Daren di atas kapal kini telah tertembak dan terluka.


Daren yang melihat itu menjadi semakin panik sehingga dia dengan cepat keluar mengambil ponselnya untuk meminta bantuan, namun saat itu ternyata sinyal tidak ada sinyal hingga membuat Daren semakin marah.


Sementara di bawah laut, saat ini Raka dan Fernando sudah muncul lagi ke atas permukaan laut untuk mengambil nafas.


Lalu Raka pun melihat salah seorang pria yang berada tak jauh dari mereka sambil memegang senjata, "hancurkan kapal ini dan tenggelamkan mereka!!!" Perintah Raka langsung membuat sang pria menganggukkan kepala sebelum dia menggunakan sebuah senjata yang jauh lebih besar yang diarahkan ke arah lambung kapal.


Duar!!!


Tembakan tersebut membuang lambung kapal langsung bocor sehingga air perlahan masuk ke dalam kapal.


Duar!!


Duar!!


Tembakan yang lain terus menyusul, tetapi menghindari bagian mesin kapal karena tidak ingin kapal tersebut terbakar dan menarik perhatian penjaga pantai.


Bahkan senjata yang mereka gunakan juga sengaja menggunakan peredam suara khusus agar suaranya tidak terdengar terlalu jauh.


Fernando memperhatikan Bagaimana kapal itu secara pelan-pelan tenggelam sebelum dia menoleh ke arah pria yang bersama-sama dengannya.


Tetapi wajah Fernando langsung terkejut ketika ia melihat wajah ayahnya sudah sangat pucat dan perlahan-lahan pegangan pria itu melemah sebelum terjatuh ke dalam laut.


"Ayah!!" Teriak Fernando ikut menjatuhkan tubuhnya dari atas motor dan memegangi tubuh ayahnya yang tenggelam ke dalam laut.


Para pria yang ada di sana juga sangat terkejut sehingga mereka pun langsung turun dari motor dan membantu Fernando mengamankan Raka sebelum melajukan motor mereka meninggalkan tempat itu.


Fernando dan Raka terus berada pada motor yang berbeda hingga Fernando terus melirik ke arah ayahnya yang ada di motor lain.


Wajah pria itu tampak sangat takut melihat Fernando yang terus tak sadarkan diri dan dara dari paha pria itu terus keluar bercampur dengan air laut yang asin.


Fernando menahan ketakutannya selama beberapa menit sampai mereka tiba di sebuah kapal besar yang memang disiapkan untuk menjadi kapal penyelamat mereka.


Begitu tiba di kapal, Raka langsung ditangani oleh dokter dan dibawa ke ruang khusus yang merupakan ruang medis di kapal tersebut.


Sementara Fernando, ia dibawa oleh seorang perempuan yang bertugas untuk mengganti pakaian Raka.


Situasi di kapal tersebut sangat tegang karena Raka yang mengalami keadaan kritis.


Bahkan Fernando yang selesai mandi dan kini menggunakan pakaiannya, pria kecil itu terburu-buru keluar dari kamar dan menatap pelayan dengan tatapan tajam.


Sang pelayan yang ditatap tajam merasa bingung dengan tatapan Fernando, tetapi pelayan tersebut dengan ramah berkata, "Silakan ikuti saya, makanan untuk,, tuan muda mau kemana?"


Pelayan langsung mengejar Fernando yang berlari menjauh darinya, dan Fernando terus berlari sambil memeriksa satu persatu ruangan untuk mencari keberadaan Raka.


Mata Fernando berkaca-kaca menatap para pelayan itu hingga membuat para pelayan kebingungan tentang apa yang diinginkan oleh Fernando.


"Coba katakan apa yang kau inginkan?" Tanya salah satu pelayan.


Fernando langsung memberikan bahasa isyarat pada para nelayan itu bahwa dia ingin bertemu dengan ayahnya yang terkena tembakan peluru ketika menyelamatkannya.


Salah seorang pelayan yang pandai berbahasa isyarat langsung mengetahui apa yang dimaksud oleh Fernando sehingga pelayan itu berkata, "Ayah mu sementara di operasi, tapi kalau kau mau melihatnya aku bisa mengantarmu ke sana."


Mendengar ucapan pelayan, maka Fernando pun menganggukkan kepalanya Lalu dia pergi bersama pelayan tersebut untuk menunggu Raka yang tengah dioperasi.


... ... ...


... ... ...


Melisa bersama kedua orang tuanya yang berada di kantor polisi kini duduk bertiga dalam perasaan yang begitu cemas.


Melisa terus memegang tangan ibunya sambil menggigit bibir bawahnya menunggu suara dering telepon antara ponsel Ibunya dan ayahnya Yang ditelepon untuk mendapatkan kabar.


Setelah 30 menit terus duduk, Melisa akhirnya tak tahan untuk terus diam sehingga Melisa berkata, "Kenapa mereka belum menghubungi kita? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"


Novia menatap putrinya, "tenanglah, ini baru 30 menit, kita mungkin akan mendapat informasi dalam satu jam lagi. Sekarang yang paling penting adalah berdoa!" Tegas Novia yang se dari tadi bibirnya terus komat-kamit memanjatkan doa pada sang pencipta agar melindungi Raka dan juga cucunya.


Melisa yang mendengarkan ucapan ibunya kini kembali terdiam, tetapi perempuan itu benar-benar cemas apalagi ketika dia mengingat bom yang diletakkan di bawah mobil samping tempat mereka memarkirkan mobil.


Hal itu memindahkan bahwa Daren ingin membunuh mereka semua hingga membuat Melisa cemas bahwa Raka dan Fernando mungkin akan dibunuh oleh Darren.


Meski Melisa sangat cemas ko mati tapi perempuan itu tak punya pilihan lain selain terus diam sampai akhirnya ponsel Hardi tiba-tiba saja berdering hingga Melisa dan Novia langsung menoleh ke arah Hardi.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


"Cepat angkat teleponnya Ayah!!" Tegas Melisa yang sudah tidak sabaran untuk mendapatkan kabar.


Hardi pun melihat layar ponselnya yang memperlihatkan sebuah nomor tak dikenal yang menelpon hingga Hardi dengan cepat mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo," ucap Hardi pada pria di seberang telepon sambil memasukkan panggilan telepon tersebut dalam mode speaker.


Pria dari seberang telepon berkata, "Ada kabar Baik perusahaan pria bernama Raka kini mengalami penurunan saham, ada penurunan sampai 11 poin dan--"


Tut tut tut....

__ADS_1


Panggilan telepon itu langsung di-reject oleh Hardi, karena dia memang menegaskan seorang pria untuk melaporkan padanya segala sesuatu yang terjadi pada perusahaan Raka.


"Ayah mereject-nya supaya kalau ada kabar dari Raka, nanti teleponnya langsung masuk," ucap Hardi yang bisa melihat bagaimana tatapan putrinya ditujukan padanya.


Melisa pun tidak mengatakan apa-apa lagi, namun saat ini dia kembali teringat akan percakapan Raka dengan neneknya ketika mereka berada di restoran.


Meski begitu, Melisa tidak terlalu lama memikirkannya karena telepon Hardi kembali lagi berdering.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Panggilan telepon yang berasal dari sebuah nomor anonim langsung membuat Hardi mengangkat panggilan telepon tersebut dan memasukkannya ke mode speaker.


"Kakek!! Kami ada di rumah sakit xx!!" Suara Fernando dari seberang telepon langsung membuat Melisa meneteskan air matanya dan dengan cepat mengulurkan tangannya merebut ponsel dari tangan ayahnya.


"Sayang,, sayang,, ini kau putraku?" Tanya Melisa sambil terisak karena begitu bahagia mendengar suara putranya.


"Iya Bu, datanglah kemari," ucap Fernando dari seberang telepon langsung membuat Melisa kembali terisak dengan sangat keras sambil berpelukan dengan ibunya.


"Hiks, hiks, putraku,,, Apa kau baik-baik saja?" Tanya Melisa dengan suara serak dan gemetar.


"Iya, cepatlah kemari," jawab Fernando langsung membuat Melisa menganggukkan kepalanya.


"Ya, ya,, ya sayang,, kami segera ke situ!" Ucap Melisa sambil berdiri lalu Ketiga orang itu segera keluar dari kantor polisi.


Sambil berjalan, Melisa hendak berbicara lagi pada putranya ketika panggilan telepon itu telah diakhiri hingga membuat Melisa menatap layar ponselnya dengan mata berair.


"Kenapa dia mematikan teleponnya?" Ucap Melisa yang belum puas berbicara dengan putranya sehingga dia mencoba untuk menelpon kembali nomor yang tadi digunakan oleh Fernando untuk meneleponnya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Saat panggilan telepon terhubung, taksi yang ditahan oleh Hardi sudah berhenti di depan mereka hingga Melisa pun langsung naik ke taksi dengan fokusnya terus tertuju pada panggilan telepon yang belum diangkat.


Beberapa saat kemudian, seorang perempuan menjawab Melisa, "halo."


"Ini,, pria kecil yang tadi menelponku, dia adalah Putraku, Tolong berikan ponselnya padanya," ucap Melisa dengan suara yang masih begitu serak.


"Maaf, Dia sudah pergi, tadi dia hanya meminjam ponsel ini sebentar saja," jawab perempuan dari seberang telepon langsung membuat Melisa terdiam selama beberapa saat.


"Ah,, Terima kasih sudah meminjamkan ponsel untuk putraku, terima kasih banyak,," kata Melisa sambil terus meneteskan air matanya.


Sementara Novia yang sedari tadi memeluk putrinya, perempuan itu juga merasa begitu senang, "kabar baik akhirnya datang," ucap Novia dalam perasaan bahagianya.


Maka Ketiga orang itu terus berada dalam rasa bersemangat mereka sampai akhirnya mobil berhenti di rumah sakit xx lalu mereka dengan cepat memasuki rumah sakit.


Ketiganya kebingungan harus bagaimana, tetapi ketika seorang pria kecil berlari menghampiri mereka, Melisa pun langsung menyambut pria kecil itu ke pelukannya.


"Putraku,, hiks, hiks,, hiks,," Melisa memeluk Fernando sambil terisak.


Novia dan Hardy pun memeluk 2 orang itu dengan perasaan haru mereka karena akhirnya anggota keluarga mereka yang paling disayangi sudah kembali dan keluarga mereka menjadi lengkap.


4 orang itu berpelukan cukup lama sampai akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka selalu Ketiga orang dewasa yang ada di sana langsung fokus menatap Fernando.


"Putraku tampak pucat, Apakah kau makan dengan benar?" Tanya Melisa.


Melihat ibunya yang terus meneteskan air matanya, maka Fernando mengulurkan dua tangan kecilnya menyeka air mata ibunya.


"Ibu jangan menangis, aku baik-baik saja tapi paman Raka terluka," kata Fernando langsung membuat semua orang teringat akan Raka.


Dari tadi tidak ada satupun diantara mereka yang ingat pada Raka karena mereka semua terfokus pada Fernando hingga sekarang ketika Fernando mengatakan terjadi sesuatu yang buruk pada Raka, maka ketiganya pun dengan serius menatap Fernando.


"Ada apa dengan Raka?" Tanya Hardi.


"Dia ada di IGD," jawab Fernando langsung membuat Hardi dengan cepat meraih tubuh Fernando lalu membawa pria kecil itu menuju IGD.


Novia dan Melisa pun mengikuti Hardi hingga mereka tiba di depan IGD dan hanya bisa melihat pintu IGD yang tertutup.


Maka Hardi langsung menurunkan cucunya dari gendongannya, "kalian tunggu di sini sebentar," ucap Hardi sebelum pria itu pergi untuk menemui salah seorang kenalannya di rumah sakit xx agar mereka bisa mendapat informasi tentang keadaan Raka.


Sementara Fernando yang sudah duduk di tengah-tengah Novia dan Melissa, pria kecil itu terus dipeluk oleh Melisa.


"Apa kau tahu apa yang terjadi hingga ayahmu sampai terluka?" Tanya Melisa langsung membuat Fernando menatap ibunya dengan intens.


Fokus pria kecil itu tertuju pada kata ayah yang diucapkan oleh ibunya, Padahal tadi dia mengatakan Paman mereka karena merasa cemas ibunya mungkin akan marah kalau dia menyebut Raka sebagai ayah.


Melihat putranya yang terkejut dan terdiam memandanginya, maka Melisa merasa bingung sehingga perempuan itu kembali berkata, "ada apa sayang?"


"Ayah tertembak di laut saat dia melindungiku," jawab Fernando dengan nada suara yang peleslan.


"A,, apa?!"


"Apa?!"


Novia dan Melisa sangat terkejut mendengarkan ucapan Fernando hingga keduanya termangap dalam keterkejutan mereka.

__ADS_1


__ADS_2